Selasa, 22 November 2011

(Part 2) Karya Tulis Ilmiah XII - SMA

selamat belajar ^^
no copast ; ) arrasso?? ^^



TELEVISI SEBAGAI PENYEBAB PENYIMPANGAN AKHLAK REMAJA ISLAM KELAS XI IPA SMA NEGERI 3 MAKASSAR

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun dan diajukan sebagai tugas akhir
 Mata Pelajaran Kewarganegaraan


ABSTRAK

mee. “Televisi Sebagai Penyebab Penyimpangan Akhlak Remaja Islam Kelas XI IPA SMA Negeri 3 Makassar”.

Telah dilaksanakan penelitian di SMA Negeri 3 Makassar. Penelitian ini termasuk dalam jenis deskriptif dan bertujuan untukk mengetahui Penyimpangan – penyimpangan akhlak yang melanda remaja Islam kelas XI IPA  SMA Negeri 3 Makassar akibat televisi, penyebab penyimpangannya, dan solusi mengatasinya. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 3 Makassar dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik Multiple Stage Sampling dengan cara equal probability. Penelitian ini menggunakan quisioner sebagai instrumen penelitian yang disebarkan sebanyak 30 rangkap dan masing-masing berisi 30 pertanyaaan mengenai penyimpangan – penyimpangan akhlak yang melanda remaja Islam kelas XI IPA  SMA Negeri 3 Makassar akibat televisi, penyebab penyimpangannya, dan solusi mengatasinya. Hasil persentase perolehan skor pada penyimpangan-penyimpangan akhlak yang dilakukan oleh remaja Islam kelas XI IPA SMA Negeri 3 Makassar adalah 66,27%, yang termasuk dalam kategori tinggi (61 – 80%).  Penyimpangan akhlak yang kebanyakan terjadi pada remaja Islam tersebut  yaitu, malas belajar dengan total skor 47 dan sering mengkhayal dengan 49. Sedangkan pada penyebab penyimpangan akhlak remaja memiliki persentase sebesar 86,3%, yang termasuk dalam kategori sangat tinggi (81 – 100%).  Penyebab penyimpangan akhlak remaja Islam kebanyakan disebabkan oleh kurangnya pendidikan agama yang dimiliki dengan  skor 53, dan ketidakselektifan dalam memilih tayangan untuk ditonton  dengan skor 58. Dan solusi untuk mengatasi penyimpangan akhlak remaja Islam karena televisi memiliki persentase sebesar 90,7%,  yang masuk dalam kategori sangat tinggi (81 – 100%). Solusi terhadap masalah penyimpangan akhlak remaja Islam yang paling banyak  digunakan adalah peran orang tua sebagai pembimbing spiritual yang mampu mengarahkan dan memberikan contoh tauladan agar akhlak  remaja Islam tidak menyimpang dengan jumlah skor 57.










BAB I
P E N D A H U L U A N

A.                Latar Belakang
Tidak dapat dimunafikan efek globalisasi tengah melanda penduduk di dunia. Prosesnya pun tidak dapat dicegah maupun dihindari. Globalisasi tidak hanya melahirkan efek positif namun juga efek negatif, diantaranya menyebabkan perubahan akhlak bagi remaja dunia, khususnya remaja Islam.
Kejadian ini sangatlah memprihatinkan mengingat remaja saat ini adalah generasi penerus bangsa yang apabila hari ini telah rusak, entah apa yang akan terjadi nantinya. Masih dapat berubah menjadi lebih baik akhlaknya atau malah sebaliknya, yang justru akan mengakibatkan kehancuran bagi negeri ini. Akhlak sangat berkaitan dengan pola pikir, sikap hidup dan perilaku manusia. Keburukan akhlak sangat berpotensi memicu timbulnya perilakuperilaku negatif. Jika akhlak dari seseorang individu buruk, maka sangat mungkin ia akan melahirkan berbagai perilaku yang dampaknya dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Karena akhir-akhir ini, kita dapat melihat bagaimana  akhlak pejabat-pejabat negara yang mestinya menjadi teladan dan memegang amanah rakyat justru telah melakukan korupsi, dan berbagai hal tercela lainnya. Walaupun tidak semua pejabat negeri kita seperti itu. Tidak dapat dibantahkan jika penyebab hal tersebut terjadi karena telah menjadi kebiasaan yang telah mengakar sejak mereka remaja.
Remaja mengenal  budaya luar dapat dari berbagai media. Salah satu media globalisasi yang mungkin setiap remaja memilikinya, dan setiap  hari pula digunakannya adalah televisi. Sebagai media globalisasi, banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh para konsumen. Namun, tidak sedikit pula dampak negatif yang disadari atau tidak telah menimbulkan penyimpangan-penyimpangan kepada para remaja Islam.
Penyimpangan-penyimpangan akibat globalisasi secara tidak langsung mengakibatkan akhlak remaja Islam jauh dari agamanya, jauh dari Tuhan-Nya.  Dampak negatif dapat diperhatikan dari akhlaknya.
Sering kita dengar begitu banyak yang mengeluhkan akhlak remaja saat ini. Mulai dari para remaja sendiri, orang tua, guru, dan masyarakat luas. Mereka mengeluhakn cara berbicara, cara berpakaian, sikap kepada yang lebih tua ataupun sebaliknya, dan lain-lain yang sudah terlalu jauh berubah dan meyerupai apa yang sering mereka lihat di televisi-televisi mereka.
Tentu ada alasan yang menyebabkan para remaja Islam kita berperilaku demikian. Melalui televisi  mereka menemukan banyak tokoh-tokoh yang mereka idolakan yang tidak sesuai dengan tuntutan agama Islam dan secara tidak sadar mereka pun ikut berperilaku seperti tokoh tersebut.
Efek globalisasi ini tak dapat dibiarkan begitu saja. Karena akan berkembang menjadi jauh lebih rusak dari hari ini. Jika kita melihat dari tujuannya, pendidikan Islam memiliki tujuan yang berkaitan dengan pembinaan akhlak dan tujuan hidup setiap muslim. Athiyah Al-Abrasyi misalnya mengatakan “pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam” mencapai akhlak yang mulia adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam (Abuddin Nata, 2007: 129). Sementara itu Imam al-Ghazali, mengatakan bahwa akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan yang sungguh-sungguh sehingga harus dibentuk (Abuddin Nata, 2007: 154). Dan tujuan utama pendidikan Islam identik dengan tujuan hidup setiap muslim yaitu untuk menjadi hamba Allah yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya (D. Marimba, 1980: 48).
Sejalan dengan masalah tersebut diatas, maka pembinaan akhlak bagi para remaja sangat urgent untuk dilakukan dan tidak dapat dipandang ringan, mengingat secara psikologis usia remaja adalah usia yang berada dalam goncangan dan mudah terpengaruh sebagai akibat dari keadaan dirinya yang masih belum memiliki bekal pengetahuan, mental, dan pengalaman yang cukup. Akibat dari keadaan yang demikian, para remaja mudah sekali terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan yang dapat menghancurkan masa depannya. Pembinaan akhlak yang mulia merupakan inti ajaran Islam. Fazlur Rahman mengatakan, bahwa inti ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an adalah akhlak yang betumpu keimanan kepada Allah (hablum minallah) dan keadilan sosial (hablum minannas). Hal ini sejalan pula dengan jawaban istri Rasulullah saw, Siti Aisyah, ketika ia ditanya oleh sahabat tentang akhlak Rasulullah. Siti Aisyah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an (Kaana khuluquhu Al-Qur’an). Oleh karena itu jika di dalam al-Qur’an terdapat ajaran keimanan, ibadah, sejarah dan sebagainya, maka yang dituju adalah agar dengan ajaran tersebut akan terbentuk akhlak yang mulia. Dengan membina akhlak para remaja berarti kita telah memberikan sumbangan yang besar bagi penyiapan masa depan bangsa yang lebih baik. Sebaliknya jika kita membiarkan para remaja terjerumus ke dalam perbuatan yang tersesat, berarti kita telah membiarkan bangsa dan negara ini terjerumus kejurang kehancuran.
Pembinaan akhlak para remaja juga berguna bagi remaja yang bersangkutan, karena dengan cara demikian masa depan kehidupan mereka akan penuh harapan yang menjanjikan. Dengan terbinanya akhlak para remaja keadaan lingkungan sosial juga semakin baik, aman, tertib dan tentram, yang memungkinkan masyarakat akan merasa nyaman.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis ingin mengadakan penelitian terhadap remaja Islam yang saat ini tak dapat dipisahkan lagi terhadap televisi. Yang mengakibatkan perubahan akhlak remaja Islam yang telah jauh dari Al-Qur’an dan justru dekat dengan budaya luar yang bagai sihir telah merubah akhlak remaja Islam kita.

B.                 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apa sajakah penyimpangan akhlak yang terjadi pada remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar yang disebabkan oleh televisi ?
2.      Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar mengalami penyimpangan akhlak?
3.      Apakah solusi yang dilakukan agar remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar tidak  mengalami penyimpangan akhlak?

C.                Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan tertentu. Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan akhlak yang terjadi pada remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar yang disebabkan oleh televisi.
2.      Untuk mengetahui  faktor-faktor  yang menjadi penyebab remaja Islam kelas XI IPA SMA Negeri 3 Makassar mengalami penyimpangan akhlak.
3.      Untuk mengetahui solusi yang dilakukan agar remaja Islam kelas XI IPA SMA Negeri 3 Makassar tidak mengalami penyimpangan akhlak.

D.                Manfaat Penelitian

1.      Masyarakat dapat mengetahui penyimpangan-penyimpangan akhlak yang terjadi pada remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar .
2.      Masyarakat dapat mengetahui faktor-faktor  yang menjadi penyebab remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar mengalami penyimpangan akhlak, dan menemukan solusi agar penyimpangan-penyimpangan tersebut tidak terjaid lagi pada generasi muslim.
3.      Menambah wawasan mengenai akhlak remaja Islam.
4.      Bagi guru, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan akhlak Islami siswanya.
5.      Bagi penulis sendiri, sebagai remaja Islam dan calon orang tua diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat efek negatif televisi.


















BAB II
T I N J A U A N  P U S T A K A  D A N  H I P O T E S I S

A.                Tinjauan Pustaka
1.      Identitas Remaja di Tengah Arus Global
Menurut bahasa, global ialah seluruhnya, menyeluruh. Sedangkan globalisasi ialah pengglobalan secara keseluruhan aspek kehidupan, perwujudan (peningkatan / perubahan) secara menyeluruh disegala aspek kehidupan. Kemudian membaca pengertian secara luas globalisasi adalah proses pertumbuhan begara-begara maju (Amerika, Eropa dan Jepang) melakukan ekspansi besar-besaran. Kemudian berusaha mendominasi dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer dan ekonomi.
Jadi dapat kami pahami bahwasanya maksud dari pendidikan Islam di era globalisasi ialah bagaimana pendidikan Islam itu mampu menghadapi perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan yang penuh dengan tantangan yang harus dihadapi dengan pendidikan yang lebih baik lagi.
Banyak remaja yang hidup dalam kemapaman sehingga mereka terlena dengan kondisi yang dialaminya sekarang. Sepertinya, hari ini tidak ada lagi tantangan hidup ke depan yang akan menuntut mereka lebih dari cukup. Keterlenaan terhadap keadaan minimalis seperti apa adanya inilah yang menjadi salah satu problem kehidupan remaja hari ini.
Tantangan hidup remaja dunia saat ini dan yang akan datang tiada lain, yakni globalisasi. Globalisasi merupakan fase ketika kita akan dihadapkan kepada sebuah kenyataan berupa kebudayaan baru (new culture), yaitu budaya dunia-bukan budaya Indonesia atau Amerika-. Di sana, tidak ada lagi batas- batas yang signifikan di antara satu negara dengan negara lain. Di zaman global tersebut, tidak ada batas-batas ideologi dan agama. Oleh karena itu, interaksi dan pergaulan para remaja pada abad global menjadi sangat terbuka atau tanpa batas.
Pada zaman globalisasi, remaja akan dihadapkan kepada sebuah realitas yang tidak ada sebelumnya. Pada fase ini, para remaja mulai mengenal berbagai jenis barang yang ada di belahan Bumi manapun, baik yang bermanfaat maupun yang ada di belahan bumi manapun, baik yang bermanfaat maupun yang paling membahayakan sekalipun. Dari yang wajib dikonsumsi hingga yang diharamkan oleh agama dan budaya.
Pada zaman globalisasi, remaja dunia yang kemudian disebut dengan knowledge society atau masyarakat (remaja) berpengetahuan. Siapa yang menguasai pengetahuan, dia yang menguasai dunia.
Sebagai mediasi, remaja global selalu menjadikan cyber technology untuk mempermudah urusan-urusannya. Dalam arti lain, cyber technology  telah dan akan selalu memengaruhi kultur sosial remaja, tidak bias tidak. Di sisi lain, kecepatan dalam berinteraksi dengan remaja dunia yang ada di belahan Bumi lain,  cepat atau lambat akan melahirkan transformasi budaya. Remaja global akan hidup di tengah-tengah keragaman budaya yang sangat plural. Remaja hari ini harus mampu menjaga identitasnya agar tidak tergusur oleh budaya yang tidak jelas arahnya.
Globalisasi yang tengah melanda dunia juga melahirkan sebuah budaya massa. Budaya massa adalah budaya popular yang diproduksi untuk pasar massal. Untuk menjual kepada khalayak konsumen yang pada umumnya kalangan remaja ini, dikembangkan formula budaya massa yang lembut dan standar karena dapat dibuat untuk menarik setiap remaja yang terbuka untuk dimanipulasi.
“…….Beberapa waktu lalu, ketika keluar dari sebuah studio TV saya menjumpai anak-anak yang keluar dari sesi acara tersebut, jarang yang berusia lebih dari 16 tahun, berpakaian seperti orang dewasa, dan sudah antri sebagai korban yang siap dieksploitasi”.(Dominic Strinati, 2004, 15).  Ini merupakan sebuah contoh yang secara gamblang menitikberatkan pada pasar konsumen besar yang sangat pasif  dan mudah dieksploitasi, yaitu pasar anak muda untuk pakaian, mode, dan musik.

2.      Efek Negatif  Televisi terhadap Remaja Islam
Remaja, pada pandangan dunia televisi menjadi salah satu sasaran yang amat menggoda. Remaja sebagai sosok yang paling agresif dalam merespon perkembangan zaman khususnya tayangan-tayangan televisi, kemudian dimanfaatkan, dan dibalikkan menjadi sosok objek yang menggiurkan. Dunia remaja memang secara psikologis merupakan masa dimana setiap insannya sedang dan selalu mencari dan serba ingin tahu. Keingintahuan ini ditarik pada wilayah dimana pencipta tayangan televisi memberikan suguhan-suguhan lewat sebuah rekayasa layar kaca-seolah olah menarik dan sedap dipandang mata.
Namun sayang, televisi tidak memberikan gambaran remaja yang komprehensif dan jujur. Keberadaan remaja yang selalu bergelimang harta, yang selalu konflik dengan teman, yang selalu menjadikan cinta dan pacaran sebagai menu kesehariannya, hidup, glamor dan cenderung negatif, sesungguhnya hanya terjadi pada segelintir orang.
Tayangan-tayangan buruk di TV setidaknya telah membawa pengaruh negatif sebagai berikut:
1.            Apatis
Tayangan-tayangan TV dewasa ini cenderung membuat remaja lebih mementingkan segala hal tentang dirinya sendiri ketimbang lingkungan sosialnya. TV mengajak mereka untuk memikirkan bagaimana penampilan mereka, bagaimana cara menarik perhatian lawan jenis, atau betapa bahagianya jadi selebritis. Hal-hal diluar itu seperti persoalan pendidikan ataupun lingkungan tidak menjadi prioritas, malah cenderung diabaikan.
2.         Korban Pencitraan
Wanita cantik harus putih dan langsing serta pria tampan harus berotot atau six packs merupakan satu dari sekian banyak contoh tentang dampak buruk TV dalam membentuk pencitraan dimata remaja. Alhasil para remaja rela melakukan apapun untuk mendapatkan predikat cantik atau tampan sesuai yang disuguhkan di TV, tanpa mempedulikan aspek lain yang lebih penting seperti kesehatan.
3.            Pasif dan Konsumtif
Baik terpaan iklan maupun tayangan TV telah begitu memanjakan penonton khususnya para remaja dengan kemampuan visual dan audionya. Semua ditampilkan dengan sangat menarik sehingga mereka tidak perlu berbuat apa-apa lagi selain duduk manis di depan TV. Hal ini tentu membuat para remaja menjadi pemalas dan tidak produktif.
4.            Mementingkan “kulit luar” Tanpa Esensi
Ketidakpedulian, kepercayaan pada citra semu, serta kemalasan yang dibentuk oleh televisi melalui tayangan-tayangan buruknya membawa para remaja menjadi pribadi yang lebih mementingkan tampilan luar. Dengan demikian mereka jadi sangat mudah menilai sesuatu sesuai dengan standar ciptaan program-program buruk di TV. Pengusaha sukses dianggap lebih patut dihargai ketimbang sopir atau pembantu rumah tangga yang setiap hari membantu mereka.
Sesengguhnya, masih banyak remaja yang jauh lebih beradab, yang serba sederhana dan layak dicontoh oleh kaum remaja yang lainnya.
Maraknya tayangan kekerasan melalui media televisi, baik dengan berita kriminal maupun dari sinetron-sinetron yang tidak mendidik, dianggap telah memberi dampak negatif kepada pemirsanya. Berbagai berita kriminal, dianggap justru menginspirasi dan mendorong makin maraknya tindakan kriminal lain di masyarakat. Sementara, tontonan yang mengandung unsur kekerasan, juga ditengarai mendorong orang berbuat yang sama.
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa pelaku kejahatan seperti pencurian, pembunuhan dan pemerkosaan mencontek kejahatan yang dilakukan sebelumnya. Salah satunya, melalui referensi dari tayangan tindak kriminalitas di televisi yang akhirnya membuat pola imitasi di masyarakat.
Menonton televisi dapat menyebabkan kecanduan sehingga banyak orang cenderung bermalas-malasan. Tayangan televisi juga dapat mendoktrin pemikiran penonton. Misalnya: doktrin produk perusahaan yang membuat orang cenderung konsumerisme dan doktrin gaul di kalangan remaja yang membuat remaja cenderung menirukan gaul ala televisi (berkaitan dengan bahasa, cara berpakaian, dan bersikap) yang negatif.
Tayangan televisi juga merupakan media peniruan dan penanaman nilai negatif, padahal anak-anak belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas. Beberapa tayangan anak-anak di televisi memberi pembenaran atas perilaku negatif seperti mencontek, mempertontonkan aib orang lain dan menipu. Belum lagi film-film kartun yang penuh dengan kemunculan bahasa kekerasan, seperti kata-kata goblok, enyahlah, dan sebagainya. Konsumtivisme anak-anak sekarang juga banyak dikaitkan dengan tayangan dan iklan di televisi.
Tayangan-tayangan sinetron import yang tidak layak dilihat oleh warga Indonesia yang masih tetap berkiblat pada adat ketimuran ini jelas membawa dampak negatif didalamnya. Khusus tentang telenovela itu sendiri sempat terjadi perbincangan umum yakni pro dan kontra, yang kontra atau tidak setuju dengan tayangan sinema-sinema import seperti ; telenovela tentu telah meneliti bahwa sesungguhnya dari segi moral sinetron lokal lebih bermoral, sebab kita sudah tahu sendiri budaya barat persis seperti yang tercermin dalam film-film dan sinema-sinema import, layaknya sebuah telenovela.
Dalam telenovela sendiri sering tergambar tentang kebebasan bergaul antara pria dan wanita, keberanian istri pada suami serta tidak adanya adab seorang anak terhadap orang tua, semua itu sedikit banyak mempengaruhi jalan pikiran remaja yang sedang gandrung-gandrungnya terhadap telenovela. Adapun mengenai film-film import yang sering disebut-sebut dengan sinema unggulan, sinema prima layar unggulan dan layar emas inipun sedikit banyak membawa dampak dari pada film-film yang bermotif kekerasan ini adalah pada kriminalitas remaja, sebab kriminalitas remaja, penodongan, perampokan dan yang sedang marak adalah tawuran antar pelajar, tidak mustahil di ilhami dari film-film import ini. Kedua macam kekerasan dan kriminalitas itu akhir-akhir ini semakin marak di negeri kita. Jadi sudah sepantasnya jika kita mencurigai adanya segi negatif yang teramat sangat dari film-film import yang ditayangkan di stasiun-stasiun televisi swasta kita, baik itu berupa telenovela maupun sinema-sinema lepas.
Postman menuliskan bahwa kini di AS rasa malu, harga diri, dan sejenisnya telah kehilangan makna dan nilai. Akibat mengenalkan masalah seksual secara mendadak dan terburu-buru kepada anak-anak dan remaja, dewasa ini Barat berhadapan dengan apa yang disebut sebagai "masa baligh dini". Penggunaan narkotika dan alkohol juga turut menembus dunia anak-anak dan remaja di Barat lewat propaganda televisi. Data statistik di AS menunjukkan bahwa angka anak-anak dan dewasa yang mengkonsumi bahan narkotika semakin membengkak. Anak-anak seperti ini bukan saja tidak akan mau menerima nasihat dari orangtua mereka, bahkan juga tidak akan menghormati orangtua. Padahal, nasehat dan pengarahan dari orang tua adalah sebuah masalah penting bagi anak-anak, sebagaimana ditulis oleh Haddington berikut ini. "Salah satu elemen utama penyempurnaan manusia dan perkembangan daya pilih mereka adalah rasa percaya diri yang diberikan oleh orang dewasa kepada mereka sewaktu mereka masih kanak-kanak. Rasa percaya diri anak-anak ini dapat membuat mereka mampu membedakan antara kebenaran dan kejahatan, kebaikan dan kesalahan, serta keindahan dan keburukan. Mereka akan memiliki kemampuan untuk menyingkirkan segala bentuk penyimpangan moral dan menyediakan kehidupan yang aman dan membahagiakan buat dirinya dan keluarganya."
Temuan lain Annisa Foundation, sebanyak 90 persen remaja yang melakukan hubungan pra-nikah tersebut, bukan karena tidak paham nilai-nilai agama dan moral. Mereka justru mengetahui bahwa perbuatan itu dosa dan sangat tidak pantas. Jauh dari Jakarta, tepatnya di Samarinda, Kalimantan Timur, survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Samarinda pada September 2008 lalu, menemukan hasil yang menyedihkan. Dari 300 pelajar Samarinda, 12 persen di antaranya mengaku pernah melakukan hubungan badan. Menurut survei PKBI itu, 14 persen hubungan seks dilakukan di sekolah, 28 persen mengaku melakukannya di rumah. Ironisnya, hubungan badan dilakukan di sekolah saat jam istirahat maupun ketika usai belajar. Sedangkan di rumah dilakukan saat kedua orangtua tidak berada di rumah.
Organisasi riset nirlaba AS, Research And Development (RAND) melaporkan penelitiannya November 2008 lalu, bahwa tayangan televisi sangat berpengaruh terjadinya kehamilan di kalangan remaja di AS. Pengkajian yang disiarkan jurnal Pediatrics itu menyebutkan, remaja yang banyak menonton acara yang mengandung unsur seksual, menghadapi risiko hamil lebih besar.
Hasil penelitian dan survei tersebut sangat menakutkan. Gaya hidup permisif, budaya televisi, telah mendorong para remaja terperosok dan jatuh ke jurang terdalam. Di Indonesia, remaja-remaja kita diserbu gaya hidup serba mungkin. Pendidikan agama telah berubah menjadi angka-angka dalam buku rapor semester.
Kehidupan remaja di AS dan Indonesia, terutama di perkotaan, hampir sulit dibedakan. Mereka mendapatkan apa saja. Bahkan, lemahnya penegakan hukum, memungkinkan remaja Indonesia mendapatkan jauh lebih besar dan menakutkan dibandingkan di AS. Video porno, majalah porno, tayangan televisi yang serba benda dan kemewahan dengan mudah didapatkan. Dan yang sangat menakutkan, ketika persoalan ini dianggap sebagai suatu yang biasa. Ini bahaya lebih dahsyat dari yang dibayangkan orangtua, pendidik, ulama, dan negara.
Seorang wartawan Amerika Latin berkata, "Saya tidak menduga remaja Indonesia begitu bebas, melebihi negara kami.....'". Wartawan itu sesungguhnya sedang menggugah kesadaran kita - yang selalu merasa lebih baik, lebih terhormat, dan bahkan lebih mulia. Ini sungguh menakutkan.
Ada yang bilang juga televisi membuat interaksi antar anggota keluaga menjadi berjarak. Hal ini pun sebenarnya bisa dipandang dari arah sebaliknya. Bila tiap kamar diberi televisi, tentu saja akan membuat interaksi antar anggota keluarga menjadi renggang. Tapi coba misalnya hanya ada satu televisi di ruang keluarga saja. Semua anggota keluarga akan otomatis berkumpul di depan televisi. Bila acara yang dipilih cocok untuk semua (bukan acara yang penuh omong kosong dan tidak mendidik) maka akan terjadi perbincangan yang hangat antar anggota keluarga, entah tentang acara di televisi tersebut, atau hal-hal lain yang dipicu oleh acara televisi tersebut.
Menimbang segala fakta di atas, pemerintah di berbagai negara hendaknya sadar untuk mengatur industri televisi agar dapat memainkan peran positif dan konstruktif bagi anak-anak dalam meningkatkan kepribadian mereka, demi terciptanya generasi yang sehat dan bangsa yang maju.
Nilai-nilai akhlak karimah yang bersumberkan ajaran agama Islam harus diberikan, ditanamkan dan dikembangkan oleh orang tua , serta guru-guru di sekolah terhadap para remaja dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman akhlak tersebut penting karena inti dari keberagamaan seseorang akan termanifestasikan dalam akhlak karimah.
Karena adanya efek negatif yang sangat membahayakan itu, maka hendaknya dalam menonton televisi harus pandai-pandai memilih Tayangan Televisi yang tepat dan bermanfaat. Karena yang paling banyak dialami oleh anak yang memasuki masa pubertas ini adalah kecenderungan untuk meniru hal-hal yang negatif, mereka menirunya ini seringkali tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dimana ia tinggal, juga tanpa mempertimbangkan kepribadiannya, sehingga kerap kali tingkah lakunya ini menyimpang dari tatanan masyarakat yang sudah ada. Maka dari itu kita harus benar-benar waspada terhadap sesuatu yang dianggap menghibur, sebab dibalik hiburan itu sendiri terkadang menyimpan suatu mudhorot yang besar dan sangat bertentangan dengan moral dan etika kita sebagai seorang muslim.
Sesungguhnya masih banyak remaja yang jauh lebih beradab, lebih sopan, lebih religius, cerdas, prestatif, kreatif dalam kehidupan yang serba dan layak dicontoh oleh kaum remaja yang lainnya. Sayang, fakta yang satu ini luput dari kejaran pihak sutradara. Kaum remaja seperti ini cukup dikenal oleh teman dekatnya,  mereka tidak perlu menjadi sebuah figur  yang layak dipublikasikan.Ini pula yang menjadi kesedihan anak bangsa, ketika dia berprestasi hingga tingkat imternasional dan mengangkat martabat bangsa, ternyata dia masih jauh kalah penghargaannya dibanding selebriti yang tiba-tiba muncul di layar kaca tanpa sebuah perjuangan yang panjang, tanpa prestasi yang nyata, dan belum tentu memberikan sumbangan yang positif pada bangsa yang tercinta ini.
Layar kaca yang minus tatakrama, tak ditemukan pola perilaku masyarakat ketimuran yang sopan santun, cerdas, tapi tetap rendah hati. Sikap yang ada hanya segumpal nafsu birahi, segudang kata-kata kotor, tajamnya mata yang terbelalak kemerah-merahan, dan tampar-tamparan tangan yang senantiasa melayang ke muka teman, orang tua, bahkan anak kecil.
Pada batas-batas tertentu, tak ada salahnya menonton televisi. Dengan kesadaran kritis, kita masih dapat mengambil manfaat dari televisi. Selama kita menonton dalam porsi yang tidak berlebihan hingga mengabaikan kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan juga tidak menjadikan acara-acara di televisi sebagai candu, tidak ada yang salah dengan televisi. Kontrolnya ada pada diri kita, bukan pada televisi ataupun hal-hal lain yang diluar diri kita.

3.      Televisi Sebagai Penyebab Penyimpangan Akhlak Remaja Islam
Sebagai bagian dari media informasi zaman modern, televisi memiliki peran  yang sangat dignifikan. Televisi merupakan salah satu media informasi yang paling berpengaruh di abad modern ini. Kehebatan dalam member pengaruh kepada masyarakat membuatnya seolah-olah menjadi penentu perilaku masyarakat khususnya generasi muda.
Sedikit banyak, TV telah membentuk kesadaran berpikir kita tentang nilai-nilai baik, jahat, indah, buruk, benar, salah, dan sebahgainya. Karena itu TV menjadi “lubang hitam kebudayaan”. Sebab nilai-nilai yang dipromosikan dalam layar kaca tersebut menghegemoni pemirsanya. Ada sinetron yang sering mempertontonkan keluarga bahagia dengan rumah mewah, dengan mobil sedan mahal. Ditambah lagi adanya ajang perlombaan menjadi orang sukses dengan menjadi penyayi. Semua itu menghegemoni kesadaran pemirsa tentang kemewahan sebagai kebaikan, kesuksesan hidup dengan menjadi orang tenar (baca: penyanyi), dan sebagainya.
Di sinilah titik rawan globalisasi. Globalisasi menciptakan ruang yang dapat “membajak” kesadaran masyarakat untuk menjadi masyarakat yang lain. Globalisasi bisa menjadi Amerikanisasi—juga Arabisasi—, dimana dominasi informasi dan film-film Amerika menguasai menu yang disuguhkan TV dan instrumen globalisasi lainnya. Maka nilai-nilai kebaikan dalam persepsi masyarakat Indonesia misalnya, adalah nilai-nilai kebaikan yang dikonstruksi oleh masyarakat Amerika.
Demokrasi contohnya, adalah nilai-nilai luhur yang kita (baca: umat Islam dan bangsa Indonesia) terima dari Amerika sebagai kebaikan dalam bernegara dan bemasyarakat. Dalam penjelasan ini, sejatinya kita melihat secara kritis tentang nilai-nilai buruk yang membajak kesadaran, tanpa memandang apakah itu berasal dari Barat atau dari Islam.
Sisi negatif dari pengaruh budaya barat adalah kenakalan remaja sebagai bagian dari dekadensi moral bangsa ini. Penyebab menurunnya moral atau akhlaq remaja dapat dibagi atas :
1.            Pengaruh kuat media informasi elektronika dan cetak yang mudah dicerna dengan tingkat kesulitan sensor yang tinggi.
2.            Kurangnya pendidikan agama atau akhlaq, sebagai kunci kontrol diri remaja dalam menghadapi sikap negatif di lingkungan sekitar.
3.            Minimnya pengetahuan yang bisa dinikmati melalui pendidikan yang layak.
4.            Kekurangan rasa percaya diri dalam pergaulan hingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk, ditambah minimnya keterampilan untuk mengembangkan potensi diri ke arah yang lebih baik.  
Dalam pandangan Sunardian Wirodono (2005), membiarkan media televisi melenggang tanpa batas tanpa pengawasan, tanpa kontrol, bahkan boleh dikatakan tanpa undang-undang, adalah sikap yang berbahaya dan sekaligus bodoh.
Tanpa kemampuan untuk mengambil jarak bagi munculnya sifat kritis, televisi memiliki kemampuan untuk membius, membohongi, dan melarikan masyarakat pemirsanya dari kenyataan-kenyataan kehidupan sekelilingnya. Televisi memiliki kemampuan manipulative untuk menghibur, jauh dibandingkan dengan media-media lainnya. Berbagai bentuk materi siaran, apalagi yang berjenis hiburan seperti sinetron, kuis, infotainment, atau reality show sering lepas dari norma-norma kepatutan sebuah karya kreatif, yang semestinya juga harus bertanggung jawab pada tumbuhnya eksplorasi masyarakatnya.
Jika kaula remaja hari ini tidak memiliki daya filter yang kuat, kehadirannya hanya akan menjadi objek eksploitasi penguasa media televisi belaka. Globalisasi datang dengan pesan-pesan destruktif dan berkolusi dengan media massa (televise) sehingga senantiasa cenderung melayani nafsu-nafsu duniawi masyarakat yang tidak memiliki visi ke depan. Masyarakat khususnya remaja akhirnya kehilangan jati diri karena tidak memiliki pegangan yang kokoh tentang visi hidup ke depan. Globalisasi lewat media televisi telah menghipnotis alam sadar generasi muda, seolah mereka hidup di alam mimpi, mereka lupa realitas kehidupan nyata, tidak peduli akam lingkungannya sendiri, yang penting senang hari ini.
Mungkin inilah yang dimaksud dalam isyarat Al-Qur’an surat Maryam: 59-60: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya(dirugikan) sedikitpun.”
Ada yang menyebutkan, yang dimaksud generasi jelek di dalam ayat diatas adalah mereka yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah dan rasa malu terhadap manusia. Selain itu syahwat duniawi yang terlalu besar ini kemudian televisi mengabaikan sisi-sisi edukasi dan  tanggung jawab sosialnya. Televisi bukannya hadir dalam rangka memberikan tameng moral, tetapi sebaliknya. Sementara kontrol isi tayangan televise juga sangat lemah.
Televisi, sebuah kotak ajaib yang ditempatkan secara khusus di ruang rumah kita barangkali adalah hasil produk kemajuan teknologi yang paling banyak memperoleh ‘gelar kehormatan’, seperti ‘jendela dunia’ (window of the world), ‘kotak ajaib’ (miracle box’, ‘kotak dungu’ (stupid box), atau ada pula yang menyebutnya ‘institusi hybrid’ (Mulyana dan Subandy Ibrahim, 1998: 349).  Televisi disini menjadi sesuatu yang memproduksi kebudayaan, dimana di dalam televisi muncul berbagai macam budaya-budaya baru yang dibentuk oleh pasar lewat ideologi kapitalismenya. Sebuah iklan misalnya, mengalami proses estetisasi yaitu tidak lagi berfungsi dalam kerangka etis namun telah bergerser menjadi kerangka estetis. Yang dilihat bukan lagi pada fungsi produk yang ditampilkan di televisi namun telah bergeser pada nilai dan citra yang terpancar dalam produk tersebut beserta konteks yang melingkupinya. Dengan kata lain, masyarakat seolah-olah menjadi bagian dari citra yang ditanamkan lewat peran bintang iklannya. Seperti yang dikatakan oleh Abdullah (2006: 34) bahwa berdasarkan proses konsumsi dapat dilihat bahwa konsumsi citra (image) di satu pihak telah menjadi proses konsumsi yang penting dimana citra yang dipancarkan oleh suatu produk dan praktik (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok. Sedangkan image yang terbentuk dalam iklan di televisi merupakan konstruksi dari kaum kapitalis yang berkuasa dalam dunia global sekarang ini.
Selain iklan, acara televisi pun juga mengimplikasikan fenomena ini. Acara televisi yang ngetop dan digandrungi sekarang ini terutama oleh anak muda adalah MTV (Music Television). Besarnya pengaruh MTV di lingkungan anak muda, didukung juga oleh penyajian dari program-program acara MTV yang penuh dengan dunia hiburan. Berbagai macam budaya dunia yang berbeda dilebur menjadi sebuah genre dari sebuah peradaban manusia. Bukan saja sekadar musik atau penyanyi yang ditampilkan MTV, akan tetapi yang jauh mempunyai pengaruhnya terhadap anak muda adalah lifestyle dan ideology, yang dapat mempengaruhi dari segala sisi seperti fashion salah satunya. MTV membawa pengaruh yang luar biasa dalam kemajuan peradaban dunia remaja dan anak muda. Kemunculan mereka seolah membawa angin segar bagi kaum kapitalis namun menjadi sebuah “awal kehancuran” bagi masyarakat. Dengan adanya program seperti MTV ini dan program serupa lainnya, tangan tangan kapitalis dapat bercokol memasuki dunia anak muda. Dengan iming-iming status “gaul”, “funky”, “modis”, “fashionable”, dan berbagai istilah sejenis yang mereka konstruksi sebagai sarana tipu daya atas realitas, kaum kapitalis memperalat anak muda menjadi sasaran empuk lumbung profit. Dengan dalih globalisasi, pasar bebas, dunia bebas, dunia tanpa batas, dunia ini lama-kelamaan akan dikuasai oleh kaum kapitalisme dengan ideologi mereka yang berbasis pada keuntungan semata dengan mengaburkan nilai-nilai humanisme.
Mengharapkan media siaran televisi untuk secara konsisten melakukan sesuatu yang selalu bernilai positif bagi pendidikan dan moral adalah sama dengan mengharap langit untuk tidak berwarna biru. Bukan berarti tidak mungkin, tetapi dari kodratnya memang harus memantulkan warna biru. Begitu pula dengan media siaran televisi, yang hadir memang untuk menjadi pendulang kapital melalui komersialisasi produknya. Mengapa kapitalisme maju? Sebab, media siaran memainkan peranan penting untuk menjual komoditas gaya hidup kepada masyarakat konsumen. Ia selalu memproduksi program acara yang menjadi kegemaran masyarakat konsumen. Dan, untuk memenuhi tuntutan masyarakat konsumen terhadap komoditas hiburan ini, media siaran memanfaatkan budaya pop. Dengan logika seperti ini, produksi siaran dan aspek moralitas pendidikan dalam perspektif industri media televisi adalah dua hal yang terpisah. Jika ada aspek moralitas pendidikan yang muncul dari suatu produk siaran, itu adalah hasil ikutan semata yang tidak didasarkan pada tujuan awal. Kini, televisi telah menjadi bagian dari sebuah industri kebudayaan.
Industri budaya, penciptaan budaya yang ditandai dengan “standardisasi, kemiripan, konservatisme, dusta, pemamipulasian konsumsi barang-barang” telah mendepolitisasi kelas buruh, membatasi wawasan mereka pada target politik dan ekonomi yang dapat direalisasikan dalam kerangka kerja opsesif dan eksploitatif masyarakat kapitalis (Storey, 2003: 149). Singkatnya, industri budaya mengecilkan hati “massa” untuk berpikir di luar batasan yang ada. Seperti diungkapkan Marcuse dalam One Dimensional Man : Akibat yang tidak bisa ditahan dari derasnya industri hiburan dan informasi adalah kemampuan membawa mereka pada perilaku dan kebiasan yang sudah ditentukan, reaksi intelektual dan emosional tertentu yang mengikat konsumen pada produsen dan produsen secara keseluruhan. Produknya mengindoktrinasi dan memanipulasi. Mereka mempromosikan kesadaran semu yang kebal terhadap kesalahannya (Storey, 2003: 150). Dilihat dari fenomena masyarakat industri,  kebudayaan pop cenderung menjadi kebudayaan massa. la lahir untuk memenuhi kebutuhan massa yang ingin menikmati waktu senggang alias hiburan. Maka wajar bila kebudayaan pop selalu mengikutsertakan jaringan komunikasi massa dalam menyebarluaskan produk dan aktifitasnya. la memassalkan diri lewat media massa. Membentuk citra modernisasi lewat tampang-tampang “keartisan”, membujuk konsumen dan penggemarnya lewat kiat iklan serta memberi kemasan dengan wahana teknologi canggih.
Televisi, merupakan sebuah realitas dalam bentuk simbolik. Segala yang ditampilkan dalam televisi diwujudkan dalam simbol-simbol tertentu dimana simbol-simbol itu harus dimaknai agar dapat menangkap makna dari apa yang ditampilkan oleh televisi. Disinilah permasalahannya, dalam menafsirkan simbol-simbol yang ada dalam televisi masyarakat seringkali hanya melihat dalam kerangka tekstual semata. TV telah mentransformasikan barang-barang real menjadi symbol yang terikat pada sistem pemaknaan tertentu (Abdullah, 2006: 56). Televisi, sebagai bagian dari media massa mempunyai “pekerjaan” untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dengan kata lain mengkonstruksikan realitas yang akan disiarkan. Proses pengkonstruksian ini pada dasarnya adalah penyusunan realitas-realitas yang membentuk sebuah cerita yang bermakna. Dan dalam proses pengkonstruksian ini bahasa memegang peranan yang penting. Televisi, memegang peranan penting dalam bergesernya makna akan siaran-siaran yang mereka tayangkan. Atas nama globalisasi dan kapitalisme, terjadi reproduksi makna dari televisi. Simbol-simbol yang muncul dalam televisi mengalami reproduksi dalam bentuk estetisasi dimana sentuhan nilai seni menjadi kekuatan dalam berbagai iklan (produk), maupun acara televisi. Dengan demikian, televisi ini telah berperan sebagai tangan kapitalis dalam proses distribusi berbagai produk yang dihasilkan dan dalam pengkonstruksian pola pikir masyarakat dalam memandang sebuah acara maupun iklan televisi.
Dinamika pasar telah membuat TV berorientasi pada etika konsumsi dengan memprogram acara-acaranya sepenuhnya untuk memenuhi selera khalayak demi mengundang pengiklan. Lebih berorientasinya televisi ke media hiburan membuktikan bahwa kebudayaan tidak selalu dapat direkayasa menurut konstruksi dari suprastuktur. Dalam hal industri pertelevisian, dinamika ekonomi temyata lebih menentukan dalam membentuk suatu kebudayaan. Mekanisme ekonomi telah mendinaminasi televisi dalam menampilkan sosok budayanya (nilai-nilai yang dianut. karakter program acara yang diproduksi). Di sisi lain, khalayak masyarakat industri telah ikut memberi sumbangan bagi terbentuknya sosok budaya televisi melalui siaran massalnya.
Saat menonton televeisi, realitas kehidupan seakan terkaburkan. Lewat televisi, kita dibuai oleh mimpi-mimpi indah seakan kita hiduP di dunia lain dimana sebenarnya mimpi-mimpi itu menyesatkan dan penuh kebohongan serta mengandung unsur pembodohan. Televisi telah mengaburkan batas-batas ruang dan batas-batas budaya. Lewat televisi, kita bisa melihat berbagai macam negara tanpa datang langsung ke negara tersebut dan ‘menjelajahinya’ dalam tempo yang singkat. Simbol-simbol dalam televisi menjadi realitas yang dijunjung tingggi, yang diagungkan. Budaya estetis telah menggeser pola pikir masyarakat dan menjadikan posisi media begitu kuat dalam mengkonstruksi makna di ranah publik. Begitu kuatnya efek televisi di masyarakat, menjadikan kegiatan menonton televisi seakan menjadi ritual yang harus dilakukan sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat jaman dahulu. Televisi, telah menjadi sebuah racun dan bom waktu dalam realitas kapitalisme saat ini. Menjadikannya kokoh sebagai “pujaan” setiap orang.
                                                                              
4.      Akhlak Remaja Islam
Secara linguistik atau bahasa, akhlak berasal dari bahasa arab yakni khuluqun yang menurut loghat diartikan: budi pekerti,perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian denga perkataan khalakun yang berarti kejadian, serta erat hubungan dengan khaliq yang berarti pencipta dan makhluk yang berarti diciptakan. Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk. Secara garis besar, akhlak dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak baik (akhlak al-karimah) dan akhlak yang buruk (akhlak madzmumah). Yang termasuk akhlak baik misalnya seperti berbuat adil, jujur, sabar, pemaaf, dermawan, amanah, dan lain sebagainya. Sedangkan, yang termasuk akhlak buruk adalah seperti berbuat dhalim, berdusta, pemarah, pendendam, kikir, curang, dan lain sebagainya. Menurut Al Ghazali akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang yang menjadikan ia dengan mudah tanpa banyak pertimbangan lagi. Sedangkan sebagaian ulama yang lain mengatakan akhlak itu adalah suatu sifat yang tertanam didalam jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul disetiap ia bertindak tanpa merasa sulit (timbul dengan mudah) karena sudah menjadi budaya sehari-hari. Defenisi akhlak secara substansi tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu :
1.            Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2.            Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini berarti bahwa saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur, atau gila.
3.            Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbutan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.
4.            Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesunggunya, bukan main-main atau karena bersandiwara.
5.            Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena keikhlasan semata-mata karena Allah, bukan karena dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian. Rasulullah saw bersabda: " Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling baik akhlaknya".
Masalah besar umat hari ini memasuki era globalisasi terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media massa yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.
Dunia pendidikan akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan terlihat dari banyaknya terjadi tawuran pelajar, pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa, kecabulan pornografi tak terbendung, sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir, mencari jawaban dari paranormal menguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker menyelami black-magic dan mempercayai mistik.  Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-see-sex dan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas sex ittiba’ syahawat (runtutan hobi nafsu syahawat), individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivesness dan anarkis.
Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani). Orientasinya hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sensual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai berkembang 1960), dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing (Madonna, Michael Jakson, dll) sejak tahun 1990 di saat memasuki era globalisasi.
Perilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment).
Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah, minuman keras, kecanduan ectasy (XTC), budak kokain dan morfin, kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Pada hakekatnya semua perilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya.
Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik, melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi. Aqidah umat memang sudah bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami, ekonominya bersistim Yahudi, muamalahnya tidak sesuai dengan muamalah yang diajarkan Islam, politiknya Machiavellis, budayanya hedonistik, materialistik dan sekularistik.
Dalam Islam tidak tidak diragukan lagi bahwa kaidah serta batasan dalam mengerjakan baik dan buruk telah tertera dalam nash-nash syariah (al-Qur’an dan hadits). Di dalam kaidah akhlak ada istilah dawafi (dorongan) dan mawani (larangan). Dawafi merupakan sebuah daya dorong bagi setiap individu untuk melaksanakan akhlak dengan baik dan benar dan mawani adalah perkara yang membuat setiap individu terlarang untuk melakukan akhlak yang buruk.
Gambaran jelas tentang akhlak yang baik telah tercatat dalam al-Qur’an dan hadits sebagaimana yang dilakukan oleh nabi besar kita Muhammad SAW yang harus dijadikan contoh teladan yang ideal. Gambaran ini harus dijadikan pedoman bagi orang tua dalam mendidik dan membina akhlak remaja sebab pendidikan dan pembinaan akhlak dalam keluarga akan berjalan dengan baik apabila orang tua sebagai pembimbing utama dapat menjadi panutan dengan memberikan contoh tauladan melalui pembiasaan-pembiasaan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pembiasaan-pembiasaan perilaku seperti melaksanakan nilai-nilai ajaran agama Islam (beribadah), membina hubungan atau interaksi yang harmonis dalam keluarga, memberikan bimbingan, arahan, pengawasan dan nasehat merupakan hal yang senantiasa harus dilakukan oleh orang tua agar perilaku remaja yang menyimpang dapat dikendalikan.
Pola pendidikan dapat diupayakan melalui proses interaksi dan internalisasi dalam kehidupan keluarga dengan menggunakan metode yang tepat seperti yang dikemukakan an-Nahlawi (dalam Dahlan : 1992) bahwa metode pendidikan dan pembinaan akhlak yang perlu diterapkan oleh orang tua dalam kehidupan keluarga adalah sebagai berikut :
1.            Metode hiwar (percakapan)
2.            Metode kisah
3.            Metode mendidik dengan amtsal (perumpamaan)
4.            Metode mendidik dengan teladan
5.            Metode mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
6.            Metode mendidik dengan mengambil ibroh (pelajaran) dan mau’idhoh (perngatan)
7.            Metode mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut)
Materi yang diberikan pada para remaja dalam pendidikan akhlak sebaiknya tidak terlepas dari ruang lingkup akhlak Islami yang mencakup berbagai aspek seperti yang dikemukakan Hamzah (1996) diantaranya : akhlak terhadap Allah (hablum minallah), akhlak terhadap manusia (hablum minannas), akhlak terhadap alam semesta (hablum minal a’lam) dan akhlak terhadap diri sendiri (hablum minnafsi).
 Masa remaja sebagaimana yang dikemukakan di atas menurut Hurlock (dalam Istiwidayanti : 1992) adalah masa dimana seorang individu berada pada batasan umur 12-22 tahun. Karena masa remaja adalah masa-masa mencari identitas diri maka biasanya para remaja cenderung menginginkan kebebasan tanpa terikat oleh norma dan aturan.
Dalam masa pencarian identitas diri yang penuh gejolak ini, penting kiranya orang tua sebagai orang terdekat dalam lingkungan keluarga dengan remaja untuk mengenal dan memahami jiwa remaja secara mendalam agar dapat mendidik, membimbing serta mengarahkan akhlaknya menuju jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.
Remaja Muslim mempunyai empat tanggung-jawab :
1.            Wajib sadar bahwa waktu remaja bukanlah untuk berhura-hura, tetapi waktu tersebut wajib diisi dengan mencari ilmu pengetahuan dan menghayati Agama Islam. Jadikan waktu tersebut sebagai persiapan untuk menghadapi masa depan apabila kita semakin tua kelak.
2.            Kita tidak mudah terperdaya dengan unsur-unsur negatif. Ambillah budaya yang baik dari siapapun dalam mencari dan meningkatkan ilmu. Tetapi kekalkan akhlak dan cara kehidupan orang Islam. Kita akan menjadi orang yang paling disegani dan dihormati kelak. Kita akan Mulia di dunia dan di akhirat, insya Allah.
3.            Sebagai remaja, janganlah kita menghabiskan masa berkhayal dengan perasaan cinta dan mencari pasangan. Hal itu tidak membawa banyak hasil. Malah waktu kita yang berharga yang sepatutnya dihabiskan dengan mencari ilmu atau berbakti kepada masyarakat.
4.            Hormatilah Orang Tua kita, walaupun pada pandangan kita mereka tidak memahami jiwa dan perasaan kita. Sesungguhnya, Orang tua kita adalah pintu syurga. Sekiranya kita tidak sependapat dengan mereka maka katakanlah dengan nada yang lembut dan sopan, bukan dengan membentak dan menunjukkan marah.
Firman Allah SWT dalam surah Al-Isra', ayat 23 yang artinya, "Dan Tuhanmu telah menentukan agar kamu jangan menyembah melainkan Allah dan hendaklah kamu berbuat baik dengan mereka. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-dua mereka telah berusia tua, maka janganlah berkata kasar kepada mereka, akan tetapi ucapkan kepada mereka dengan ucapan yang baik dan lembut."
Dalil-dalil yang berhubungan dengan akhlak. Firman Allah swt:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. Ali Imran: 190). “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat maruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-nisa: 114). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al Anfal:2).
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezki (nimat) yang mulia. (QS. Al Anfal:4). Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mumin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 111).
Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS. Sad: 46).
Sabda Rasulullah: “Sesungguhnya aku Muhammad SAW tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”. “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada tubuh badan kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan segala amalan kamu yang berlandaskan keikhlasan hati”.(HR. Baiha)

5.      Remaja Islam Menjaga Diri
Era globalisasi ini adalah ujian bagi kaum remaja Islam, seperti yang diterangkan dalam firman Allah SWT, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).”(al-Anbiya:35). Selama manusia tidak menyadari hal itu, maka ia tidak akan tenang.
Jika gelombang globalisasi tidak mungkin dihadang, yang paling mungkin adalah memperkokoh benteng aqidah generasi mudanya untuk mempertebal filter, sehingga tidak mudah terbawa arus negatif dari perkembangan zaman.
Potensi-potensi positif dalam diri setiap remaja juga memiliki peran penting dan harus selalu difungsikan untuk menekan keinginan-keinginan syahwat duniawi yang sesat dan selalu menggoda dengan sesuatu yang menggiurkan. Mungkin itulah kenapa Rasulullah pernah menyebutkan, “ mekalau kamu tidak merasa  malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu suka”. Sepintas ucapan Rasulullah ini sebagai perintah, tetapi sesungguhnya ini merupakan sindiran terhadap ancaman ummat Islam. Islam mengatur ummatnya agar selalu berperilaku baik sesuai tuntutan Allah dan Rasul-Nya.
Pendidikan akhlak merupakan segmen yang terpenting bagi manusia pada umumnya sebab manusia merupakan makhluk yang memiliki tatakrama, sopan santun, dan beradab dalam setiap aktivitas sehari-hari. Setiap muslim wajib dibekali dengan nilai-nilai moral yang Islami demi mempertinggi kualitas iman dan masyarakat Islam itu sendiri. Pada surat al-Ra’d, 13:11, kata Ahmad Tafsir, selain menginsyaratkan jiwa sebagai wadah, juga menginsyaratkan sebagai penggerak tingkah laku. Jika ia dijaga dari dorongan hawa nafsu dan disucikan, kualitasnya akan meningkat.
Berkenaan dengan moral remaja, sesungguhnya al-Qur’an  tidak menyebutkannya secara eksplisit, tetapi didalamnya terdapat cermin yang dijadikan pegangan sekaligus contoh bagi remaja. Satu diantaranya adalah kasus pemuda ashhab al-kahf, yang menggambarkan sikap anak muda dalam upaya mempertahankan sikap moral yang benar dan baik sebagai identitas diri. Mereka lenih memilih mengasingkan diri di dalam gua daripada ikut hanyut dalam moral masyarakat yang rusak. (QS. Al-Kahf, 18:10).
Pluktuasi moralitas saat remaja memang akan selalu terjadi. Namun, yang paling penting adalah bagaimana remaja secara internal dapat menahan emosi dan mengatur ritme perilakunya agar tidak berperilaku amoral. Begitu pun keluarga dan masyarakat, mereka harus juga menjadi bagian pendukung yang memagari moral para remaja agar tetap tetap terjaga dengan baik.
Sesungguhnya manusia tanpa mengikuti system Allah mereka akan hidup dalam kehidupan yang sempit. Mereka merasa tidak bahagia dan mencari ketenangan.
Sebagai pedoman hidup, agama memiliki peranan paling penting dalam pola perilaku dan prinsip hidup manusia, termasuk remaja. Dalam konteks apapun, agama tetap saja memiliki derajat yang paling tinggi.
Oleh karena itu, remaja yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup tidak akan mudah tergoda dengan berbagai tawaran dan rayuan iklan serta berbagai tayangan lainnya baik yang kasat mata dilihat dan dirasakan maupun hanya didengar. Gaya berbusana misalnya, remaja yang selalu berpegang teguh kepada agama akan menyesuaikan gaya berpakaian dengan apa yang diperintahkan dalam al-Qur’an.  Tidaklah aneh bagi remaja yang selalu berpegang teguh pada agama, akan selalu berpikir komprehensif dan jauh ke depan (akhirat).
Begitupun dengan gaya bergaul, remaja yang taat beragama bukan berarti mereka yang mengasingkan diri dari realitas sosialnya. Mereka tetap menyadari bahwa hidup tidak mungkin sendiri karena manusia merupakan makhluk sosial. Namun keberadaannnya di tengah-tengah kehidupan yang serba boleh, remaja yang taat beragama akan selalu ingat bahwa pergaulan tetap saja harus dibatasi sebab tidak semua pergaulan akan melahirkan tindakan dan pola perilaku yang positif.
Remaja beriman akan menjadikan dunia sebagai ladang kehidupan akhirat. Orang Islam bukanlah seperti orang –orang yang mengabdi kepada dunia, sehingga dunia itu menjadi tujuan dari amalnya dan cita-citanya.
Itulah kenapa agama harus menjadu pedoman kehidupan manusia. Dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur, agama begitu sempurna mengatur tata kehidupan manusia. Semuanya menghadirkan Allah dalam rangka memberikan kemudahan kepada manusia dan keharmonisan hidup di dunia dan akhirat. Remaja yang taat terhadap Allah dan agamanya akan selalu menghiasi hidupnya dengan akhlak mulia. Menjaga perilaku, ucapannya, memilih teman yang baik, memberikan contoh kepada teman-temannya apabila dia khilaf dalam berucap dan bertindak.
Dengan demikian dalam hal menjaga diri dari berbagai sajian media massa televisi, sebaiknya dilakukan beberapa hal penting. Mampu membedakan sajian yang baik dan buruk, memperbanyak aktivitas yang bermanfaat karena jika terlanjur menonton televisi  maka akan menghipnotis penontonnya untuk stay tune di depannya, menjadikan media sebagai selingan, dan menjadi penonton kritis.
Remaja Islam berpegang teguh kepada kebenaran. Ia akan mempererat hubungannya dengan Allah seperti, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memelihara amalan fardhu, dan memperbanyak amalan sunnah,  serta menjauhi hal-hal yang merusak , dan tidak bersikap lunak terhadap pelaku kebatilan dalam soal akidah, dan tidak merestui perbuatan mereka yang sesat dan merusak.
Remaja modern adalah remaja yang dapat mengikuti ritme kehidupan (kapan pun dan dimana pun), namun tetap menjadi dirinya sendiri karena selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Remaja masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan ummatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan). “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”.
Pendidikan moral generasi berpaksikan tauhid, akhlak, penghormatan terhadap orang tua, mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan, adab percakapan ditengah pergaulan, keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar, yang akan menjadi kekuatan moral. Kuatnya iman dan teraturnya ibadah generasi muda menjadi awal langkah menuju ketahanan bangsa. “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS.31, Lukman:13-17).
Dalam pendidikan dan pembinaan akhlak bagi para remaja, orang tua harus dapat berperan sebagai pembimbing spiritual yang mampu mengarahkan dan memberikan contoh tauladan, menuntun, mengarahkan dan memperhatikan akhlak remaja sehingga para remaja berada pada jalan yang baik dan benar. Jika remaja melakukan kesalahan, maka orang tua dengan arif dan bijaksana membetulkannya, begitu juga sebaliknya jika remaja melakukan suatu perbuatan yang terpuji maka orang tua wajib memberikan dorongan dengan perkataan atau pujian maupun dengan hadiah berbentuk benda.

B.                 Hipotesis
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan sebelumnya, maka disusun hipotesis sebagai berikut:
1.            Penyimpangan akhlak yang terjadi pada remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar karena pengaruh televisi yaitu remaja lebih mementingkan segala hal tentang dirinya sendiri ketimbang lingkungan sosialnya, remaja rela melakukan apapun untuk mendapatkan predikat cantik atau tampan sesuai yang disuguhkan di TV  tanpa mempedulikan aspek lain yang lebih penting seperti kesehatan, remaja menjadi pemalas dan tidak produktif, menginspirasi dan mendorong remaja melakukan tindakan kriminal seperti pencurian, pembunuhan dan pemerkosaan, remaja cenderung menirukan gaul ala televisi (berkaitan dengan bahasa, cara berpakaian, dan bersikap) yang negatif, remaja mencontoh tayangan televisi yang memberi pembenaran atas perilaku negatif seperti mencontek, mempertontonkan aib orang lain serta menipu, kebebasan bergaul antara pria  dan wanita, tidak adanya adab seorang anak terhadap orang tua, penggunaan narkotika , alkohol dan seks bebas, meniru tajamnya mata yang terbelalak kemerah-merahan saat marah, dan  meniru tampar-tamparan tangan yang senantiasa melayang ke muka teman, orang tua, bahkan anak kecil.
2.            Faktor-faktor yang menyebabkan remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar mengalami penyimpangan akhlak adalah pengaruh kuat televisi yang mudah dicerna dengan tingkat kesulitan sensor yang tinggi, kurangnya pendidikan agama atau akhlaq sebagai kunci kontrol diri remaja dalam menghadapi sikap negatif di lingkungan sekitar, minimnya pengetahuan yang bisa dinikmati melalui pendidikan yang layak, kekurangan rasa percaya diri dalam pergaulan hingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk, ditambah minimnya keterampilan untuk mengembangkan potensi diri ke arah yang lebih baik, dan mereka tidak mempunyai rasa takut kepada Allah dan rasa malu terhadap manusia.
3.            Solusi yang dilakukan agar remaja Islam kelas XI IPA SMAN 3 Makassar tidak  mengalami penyimpangan akhlak yaitu, melaksanakan nilai-nilai ajaran agama Islam (beribadah), orang tua berperan sebagai pembimbing spiritual yang mampu mengarahkan dan memberikan contoh tauladan, menuntun, mengarahkan dan memperhatikan akhlak remaja, menyadari bahwa waktu dimasa remaja bukanlah untuk berhura-hura tetapi untuk mencari ilmu pengetahuan dan menghayati Agama Islam, tidak mudah terperdaya dengan unsur-unsur negatif, tidak menghabiskan masa berkhayal dengan perasaan cinta dan mencari pasangan,  menghormati dan menghargai nasehat orang tua, selalu ingat bahwa pergaulan tetap saja harus dibatasi, membedakan sajian yang baik dan buruk, memperbanyak aktivitas yang bermanfaat, tetap menjadi diri sendiri karena selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, menyesuaikan gaya berpakaian dengan apa yang diperintahkan dalam al-Qur’an, menjaga perilaku, ucapannya, memilih teman yang baik, memberikan contoh kepada teman-temannya apabila dia khilaf dalam berucap dan bertindak, serta memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memelihara amalan fardhu, dan memperbanyak amalan sunnah,  serta menjauhi hal – hal yang merusak , dan tidak bersikap lunak terhadap pelaku kebatilan dalam soal akidah, dan tidak merestui perbuatan mereka yang sesat dan merusak.
























BAB III
M E T O D E  P E N E L I T I A N

A.             Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif (Descriptive Research). Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian untuk meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

B.              Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Makassar pada bulan Februari 2010.

C.             Populasi dan Sampel

1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari aspek penelitian. Adapun populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 3 Makassar.
Populasi bebas       : Seluruh siswa SMA Negeri 3 Makassar.
Populasi terikat     : Siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Makassar.
                                                     
2.      Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan mewakili seluruh populasi. Sampel dari populasi diatas adalah siswa kelas XI IPA 1 – XI IPA 6 SMA Negeri 3 Makassar. Pengambilan sampel menggunakan teknik Multiple Stage Sampling dengan cara equal probability, dimana dalam tiap kelompok populasi dipilih sejumlah anggota tertentu untuk diajukan dalam sampel dan tiap anggota kelompok tersebut mempunyai probabilitas/kemungkinan yang sama terpilih ke dalam sampel. Dari seluruh siswa SMA Negeri 3 Makassar, dipilih sejumlah 30 sampel yaitu;
Kelas XI IPA 1 – XI IPA 6          = 6 kelas x 5 siswa/kelas  = 30 siswa

to be continued

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar