Senin, 07 November 2011

SENI BUDAYA -XI SMA


Waktu SMA Kelas XI , pertemuan pertama nih.. Ibu Tri Utami, guru seni rupaku nugasin kita sekelas buat makalah tentang Tana Toraja. Whoaaaaaaaa... Khofiuyaa senang dong, karena khofiyah sempat TK dan SD di sana ^^ aduhh jadi rindu, semoga makalah ini bermanfaat :)
            sebenarnya gambarnya ada tapi maaf banget, ktadi saya coba tapi ga bisa di upload .. so sorry

 Tana Toraja
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi SelatanIndonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).
Tana Toraja beribukotakan Makale. Pada asal mulanya Menurut kata orang, penduduk yang hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belun terbit (Makale') oleh karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang bangun mendahului matahari terbit (Makale') selalu mendapat keberuntungan atau rezeki. Tetapi karena perubahan ucapan kata maka Makale' berubah menjadi Makale.
Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai kota tenang dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam Makale. Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara gereja, sembari kaki lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru. Banyak di antaranya mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur yang penuh dengan ukiran dan atap yang melengkung.
Dari sisi parwisata Toraja memang masih menjanjikan eksotika alam, kultur/budaya, sosial kemasyarakatan, bahkan arsitekturalnya, khususnya rumah adat Toraja. Tanah Toraja, merupakan obyek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara  Makassar ini sangat  terkenal   dengan   bentuk bangunan rumah
adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan,
Alam Tana Toraja sangat indah, sehingga dijuluki objek wisata primadona, untuk di Sulawesi Selatan dan Indonesia bagian Timur. Julukan ini pantas karena Tana Toraja sejak tahun 1960 telah dikenal oleh para tourist di berbagai manca negara. Keindahan alam ini dilengkapi dengan :
·         Tradisi budaya unik dan menarik
·         Panorama yang indah dan udara yang sejuk
·         Kesenian dan kerajinan home industry yang antik dan
  berarsitektur tinggi
·         Keramahtamahan penduduk yang sudah populer, dan
·         Keamanan yang terjamin
Faktor-faktor tersebut di atas yang sangat digemari oleh para tourist sehingga bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya di Tana Toraja dapat melaksanakan usaha :
·         Trekking di wilayah yang sejuk di pegunungan
·         Rafting di sungai-sungai (sungai Ma'iting), Ma'dong, Sa'dan
  dan Maulu')
·         Wisata alam (Tirotasik, Nanggala)
·         Restoran Fast Food (di Makale dan Rantepao)
·         Gantole (di Gunung Sopai, Ge'tengan, Ge'tengan, Sesean dan
           lain-lain)
·         Agrowisata (Dende', Bolokan, Baruppu')
Istilah yang sering dijumpai pada objek wisata Tana Toraja :
·         Tongkonan : Perkampungan tradisional
·         Rante : Lapangan tempat upacara pemakaman
·         Simbuang : Tanda upacara tertinggi dalam pesta adat Rambu
 Solo'
·         Liang Lo'ko' : Kuburan dalam gua alam
·         Erong : Kuburan kuno dalam kayu dekoratif
·         Liang paa' : Kuburan batu pahat
·         Patane : Kuburan berbentuk bangunan rumah
·         Liang Pia/Passilirian : Kuburan pada pohon hidup untuk bayi
 yang masih belum tumbuh gigi
Saking begitu melekatnya image Tanah Toraja dengan bangunan rumah adatnya ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri matahari terbit itu. Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong pengusaha pariwisata ke negeri sakura.
Event menarik di kawasan wisata ini yaitu adanya upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan kalender tetap tiap tahun
Selain itu ada hal unik lainnya lagi yakni, kopi Toraja. Kopi Toraja dipercaya memiliki kualitas terbaik di dunia setelah kopi Jamaica.
Orang-orang Belanda dulu menyebut kopi Toraja sebagai Kallosi Celebes Coffee. Ditaman oleh para petani Toraja di perkebunan kopi di lereng-lereng pegunungan.
            Ada dua jenis kopi di Toraja, robusta dan arabica. Kopi robusta Toraja memiliki cita rasa agak lembut namun aromanya tidak terlalu harum. Sedangkan kopi arabica Toraja memiliki citarasa yang tajam dengan aroma harumnya yang memikat.
            Menikmati kopi di tengah udara dingin Toraja sungguh luar biasa. Kopi Toraja dapat  diperoleh di Pasar Makale atau Pasar Rantepao. Di dua pasar ini, kopi dijual curahan. Baik yang sudah berbentuk bubuk atau masih biji.
atau dalam kemasan yang dijual di toko-toko di Makale atau Rantepao. Ada kemasan plastik atau kemasan kertas. Ada produsen kopi Toraja yang cukup kreatif mengemasnya dalam kotak kayu berukir atau bambu dengan goresan khas Toraja sehingga menyerupai souvenir

 Adat Istiadat dan Tempat Wisata Tana Toraja
1.        UACARA ADAT
Upacara syukuran untuk memberkati rumah suku Toraja digelar warga Tana Toraja Sulawesi Selatan. Selain memakai pakaian adat dan berbagai asesorisnya mereka juga menari dan beryanyi

2.         Makna Kerbau Sebagai Simbol Status Sosial Dalam Tradisi
           Rambu Solo

Upacara kematian Rambu Solo ini menghabiskan dana/biaya yang bukan main banyaknya ( ratusan juta sampai milyaran rupiah ). Dana sebanyak itu untuk membangun rumah-rumah sementara dari bambu di tanah lapang yang sangat luas sekali untuk ratusan
bahkan ribuan tamu yang diundang dari berbagi strata sosial, wisatawan asing maupun lokal yang akan datang melayat/menghadiri upacara kematian ini dan yang paling utama dari upacara ini adalah biaya pembelian kerbau-kerbau yang harganya sangat mahal sekali! ( siapa yanmg mampu membeli dan memotong kerbau paling banyak nama keluarganya akan terangkat tinggi sekali di mata masyaratnya ), harga satu ekor kerbau bisa mencapai seratus juta rupiah dan biasanya keluarganya membeli lebih dari seratus ekor kerbau. Intinya adalah hanya orang-orang berduit banyak saja yang dapat melakukan upacara Rambu Solo yang sangat erat dengan simbol kerbau yang terkenal di tanah Toraja ini

Lokasi yang pasti sudah banyak di kenal ke seluruh dunia adalah pusat wisata di Tana Toraja, Rantepao, 328 km arah utara dari kota Makasar. Terletak 800 meter di atas permukaan
laut, Rantepao menawarkan malam-malam yang sejuk dan menyenangkan.Pintu masuk ditandai sebuah pintu gerbang yang dibangun dengan gaya menyerupai perahu tradisional Indonesia. Jalan menuju lokasi melewati pegunungan Kandora dan Gandang yang spektakuler dan menurut mitologi Toraja. Diatas pegunungan ini lah nenek moyang pertama yang berwujud malaekat diturunkan dari surga.Di Rantepao adalah banyak toko yang menjual souvenir khas Tana Toraja. Diantaranya: kain tenun, patung, golok (dari yang kecil s/d yang besar), ukiran kayu dan lain-lain.
4.       MARANTE
Seiring dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia. Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obje wisata    yang     ada      di Tana   Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak pada jalan poro dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak jauh dari  kota  Rantepao  yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara/domestik.
uburan kayu)
Dan   masih   banyak   lagi   pemandangan  yang bisa memikat hati wisatawan.
Demikianlah sekelumit sejarah singkat dan daya tarik objek wisata Marante.Tau-tau adalah patung yang menggambarkan si mati. Tau-tau ini dibuat dari kayu nangka yang kuat yang pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata yang hitam dibuat dari tulang dan tanduk kerbau. Tau-tau tersebut diatas terdapat di Toraja yakni tempat pekuburan di dinding berbatu.

5.       BORI  
Objek wisata utama adalah rante (tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan seratus buah menhir / megalit), dalam bahasa Toraja disebut simbuang batu. Seratus dua (102) batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri
dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama. Megalit / simbuang batu hanya diadakan bila seorang pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya dilaksanakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor).

6.          BATUTUMONGA
Berlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Di daerahini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. kebanyakan
dari betu menhir itu berukuran dua sampai tiga meter tingginya. Pemandangan yang
 sangat mempesona di atas Rantepao dan lembah disekitarnya,  dapat   dilihat   dari  tempat ini  sangat menarik untuk dikunjungi.

7.       PALAWA'
Dahulu kala seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama "Tomadao" bertualang. Dalam petualangallnya ia bertemu dengan seorang gadis dari gunung Tibembeng bernama "Tallo Mangka Kalena". Mereka kemudian menikah dan bermukim di sebelah timur desa Palawa' sekarang ini yang bernama Kulambu. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane' yang kemudian menikahi seorang wanita bernama Lai Rangri'. Kemudian mereka beranak   pinak   dan   mendirikan   sebuah   kampung   yang
sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Apabila ada peperangan antara kampung   dan   ada   lawan  yang menyerang dan dikalahkan/dibunuh, maka darahnya

diminum dan dagingnya dicincang dan disebut Pa'lawak. Pada pertengahan abad ke 11 berdasarkan musyawarah adat disepakati mengganti nama Pa'lawak menjadi Palawa'. Palawa' sebagai suatu kompleks perumahan adat. Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dgn ayam, dan disebut Pa'lawa' manuk.
Keturuan Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan di Palawa'. Sebagaimana layaknya tongkonan di Tana Toraja, maka tongkonan Palawa' juga memiliki rante yang disebut Rante Pa'padanunan dan liang tua (kuburan batu) di Tiro Allo dan Kamandi. Selain Tongkonan juga dibangun lumbung atau alang sura' (tempat menyimpan padi) sebanyak 5 buah.

8.       LOMBOK PARINDING
 Kuburan Erong Lombok Parinding adalah merupakan salah satu objek wisata yang menarik karena mempunyai daya tarik tersendiri seperti Erong yang unik dan antik, yang terletak di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean. Lombok Parinding     pertama kali     ditempati   oleh  salah
seorang yang bernama Tomangli dan Datu Banua sekaligus cucu dari suami istri Palairan dan Patodemmanik dan disitulah mereka menetap mendirikan rumah sambil bertani-sawah. Selanjutnya. Melihat dan memperhatikan serta menghitung-hitung  umur dan kuburan erong Lombok Parinding mulai dari ke 8 orang anak-anak Tomongli sudah berumur kurang lebih 700 tahun.
Begitulah sejarah singkat kuburan erong Lombok Parinding.

9.       BUNTU PUNE
Objek wisata Buntu Pune terletak ± 3 km arah selatan jurusan Ke'te' Kesu', Buntu Pune adalah salah satu pemukiman yang dibangun oleh Pong Maramba' disekitar tahun 1880 dan merupakan pusat pemerintahannya setelah menjadi Parengnge' di wilayah Kesu' dan Tikala. Pada lokasi tersebut terdapat beberapa lumbung dan tongkonan yang dipindahkan dari daerah perbukitan dan lereng-lereng gunung batu oleh generasi berikutnya serta dibangun bertipe pemukiman orang Toraja
zaman dulu yang bernuansa ekslusif. Buntu Pune didukung oleh latar belakang batu cadas dimana pada dinding-dinding batu tersebut terdapat gua-gua alam yang juga dimanfaatkan untuk kuburan-kuburan leluhur. Dengan demikian kita banyak menjumpai erong  (peti mayat purba) di dalam   liang-liang tersebut.   Di lokasi tersebut

terdapat juga patane (kuburan dari semen) di puncak gunung batu yang dibuat sekitar tahun 1918 dan sampai saat ini masih digunakan.
Buntu Pune sampai sekarang masih terpelihara dengan baik dan termasuk salah satu situs peninggalan sejarah dan kepurbakalaan pada suaka peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara.

10.     LEMO
Lemo adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tau-tau). Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan  para   bangsawan    di  desa   Lemo.     Diberi nama   Lemo oleh
karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Sejak tahun 1960, objek wisata ini telah ramai di kunjungi para wisatawan asing dan wisatawan nusantara.

11.      KAMBIRA ( KUBURAN BAYI / PASSILLIRAN )
Apabila seseorang yang belum tumbuh gigi meninggal dunia akan dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra'. Kayu yang digunakan       dilokasi     ini      telah        berumur    sekitar    ±     300     ahun yang lalu. Ma'kadende' yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke kuburan, seekor babi jantan hitam      dipotong/disembelih    di halaman    rumah duka, kemudian      dibawa ke kuburan      dengan diusung.   Setibanya di kuburan babi/daging tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan.

12.      LONDA
Sama dengan Lemo, Londa adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tau-tau). Di dalamnya terdapat gua dengan banyak tengkorak kepala manusia. Gua yang tergantung itu, menyimpan    misteri  yakni orangpuluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur, tau-tau.  Tau-tau  adalah   pertanda  bahwa   telah   sekian banyak putra-putra Toraja terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo. Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan ± 1.000 m jauh kedalam, Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah "Benteng Pertahanan". Patabang Bunga yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas punggung gua alam ini. Objek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang berkunjung ke objek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang, atau kembang. Sangat tabu/pemali (dilarang keras) untuk mengambil atau memindahkan tulang, tengkorak, atau mayat yang ada dalam gua ini.

13.      TAMPANG ALLO (burial cave)
Sejarah singkat objek wisata Tampang Allo (atau Tampangallo) ini merupakan sebuah kuburan gua alam yang terletak di Kelurahan Kaero Kecamatan Sangalla' dan berisikan puluhan orang, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak     dan    tulang   belulang   manusia.
Pada sekitar abad ke 16 oleh penguasa Sangalla' dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bulaan memilih Gua Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia.. Demikian juga tempat pemakaman mereka    kelak   disepakati    di Gua Tampang  Allo sebagai perwujudan perjanjian dan
sumpah suami istri yaitu "sehidup semati satu kubur kita berdua".

14.     KE'TE KESU'
Ke'te' Kesu' adalah objek wisata yang sudah populer sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak 4 km dari Kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dengan nomor; registrasi 290 yang perlu dilestarikan/ dilindungi.  Objek    sata   ini    sangat    menarik,   oleh karena memiliki suatu kompleks
perumahan adat Toraja yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang Sura' (lumbung padinya). Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu' di fungsikan sebagai tempat bermusyawarah, mengelolah, menetapkan
 dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat di daerah Kesu', dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut aluk Sanda Pitunna (7777).Objek wisata ini dilengkapi pula dengan areal; upacara pemakaman (rante), kuburan (liang) purba dan makam-makam modern, namun tetap berbentuk motif khas Toraja, pemukiman, perkebunan dan persawahan yang cantik dan menyejukkan hati. Sekaligus para pengunjung dapat menyaksikan seni ukir Toraja di lokasi ini.

15.      LO'KO MATA
Lo'ko Mata mengambil posisi di lerang gunung Sesean pada ketinggian ± 1.400 m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang sangat menawan, fantastik dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta merenungkan ciptaan ini rasa rindu pasti ada. Selain itu kita dapat menyaksikan
 panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan alam ini. Lo'ko' Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo'ko' Mata sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger   dan  bersarang
11
jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya, dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan. Luas areal objek wisata. Lo'ko' Mata ± 1 ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buah.

16.     PANGLI, PATANE PONG MASSANGKA
Patane (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda yang bernama Palindatu, yang meninggal pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan sapu randanan. Palindatu dikawini oleh seorang putra bernama Tangkeallo dan melahirkan beberapa anak. Salah satu anaknya yang bungsu bernama Semba' alias Pong   Massangka   dengan   gelar   Ne'  Babu' oleh kematian misionaris belanda Arie van de Loosdrecht di
Rante Dengen Bori' pada tanggal 27 Desember 1917, maka Pong Massangka alias Ne' Babu' salah satu yang tertuduh sehingga dihukum buang ke Bogor / Nusa Kambangan dan dikembalikan pada tahun 1930 ke Tana Toraja dan meninggal dunia pada tahun 1960 dalam usia 120 tahun (lahir 1840). Mayat Pong Massangka dengan gelar Ne' Babu' disemayamkan dalam patane ini dan tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat.
17.    SUAYA KUBURANRAJA-RAJA SANGALLA
Kuburan berada di salah satu sisi dari bukit. Dipahat sebagai tempat beristirahat dari tujuh raja dan keluarga kerajaan Sangalla. Tau-tau dari Raja-raja dan keluarga raja berpakaian sesuai dengan pakaian adat raja Toraja di tempatkan dimuka kuburan batu. tangga batu tersedia untuk naik ke bukit dimana raja dikala hidupnya digunakan untuk bersepi-sepi, ditempat itu akan dibuat museum untuk menempatkan harta kekayaan dari raja-raja Sangalla.



18.     TO' BARANA  SA'DANG
Ada yang berpendapat bahwa To'barana Sa'dang adalah pusat dari daerah Toraja. Di bagian dari kampung-kampung ini terdapat empat lumbung pada tarawat dengan halaman rumput yang apik. Tenunan Toraja yang sangat menawan dipajang dan dijual dikampung ini. Sekitar kampung sawah yang berteras-teras juga manis untuk disaksikan

   Kesenian dan Hasil Kerajinan Tana Toraja

1.        Tarian (Tari Pa' Gellu')
Saat ini tarian Ma'gellu' sering juga dipertunjukkan pada upacara kegembiraan seperti pesta perkawinan, syukuran panen, dan acara penerimaan tamu terhormat. Tarian ini dilakukan oleh remaja putri dengan   jumlah   ganjil   dan   diiringi
irama gendang yang ditabuh oleh remaja putra yang berjumlah empat orang. Busana serta aksesoris yang digunakan adalah khusus untuk penari dengan perhiasan yang terbuat dari emas danperak seperti Keris Emas/Sarapang Bulawan, Kandaure, Sa'pi' Ulu', Tali Tarrung, Bulu Bawan, Rara', Mastura, Manikkata, Oran-oran, Lola' Pali' Gaapong, Komba Boko' dan lain-lainnya.

2.       Tarian Ma' Papangngan
Bagi masyarakat Toraja untuk menjamu tamu, suguhan yang pertama adalah sirih pinang yang akan melambangkan bahwa tamu yang datang telah di terima dalam lingkungan       keakraban         keluarga.        Ma’ Papangngan         ditarikan         untuk
menyambut tamu tamu yang sangat di hormati dengan di iringi ungkapan :

Pangngan mo tanda mali’ki’ Kisorong sorong mati’
Solonno pengkaboro’ki’ Ritingayona mala’bi’ta’
Inde’mo sorongan sepu’ Rende pela’i toda
Kiala tanda mala’bi’  Ki po rannu matoto’
Arti :

Sirih pinang adalah tanda rasa kekeluargaan yang akrab. Kami suguhkan
dengan hormat, kiranya  terimalah dengan segala senang hati.

3.       Di samping seni tari dan seni suara serta pantun juga
diperkenalkan seni musik tradisional Toraja antara lain :

Passuling
Semua lagu-lagu hiburan duka dapat diikuti dengan suling tradisional Toraja (Suling Lembang). Passuling ini dimainkan oleh laki-laki untuk mengiringi lantunan lagu duka (Pa'marakka) dalam menyambut keluarga atau kerabat yang menyatakan dukacitanya. Passuling ini dapat juga dimainkan di luar acara kedukaan, bahkan boleh dimainkan untuk menghibur diri dalam keluarga di pedesaan sambil menunggu padi menguning.

Pa'pelle/Pa'barrung
Semua lagu ini sangat digemari oleh anak-anak gembala menjelang menguningnya padi di sawah. Alat musiknya terbuat dari batang padi dan disambung sehingga mirip terompet dengan daun enau yang besar. Pa'barrung ini merupakan musik khusus pada upacara pentahbisan rumah adat (Tongkonan) seperti Ma'bua', Merok, Mangara dan sejenisnya.

Pa'pompang/Pa'bas
Inilah musik bambu yang pagelarannya merupakan satu simponi orkestra. Dimainkan oleh banyak orang biasanya murid-murid sekolah di bawah pimpinan seorang dirigen. Musik bambu jenis ini sering diperlombakan pada perayaan bersejarah seperti hari peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, Peringatan Hari Jadi tana Toraja. Lagu yang dimainkan bisa lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah Tana Toraja, lagu-lagu gerejawi, dan lagu-lagu daerah di seluruh Indonesia.

Pa'karobi
Alat kecil dengan benang halus diletakkan pada bibir. Benang atau bibir disentak-sentak sehingga menimbulkan bunyi yang berirama halus namun mengasyikkan.

Pa'tulali'

Bambu kecil yang halus, dimainkan sehingga menimbulkan bunyi/suara yang lumayan untuk menjadi
 hiburan.


4.       UKIRAN  TANA   TORAJA
salah satu hasil budaya yang terkenal dari Toraja adalah ukiran kayu. Peninggalan budaya yang sangat tua ini menjadi andalan wisata belanja Tana Toraja. Umumnya, ukiran Toraja menggunakan medium kayu bujur sangkar berukuran 20x20 cm  yang berfungsi  sebagai hiasan dinding.   
Mengapa Orang Mati di Toraja Tidak segera dikuburkan???    
Bagi masyarakat luas yang belum mengenal budaya Toraja khususnya rangkaian Aluk Todolo(Agama yang sama dengna nenek moyang), akan merasa heran Jika melihat ada mayat  yang sudah bertahun-tahun dan ditaruh dalam rumah menuggu dipestakan. Inilah ciri khas masyarakat Toraja yang mungkin tak terdapat di daerah lain di Indonesia atau di dunia ini. Latar belakang orang Toraja menahan mayat  di rumah dan tak cepat di kubur karena :
J  Jika seseorang meninggal anggota keluarga meninggal dan segera dikubur maka kepergiannya akan meninggalkan perasaan yang sangat parah.
J  Kematian seorang anggota keluarga harus dikabarkan pada seluruh keluarga dan seorag anak Toraja mempunyai kewajiban untuk hadir dan memberi penghormatan terakhir untuk ibu bapaknya. Seorang anak perempuan Toraja harus meneteskan air mata yang terakhir untuk jasad tubuh yang telah memberinya dunia ini untuknya.
J  Seluruh keluarga perlu diberi kesempatan untuk bermusyawarah menentukan waktu dan tingkat upacara pemakaman mana yang akan dipilih . Serta persiapan mendapatkan uang dan kesempaatn membuat pondok tamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar