Kamis, 05 April 2012

Apakah Mereka Bahagia ?

Selama hampir setahun jadi anak unhas, banyak hal ketika duduk di bangku SMA, hanya melihat beragam fenomena melalui layar kaca. Miris.. Sakit.. Saya seperti belum menjadi manusia berguna. Setiap hari, setiap jalan yang ku lalui untuk menuntut ilmu di bumi Tamalanrea, begitu banyak pemandangan-pemandangan yang nyaris membuat hati saya teriris.
Di lampu merah perempatan Jl. Landak, Jl. Kerung-kerung, Makassar. Masya Allah.. saya kerap kali mendapati anak-anak yang seharusnya sibuk belajar di malam hari, seharusnya sibuk memepersiapkan diri untuk MID semester, justru harus mengeluarkan tenaga di malam hari demi mengharap Rp 500 dari sang dermawan. 
Itu baru malam hari, kalo sore hari... kamu akan melihat banyak anak-anak usia balita hingga usia produktif untuk menuntut ilmu di sekolah dasar, berkeliaran tanpa alas kaki di sepanjang lampu merah, sambil menenteng kaleng-kaleng kecil, dan menyanyikan lagu Ayu Ting Ting.
Itu baru malam dan sore hari, adakah suara -suara mereka memecah kesunyian subuh dan waktu dini hari?
Lain lagi tuh di Unhas..



di kantin, ada sekumpulan peminta-minta yang kebanyakan di dominasi oleh anak-anak usi aproduktif sekolah dasar . Saya... saya serba salah, memberi uang berarti membiarkan mereka hidup dalam pengharapan dari belas kasih orang lain secara terus menerus, tapi kalo nggak di kasih, kasian sekali T_T




Ada juga pengais sampah.. mereka mengangkat karung beras di pundak mereka, mulai orang tua hingga balita..
Pernah juga saat saya sedang menyapu ruang tengah rumah, gak sengaja nonton berita  liputan salah satu channel TV swasta. Ada dua anak balita usia 7 tahun yang terkena busung lapar, mereka di tinggal mati oleh ayahnya, dan ibunya lari entah kemana. Sungguh... saat itu juga saya langsung menitikkan air mata. Saya ingin marah.. tapi tak tahu dengan siapa. Sungguh.. satu hal yang membuatku terkesan, dua cowok bersaudara itu masih mampu tersenyum, di tengah-tengah mal nutrisi yang menjangkitinya. Masya Allah.
Bukan hanya itu
tukang becak pun membuat hati saya terluka. Saya membayangkan apa yang terjadi jika abang tukang becak itu adalah bapak ku? wana'udzubillah... walaupun ini halal, pak guru biologi pernah bilang Pekerjaan tukang becak adalah pekerjaan yang tidak manusiawi. Karena mereka pure menggunakan energinya dalam jumlah yang besar. Apalagi kalo penumpangnya besar, bawa belanjaan, dan matahari lagi terik-teriknya.




Area jalan vetran








Area Masjid Raya Makassar



Entah .. siapa seharusnya yang bertugas untuk mengatasi pengangguran :( pekerjaan yang sungguh menguras tenaga itu..
Hati ini remuk, aduh.. tak tahu apa ini terlalu lebay
Tapi.. saya benar-benar merasa belum berguna.
Mereka kembali mengingatkanku pada masa pemerintahan khalifah Umar, pada saat itu tidak ada 1 pun orang miskin. Hingga tak tahu kemana lagi persediaan beras/makanan akan diinfakkkan karena sungguh rakyat nya sangat sejahtera, Subhanallah...
Sebagai generasi muda, mereka telah memberi satu pelajaran berhara, yaitu tidak menyia-nyiakan waktu dan finansial yang Allah titipkan kepada kita..
Mereka.. memberi kan ku motivasi untuk giat belajar. Saya senang melihat senyuman mereka.
Terkadang sya membayangkan mereka memakai seragam putih merah. Masya Allah..
sungguh saya bingung... kemana mereka harus di salurkan ?? T_T
Saya sungguh tak rela melihat mereka seperti itu, Entah ini kesalahan orang tua nya atau siapapun




Ya Allah.. tentu Engkau tahu persis, bagaimana mereka, seperti apa kehidupan mereka yang sebenarnya
apakah ia bahagia
apakah ia kesakitan
apakah ia masih mampu tersenyum dengan tulus
Ya Allah..
Engkau jauh lebih tahu.. d banding hamba-Mu yang dhaif ini
Ya Allah.. ku titip doa ku untuknya, sayangi, selamatkan dan sejahterahkanlah mereka dunia akhirat,
Semoga mereka senantiasa mengingat-Mu ya Allah

aaaamiiiiiiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar