Kamis, 31 Mei 2012

Mataku, hatiku, semua bagian dari diriku akan sakit melihatmu..


Gak terasa sudah hampir setahun jadi mahasiswa. Seru?? Lumayan sih, walaupun khofiyaa kurang menikmatinya. Banyak hal yang justru berbanding terbalik dari apa yang saya harapkan saat SMA. Setelah dapat pengumuman kalo lulus jalur undangan (Alhamdulillah), dan beberapa kali keliling unhas, saya benar-benar membayangkan kehidupan awal perkuliahan  yang menyenangkan. Kakak-kakak senior menyambut adik-adiknya dengan ramah, namun.. sekali lagi hal itu mungkin hanya terjadi di sinetron-sinetron indonesia ataupun beberapa film jepang dan korea. Mimpi itu benar-benar menjadi mimpi buruk.. I never felt it, although once.. sangat kaku, mm.. kata yang cocok untuk menggambarkannya kurang lebih adalah –seniority­­-. Itu kesan pertamaku, setelah kurang lebih 3 bulan berlalu awal perkuliahanku kakak-kakak senior dengan tampang sangar (entah natural ato dipaksain ---keep husnodzon--) mulai meng-kritik kami dari ujung kaki hingga ujung kepala. Segala yang dianggap tidak pantas dimatanya akan segera dipaksa untuk melepasnya (sekali lagi.. ini entah faktor sayang adek, takut saingan, ato balas dendam ---keep husnodzon--)
But, dibalik sangarnya aktivitas senioritas itu.. saya merasa bersyukur. Dengan penekanan yang begitu keras, saya justru tidak akan melihat teman-temanku berpakaian ketat, dan banyak lagi. Banyak hal yang ku khawatirkan kelak, di semester 3 nanti dan semester-semester berikutnya. Beberapa diantanya adalah sebagai berikut;
1.       Jika selama masa pengkaderan setahun aku akan melihat seluruh teman-teman angkatanku memakai rok panjang yang tidak ketat, justru di semester berikut aku sangat takut.. melihat mereka memutuskan untuk memakai celana ketat, dan menampakkan lekukan tubuhnya. Hal itu sangat memprihatinkan. Saya sebagai saudari seiman mereka, jauh di dasar hati.. sangaaaaaat sakit melihat mereka merasa baik-baik saja memakai pakaian yang.. tidak disukai Allah Subhanahu Wata’ala.
2.       Jika selama masa maba mereka selalu memakai kaos kaki, masa berikutnya mungkin ia akan lengah memakai kaos kaki. Padahal kaki merupakan salah satu aurat bukan?? Masya Allah… ana merasa sangat miris jika hal tersebut akan menjadi kenyataan
3.       Jika selama masa maba dituntut untuk tidak bergaya saat berjilbab, semester berikutnya mungkiin mereka akan mulai berkreasi. Mereka mungkin, akan memakai hijab dengan berbagai style yang mereka anggap salah satu kreasi dalam menutup aurat. Wana’udzubillah.. bukankah tujuan berjilbab adalah untuk menutup aib? Ya! Aurat adalah aib seorang muslimah.. Bukankah tujuan berjilbab untuk menghindari gangguan ataupun pandangan-pandangan dari mereka yang bukan mahram? Kreasi jilbab yang melilit-lilit leher, kepala, dikepang, dan sebagainya itu… bukankah malah akan menambah pandangan, jelalatan mata para kaum adam kepada kita? Tidak cukupkah jika yang berhak saja (suami) kelak kita harusnya memperlihatkan kecantikan kita?
4.       Jika selama masa maba diharuskan untuk tampil biasa-biasa saja, saya justru takut… kelak mereka akan mulai berkenalan dengan make up. Aku takut.. jika itu akan menambahkemurkaan Allah kepada mereka, disebabkan mereka bertabarruj.
5.       Jika mereka segan dengan senior mereka sekarang, aku sungguh takut kelak mereka mulai menjalin hubungan, yang orang-orang sebut dengan nama pacaran. Masya Allah, bukankah itu adalah pintu-pintu menuju Zina ????
Sekali lagi itu hanyalah kekhawatiranku. Ya!! Kekhawatiranku sebagai saudara seiman, yang sangaaaaaaaaaaaaaat takut saudari-saudarinya terjerumus ke lembah kemaksiatan, sementara mereka menganggap keadaan mereka baik-baik saja, dan nyaman dengan kemaksiatannya. Aku berkata seperti itu.. bukan karena aku yang paling hebat, yang paling berilmu, dan yang paling beriman. Aku.. sebagai orang yang paling dekat dengan mereka sungguh takut, jika kelak di pengadilan Allah di akhirat nanti, mereka semua akan menuntutku “Hei khofiyaa… mengapa dahulu kau tidak memperingatkanku?” wana’udzubillah. Hal itu sungguh sangat aku hindari. Hal  itu adalah salah stau bentuk cinta, sayang , dan peduliku pada mereka. Justru harus bagaimana?? Jika dinasehati.. akan merasa digurui.. Ya ! inilah proses, khofiyaa masih perlu banyak belajar berkomunikasi dengan lembut, agar mereka tidak merasa diceramahi, tapi merasa diperhatikan. Ya Allah, semoga Engkau menuntun hati-hati kami menuju jalan-Mu, jalan yang lurus. Aaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar