Selasa, 12 Juni 2012

(Part.1) Daurah Syar’iyyah “Darah Kebiasaan Wanita”


Oleh: Syaikh Abdullah Az-Zaidani, murid Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah
(Istihadhah dan Nifas)
A.     Pembagian-pembagian darah
@ Darah haid: darah alami yang keluar dari rahim wanita; tanpa sebab-sebab tertentu
@ Istihadhah: darah yang terus mengalir dari seorang wanita yang tidak terputus-putus atau terputus dalam masa yang pendek
@ Darah nifas
B.     Keadaan wanita beristihadhah
1.      Kebiasaan Haid pada Waktu-Waktu Tertentu
Misalnya enam hari haid pada awal bulan, maka hari selebihnya atau lewat dari hari kebiasaan haidna maka itu disebut darah istihadhah. Hukum istihadhah sama hukumnya dengan hukum wanita suci. Berdasar contoh diatas, enam hari tersebut adalah hari-hari haid, sedangkan selebihnya adalah hari-hari istihadhah. Hal ini berdasarkan hadist dari Aisyah dimana Fatimah mengadu tentang darah istihadhah.
2.      Wanita yang Kebiasaannya Tidak Diketahui
Sejak awal ia mengalami haid, sejak itulah ia beristihadhah. Seorang wanita yang mengalaminya harus melakukan tamyiz yaitu membedakan antara dua jenis darah (kalau haid darahnya jental dan memiliki bau amis, maka selainnya dihukumi darah istihadhah). Contoh: Seorang wanita yang darahnya keluar terus, maka ia berusaha untuk membedakan darah tersebut. Jika 10 hari pertama ia mendapatkan darah yang kental maka saat itu ia dihukumi darah haid dan setelahnya dihukumi darah istihashah. Haditnya adalah dari fatimah binti hubais yang mengeluhkan tentang darah penyakit “Jika itu adalah darah haid maka itu adalah darah yang hitam, maka jika itu darah haid maka jangan shalat, dan jika bukan darah haid maka wudhu dan shalatlah karena itu adalah darah  yang keluar dari salah satu cabang saluran darah (istihadhah).
3.      Seorang Wanita yang Tidak Memiliki Kebiasaan Tertentu dari Haidnya dan Tidak Bisa Membedakan Antara darah hais dan darah istihadhah atau sulitnya membedakan antara dua jenis darah tersebut.
Maka yang dilakukan adalah wanita yang bersangkutan (yang tidak mampu membedakan) melihat kepada wanita disekitarnya (saudara, ibu), ia lalu mengingat kapan ia terakhir mendapatkan haid dari bulan-bulan qamariyah. Maka ia menghitung sesuai dengan keadaan itu (misalnya, haidnya enam hari, maka enam hari itu adalah darah haid dan selebihnya adalah istihadhah). Misal, setiap tanggal 10 qamariyah ia mendapatkan darah (ia tidak bisa mengetahui apakah itu darah haid atau darah istihadhah, maka ia melihat kebiasaan wanita disekitarnya, (berapa lama mereka haid, misalnya enam hari. Maka selama enam hari dari tanggal 10 qamariyah adalah masa haidnya dan selebihnya adalah istihadhah). Jika wanita disekitarnya juga tidak memiliki kebiasaan tertentu dari kebiasaan haidnya, dalil -> Hamna binti Jahs yang mengadu tentang “mengalami istihadhah yang besar”, “aku jelaskan kepadamu, kapas seperti ini untuk penyumbatnya” dalam hadist lain, “sesungguhnya darah istihadhah adalah gangguan dari syaithan, maka anggaplah bahwa engaku haid enam atau tujuh hari maka setelah itu mandilah, dan shalatlah, dan puasalah selama 24 atau 23 hari” HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi”. Dalam hadits Hamna dijelaskan bahwa enam atau tujuh hari (Rasulullah menyuruh melihat pada orang terdekatnya).
C.     Masalah Wanita yang Istihadhah
1.      Wanita yang  dioperasi dan rahimnya diangkat (tidak dapat haid lagi) maka jika keluar darah maka darah tersebut adalah darah istihadhah
2.      Operasi yang dijalani oleh seorang wanita tapi haidnya tidak berhenti, maka jika ia mengalami darah istihadhah maka kembali ke pembahasan sebelumnya.
Dalam keadaan istihadhah ini, maka hendaknya mengkonsultasikan dengan
dokter wanita yang terpercaya


Hukum-hukum yang berkenaan dengan wanita istihadhah adalah sama dengan 
wanita suci (shalat, whawaf, dan sebagainya) namun yang perlu diperhatikan 
adalah jangan sampai darah tersebut terkena pakaian, terutama saat ia akan 
melaksanakan shalat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar