Selasa, 19 Juni 2012

Tugas Akhir PBIP Semester I


MAKALAH
PENGETAHUAN BAHAN INDUSTRI PANGAN
MINYAK ASIRI DARI TANAMAN NILAM




DISUSUN OLEH :

1.    HARIYATI
2.    me..^^
3.    NURUL ILMI MUSRA
4.    FITRI HAMZAH
5.    DARMA
6.    EVI KUMALASARI


PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011


BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Potensi Minyak Atsiri
Sejak lama manusia telah mengenal bau harum yang berasal dari tanaman. Konon bangsa Romawi dan Mesir Kuno memakai aroma harum tanaman seperti lavender dan melati untuk mandi, membalur tubuh, dan pemijatan sjak 6000 tahun yang lalu. Ahli-hli bangsa Romawi menciptakan cairan harum asal tanaman yang sedemikian cepat menstimulasi syaraf pusat dan membuat pemakainya merasa nyaman.
Di Indonesia, tanaman aromatik telah lama dikenal, terutama sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Seperti halnya bangsa romawi, aroma harum itu lebih banya digunakan oleh kaum Hawa untuk keperluan mandi dan membalur tubuh. Sejatinya masyarakat tradisional sudah akrab dengan aroma harum yang berasal dari tanaman.
Tanaman berbau harum-ekstraknya disebut dengan minyak asiri, mulai ditelisik lebih dalam oeh banyak ahli. Sekitar 5 abad yang lalu pmbaharu Paracelcus (1493-1571) tdak menduga jika hipotesanya menjadi kunci perkembangan minyak asiri di duna. Paracelcus mrinci bahan-bahan hasil penyulingan dapat menghasilkan ekstrak penting. Ekstrak itu disebut Quinta essentia, selanjutnya ditabalkan sebagai intinya obat. Seperti halnya inti obat, minyak asiri diperoleh melalui proses ekstraksi.
Minyak asiri mulai dikenal luas sejak abad ke 16. Pada saat itu segelintir industri pnyulingan di Perancis memproduksi minyak asiri asal bunga lavender Lavandula angustifolia. Minyak lavender dikemas dalam botol-botol kecil dan berharga mahal.
Kebutuhan besar bahan baku minyak asiri dunia yang menyebabkan bangsa Indonesia dahulu dijajah oleh bangsa Eropa. Sampai saat ini Indonesia tetap menjadi salah satu sumber bahan baku minyak asiri dunia. Contohnya minyak nilam Pogostemon cablin. Minyak itu tersohor sebagai fiksatif alias pengikat aroma wangi dan mencegah penguapan zat wangi pada parfum.
I.2. Potensi Tanaman Nilam
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya.
Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.
Diantara sekian banyak minyak asiri, minyak nilam yang paing banyak diproduksi. Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasaran dunia dengan konstribusi 90%. Ekspor minyak nilam pada tahun 2002 mencapai 1.295 ton engan nilai US$22,5 juta. Setiap tahun Indonesia mengekspor minimal 1.500 ton minyak nilam. Berapa negara tujuan ekspor adalah Singapura, Perancis, Amerika serikat, Swiss, Inggris, dan India.
Oleh karena itu minyak nilam asal Indonesia dikenal masyarakat dunia ketimbang negara-negara lainnya. Meskipun dari segi kualita sebenarnya ada minak nilam dari China dan Brazil yang sedikit lebih unggul. Minyak bermanfaat sebagai bahan baku parfum, kosmetik, antiseptik, dan insektisida. Karena bersifat fiksatif, minyak nilam digunakan untuk “mengikat” minyak asiri lain. Hingga kini belum ad produk substitusi mnyak nilam. Belakangan ini minyak nilam juga digunkan dalam terapi aroma.
Sentra produksi nilam terdapat di Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Nangroe Aceh Darussalam. Namun kini, nilam juga berkembang di berbagai daerah seperti Provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Luas area penanaman nilam dari tahun ke tahun terus meningkat.
Minyak nilam yang bermutu tinggi antara lain dipengaruhi oleh bahan baku dan proses penyulingannya. Tanaman nilam yang terawata baik akan tumbuh optimal shingga jumlah daun lebih banyak. Dengan jarak tanaman 75cm x 100cm, produksi per hektar bisa mencapai 20 ton daun basah berkadar air 80%


BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Pasca Panen Tanaman Nilam
Tanaman nilam yang tumbuh dan terpelihara dengan baik, sudah dapat dipanen pada umur 6 sampai 8 bulan setelah penanaman. Pemanenan dilakukan dengan memangkas atau memotong cabang-cabang, ranting-ranting dan daun-daun tanaman nilam. Sebaiknya pada setiap panen dibiarkan satu cabang tumbuh untuk mempercepat tumbuhnya tunas baru.
Untuk teknis pemanenan atau pemetikan daun nilam sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari atau dapat juga dilakukan menjelang malam hari. Satu hal yang perlu untuk diperhatikan bahwa pemetikan daun jangan dilakukan pada siang hari. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga daun agar tetap mengandung minyak atsiri yang tinggi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasca panen :
a.    Alat Panen
Alat yang digunakan untuk panenan tanaman nilam adalah sabit, gunting, atau parang yang tajam. Yang harus diperhatikan adalah kebersihan dari alat-alat tersebut.
b.    Cara Panen
Pada panen pertama, bagian yang boleh dipangkas dari tanaman nilam adalah cabang-cabang dari tingkat dua ke atas, sedangkan cabang-cabang dari tingkat pertama ditinggalkan. Setelah selesai pemanenan pertama, pekerjaan selanjutnya adalah pembumbunan atau menumbut cabang pertama tadi. Pembumbunan cabang tersebut sistem pemindahan vegetasi tanpa pemindahan areal.

c.    Perlakuan daun nilam sebelum disuling
Pamanenan daun-daun nilam dipotong-potong sepanjang 3-5 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Proses tersebut perlu dilakukan karena minyak nilam di dalam tanaman dikelilingi oleh kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh, kantong minyak atau rambut gladular, sehingga bila bahan dibiarkan utuh, kecepatan pengeluaran minyak hanya tergantung dari proses difusi yang berlangsung sangat lambat. Pengecilan ukuran bahan biasanya dilakukan dengan pemotongan atau perajangan, hal ini bertujuan agar kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak mungkin sehingga memudahkan pengeluaran minyak dari bahan-bahan tersebut. Cara menjemur hasil panenan yang baik adalah dengan menggelarnya di atas tikar atau tempat lainnya atau juga di lantai semen yang bersih dan bebas dari daun tanaman lain. Penjemuran dilakukan selama 4 jam (10.00 – 14.00). Setelah dijemur dianginkan di tempat yang sejuk/teduh (dalam ruangan) dengan tebal lapisan 50 cm.
Lapisan ini harus dibalik 2-3 kali sehari selama 3-4 hari, sehingga diperoleh kadar air bahan 15%. Setelah itu sudah dapat dimulai disuling.  Hindarilah pengeringan yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Pengeringan yang terlalu cepat dapat menyebabkan daun terlalu rapuh dan sulit untuk disuling. Sedangkan pengeringan yang terlalu lambat menyebabkan daun menjadi lembab dan mudah diserang jamur, akhirnya rendemen atau mutu minyak yang dihasilkan akan menurun.
d.    Penyulingan
Adapun penyulingan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu cara direbus, dikukus, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Kapasitas ketel penyulingan bervariasi, mulai dari 200-2000.
Ketel dibuat dari bahan antikarat, seperti stainless steel, besi atau tembaga berlapis alumunium Dari ketel akan keluar uap kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya, dilakukan proses pemisahan sehingga diperoleh minyak nilam murni. Dewasa ini juga sudah dikembangkan pula modifikasi penyulingan dengan uap langsung yang disebut penyulingan secara hidrodifusi.
Untuk instalasi skala kecil penggunaan penyulingan cara direbus dan cara dikukus lebih menguntungkan. Sedangkan untuk instalasi skala besar atau skala industri penerapan cara penyulingan uap lebih menguntungkan (Ketaren, 1985). Penyulingan nilam dalam tangki steinless steel dengan cara uap memberikan rendemen dan kadar ”patchouli alkohol” yang lebih tinggi dibandingkan cara rebus maupun kukus. Makin lama waktu penyulingan, makin tinggi rendemen, bobot jenis, bilangan ester dan kadar ”patchouli alkohol” dari minyak yang dihasilkan. Minyak yang dihasilkan dengan cara ini memenuhi standar SNI. Diagram alir proses penyulingan minyak nilam dapat dilihat pada Gambar 3.
II.2. Kandungan Minyak Nilam
Minyak yang berasal dari nilam dimanfaatkan sebagai obat-obatan seperti antiseptik, anti jamur, anti jerawat, obat eksim, dan kulit pecah-pecah, serta ketombe, mengurangi peradangan, bahkan dapat membantu mengurangi kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur) dan bersifat afrodisiak meningkatkan gairah seksual.
Pada dasarnya seluruh bagian tanaman nilam seperti akar batang hingga daun mengandung minyak namun kandungan kualitas dan kuantitasnya sangat berlainan. Kandungan terbanyak terdapat di daunnya yaitu pada waktu tunas mengeluarkan tiga daun pertamanya. Untuk mendapatkan minyak nilam yang berkualitas diperlukan dengan proses penyulingan minyak nilam terbaik.
Minyak nilam atau patchouli oil, hasil sulingan daun nilam digolongkan dalam empat jenis mutu yang dibedakan menurut aroma :
·         ordinary dan medium              : hasil sulingan Indonesia dan Singapura
·         special dan extra special        : hasil sulingan Prancis dan Inggris,
  dimana penyulingan dilakukan secara    
  tidak langsung  dan daun dipilih terlebih
  dahulu.
Adapun patokan mutu minyak nilam yg diberikan oleh EOA berdasarkan sifat alami dan kimiawinya ialah :
·         cairan berwarna cokelat kehijauan sampai cokelat tua kemerahan dengan aroma khas, awet, dan sedikit mirip kamper
·         berat jenis (25 oC) : 0,950 s.d. 0,975
·         putaran optik : -48 o s.d. -65 o
·         refractive index (20 oC) : 1,5070 s.d. 1,5150
·         nilai acid : < 5%
·         nilai penyabunan : < 20
·         kelarutan dlm alkohol 90% : larut dlm 10 volume.
Penggunaan limbah nilam sebagai pupuk kompos dapat menghemat pemakaian pupuk Nitrogen sebesar 10 % dan disamping itu juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Di Bengkulu limbah nilam disamping digunakan sebagai pupuk di sawah, juga berfungsi sebagai penolak hama wereng. Kompos limbah sisa hasil prosesing minyak nilam mempunyai kandungan hara yang cukup tinggi dan potensial bagi sumber pupuk organik alternatif yang bermutuh tinggi (Djazuli, 2002).
II.3. Produk dan Olahan

Berikut adalah bagan proses pengolahan minyak atsiri dari nilam dengan proses penyulingan.


Proses pasca panen pada bagan diatas telah dijelaskan pada materi diatas. Minyak nilam punya sifat susah dicuci sekalipun dengan air sabun, tapi larut dalam alkohol hanya saja sukar menguap. Karena sifat-sifatnya itu, minyak nilam digunakan sebagai bahan baku dalam industri wangi-wangian (parfum). Pada proses pengolahan produk pada bagan diatas diawali dengan pemprosesan minyak nilam lebih lanjut dengan proses deterpenasi untuk memisahkan antara oxygenated hydrocarbon dan seskuiterpen. Oxygenated hydrocarbon yang dihasilkan difraksinasi untuk memisahkan komponen-komponen patchouli alkohol, eugenol, benzaldehid dan sinamaldehid. Patchouli alkohol merupakan komponen utama sebagai penentu aroma khas minyak nilam, yang sangat penting dalam pembuatan parfum. Kandungannya dalam minyak nilam tidak kurang dari 30% dari bobot minyak. Metode penghilangan senyawa terpen atau terpenless biasa dilakukan terhadap  minyak atsiri yang akan digunakan dalam pembuatan parfum, karena minyak yang dihasilkan akan memberikan aroma yang lebih baik (Hernani et al., 2002; Sait dan Satyaputra, 1995). Ada dua cara penghilangan terpen, yaitu dengan adsorpsi menggunakan kolom alumina menggunakan eluen tertentua dan ekstraksi menggunakan alkohol encer.
Sifat-sifat minyak nilam yang dapat larut dalam alkohol, dapat dicampur (blending) dengan minyak atsiri lainnya, dan sukar menguap dibanding minyak atsiri lainnya, menyebabkan minyak nilam baik untuk digunakan sebagai fiksatif (zat pengikat bau) dalam parfum dan dapat membentuk bau yang harmonis.
Penambahan fiksatif di dalam parfum adalah untuk mengikat bau wangi dan mencegah penguapan zat pewangi yang terlalu cepat, sehingga bau wangi tidak cepat hilang atau lebih tahan lama. Peranan minyak nilam sebagai fiksatif belum dapat disubstitusi oleh minyak atsiri lain ataupun bahan sintetis.
Minyak nilam yang dihasilkan disimpan dalam wujud cairan, dikemas dalam drum bersih, kering, keadaan baik, berat netto 200 kg dengan head space sebesar 5 – 10% dari isi drum. Drum penyimpanan minyak nilam harus terbuat dari alumunium atau plat timah putih atau plat besi yang berlapis timah putih, plat besi yang galvanis atau yang didalamnya dilapisi dengan lapisan yang tahan minyak nilam.



BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa;
ü  Proses pembuatan minyak Nilanm berawal dari panen setelah enam bulan ditanam, pemotongan, pengeringan atau pelayuan, pengecilan ukuran, peranjangan, penyulingan, deterpenasi, lalu menjadi minyak asiri
ü  Akar, batang, dan daun tanamaan Nilam mengandung minyak Asiri.
ü  Minyak Nilam memiliki banyak manfaat seperti dalam pembuatan parfum.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim I. 2011. Pemanfaatan Limbah Nilam. [Online]. Tersedia:  http://onlinebuku.com/2009/01/05/pemanfaatan-limbah-nilam/. Diakses pada tanggal 13 Desember 2011.


Anonim III. 2011. Kandungan GCO-Puregan Oil. [Online]. Tersedia:  http://purtagan.multiply.com/reviews/item/1. Diakses pada tanggal 14 Desember 2011.

Anonim IV. 2011. Perkembangan Teknologi Pengolahan Dan Penggunaan Minyak Nilam Serta Pemanfaatan Limbahnya. [Online]. Tersedia:   http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/teknologi-pengolahan-atsiri/feri-manoi/ . Diakses pada tanggal 14 Desember 2011.


Anonim V. 2011. Pohon Industri Minyak Atsiri. [Online]. Tersedia: http://binaukm.com/2010/04/pohon-industri-minyak-atsiri/. Diakses pada tanggal 14 Desember 2011.

Anonim VI. 2009. Minyak Asiri. Depok: PT Trubus Swadaya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar