Jumat, 01 Maret 2013

TREN AGRIBISNIS DI BERBAGAI NEGARA :)


A.   Eropa
Eropa mengembangkan model baru perpaduan organik, dengan mengombinasikan pengurangan pengolahan tanah dengan rabuk hijau. Kombinasi tersebut merupakan proyek penelitian selama tiga tahun terakhir, dengan judul “Reduced Tillage and Green Manures for Sustainable Cropping Systems” (TILMAN-ORG). Penelitian tersebut terdiri atas 11 negara-negara Eropa, dipimpin oleh Research Institute of Organic Agriculture (FiBL) Swiss. Pengurangan pengolahan tanah yang dilakukannya berpotensi memperbaiki struktur dan biologi tanah yang rusak akibat praktek pembajakan konvensional. Setelah diujicobakan, ternyata penggunaan rabuk hijau pada pengurangan pengohan tanah ramah lingkungan dan menaikkan kadar bahan organik dan kegiatan biologis tanah. Proyek TILMAN-ORG dimaksudkan untuk mengembangkan sistem pengurangan olah tanah dengan menggunakan rabuk hijau dan bisa diterapkan pada pertanian organik. Riset tersebut menekankan pada strategi menangani gulma yang efisien, penilaian emisi gas rumah kaca, dan perbaikan manajemen hara.
1)      Belanda
Penduduk yang padat, tanah yang mahal dan kemampuan teknik yang tinggi, menyebabkan orang di negeri Belanda mengolah secara intensif hasil pertanian dan perkebunan. Hampir 70% tanah dipergunakan sebagai tanah olahan, 59% merupakan padang rumput , 35% tanah ladang dan 6% tanah perkebunan.
Peningkatan produksi pertanian yang tinggi, tidak lepas dari keahlian dan pengetahuan petani itu sendiri dalam mendapatkan pelajaran dari sekolah tingkat menengah sampai sekolah tinggi pertanian Wageningen, yang diajarkan tentang penelitian ilmiah pertanian diantaranya yaitu, pembuatan bibit unggul setiap varietas, pengolahan lahan terbatas menjadi lahan produktif, inovasi bahan organik menjadi sumber nutrisi tanaman, serta penggunaan mekanisasi secara berkelanjutan dalam rangka mengintensifkan kegiatan pertanian dengan hasil berkualitas tinggi.
Beberapa petani memiliki minimal 20 hektar tanah. Peternak sapi punya antara 100 hingga 260 sapi. Semua pertanian ini dikelola
oleh 2-3 orang meski kadang-kadang mereka membayar buruh untuk pekerjaan sementara. Petani di Belanda juga menggunakan traktor untuk memotong rumput dan memberi makan sapi-sapi tiap hari sehingga dengan traktor, makanan dapat dicampur untuk 60 ekor sapi sekali campuran. Hal lain yang menakjubkan adalah petani menggunakan robot untuk memeras susu. Proses pemberian pakan serta pemantauan hewan ternak menggunakan komputerisasi sekaligus melihat sejauh mana ketercukupan gizi tiap sapi, bisa dibedakan sapi yang butuh lebih banyak nutrisi dan mana yang tidak.
Memiliki luas wilayah hanya 41.526 km2,  Belanda memanfaatkan potensi alamnya dengan sebaik-baiknya untuk pertanian sehingga dapat mencukupi kebutuhan masyarakatnya hingga menjadi pengekspor hasil pertanian. Hal tersebut selain ditunjang keuletan memanfaatkan lahan yang dimiliki, juga  ditunjang oleh keoptimalan, serta terintegrasi penuh pada teknologi modern. Beberapa teknologi modern yang telah digunakan yakni rumah kaca, memanipulasi iklim dalam ruangan serta teknologi robotik, dan komputerisasi. Jika musim panas tiba, Belanda menerapkan mekanisme solar cell rumah kaca yang berfungsi memanen energi panas yang nantinya disimpan di tandon serta sungai bawah tanah sehingga mampu menaikkan suhu air. Hal tersebut sangat menguntungkan jika musim dingin telah tiba karena mesin-mesin blower memanen simpanan energi bawah tanah dan mensirkulasikan udara untuk memanipulasi iklim dalam ruangan. Hal tersebut menyebabkan aktivitas  pertanian tidak berhenti walaupun musim dingin tiba.
Martin J Kropff, Rektor Universitas dan Research Wageningen, Den Haag mengatakan bahwa salah satu kiat mereka dalam membangun industrialisasi pertanian adalah melakukan investasi dalam kegiatan riset. Hasil riset tersebut digulirkan untuk inovasi-inovasi misalnya dibidang pertanian. Saat ini pertanian Belanda telah dijalankan dengan sistem yang modern, direncanakan secara matang, menggunakan alat yang canggih dan keterampilan. Industri pertanian bunga/tanaman hias hingga saat ini menjadi salah satu andalan negeri belanda, dengan memafaatkan teknologi yang disebut tirai difragma untuk greenhouse, atapnya berwarna belang-belang
abu-abu dan transparan, yang dikendalikan secara mekanik bisa menutup dan membuka untuk mengatur suplai cahaya, CO2, serta kelembaban udara. Hal tersebut dilakukan hanya dengan menggunakan tombol-tombol tertentu.
Menurut data terakhir tahun 2010, Belanda mampu
mengekspor 2,1 milyar kilo sayuran dan buah-buahan ke luar negeri. Produk-produk seperti kentang, tomat, buah peer, wortel, kol dan daun bawang, juga ketimun, apel, jamur, paprika, terong, daun sla, witlof, kembang kol dan bawang merah adalah hasil panen Belanda yang membanjiri pasaran Eropa. Bukan hanya itu, teknologi juga sangat dikembangkan. Salah satu penerapannya yakni ”Dutch Process” dalam pengolahan cokelat Van Houten yang  sangat terkenal diseluruh dunia, pembuatan keju berkualitas, pemanfaatan Bioteknologi, serta manajemen air untuk pertanian.
Teknologi tingkat tinggi lainnya yang diterapkan dalam sistem pertanian Belanda yaitu anthura, pengembangan dan penyilangan Anthurium (jenis tanaman hias). Selain itu, juga ada teknologi lainnya yang diterapkan di greenhouse yaitu sortir tanaman yang melibatkan sistem otomatis penuh seperti produksi Robotic Logiqsagro. Pekerja hanya berdiri di satu tempat, tanaman yang datang menghampiri. Tanaman berjalan seperti berada di atas conveyor belt. Begitu pula untuk pengisian media pot. Jelas itu menghemat tenaga kerja , waktu, dan biaya. Untuk nurseri Dendrobium (jenis anggrek) seluas 3 Ha, Martin Toledo di Westland, Rotterdam, Belanda-si pemilik nurseri-hanya membutuhkan 12 pegawai. Sebelum mengadopsi teknologi itu, ia membutuhkan 40 orang pegawai.
Iklim Belanda yang kurang bersahabat bagi pertanian membuat penerapan pertanian dilakukan di greenhouse. Pengaturan pemakaian dan penjualan listrik greenhouse misalnya penggunaan CO2 hasil pembakaran pembangkit, akan dimanfaatkan kembali ke greenhouse sebagai tambahan suplai CO2  bagi asupan tanaman. Selain itu, pada produksi coklat Van Houten menggunakan teknologi ”Dutch Process”, menggunakan teknologi memisahkan lemak dari biji kakao yang
sudah dipanggang, teknologi alkalisasi dalam pengolahan kakao sehingga cokelat yang dihasilkan tidak memiliki rasa pahit. Bunga Tulip di Belanda merupakan salah satu pertanian non pangan yang menjadi komponen penyumbang devisa cukup besar. Belanda bukanlah negara
penghasil bunga, tapi sebagai pemasar bunga. Bentuk lain sebagai upaya peningkatan pemasaran bunga dan produk pertanian digalakkanlah event-event seperti, FloraHolland, dan lainnya. Selain itu, fasilitas transportasi yang cepat, serta proses pelelangan mengambil peranan penting dalam usaha ini.
2)      Prancis
Bordeaux adalah nama wilayah di Perancis yang terkenal dengan anggurnya, maka terkenallah minuman Anggur Bordeaux. Anggur Perancis yang terkenal lainnya adalah Anggur Bourgogne dan Champagne, dan di Perancis terdapat tidak kurang dari 450 anggur yang berbeda. Perancis menghasilkan 5320 juta liter anggur yang sepertiganya diekspor ke seluruh penjuru dunia. Di sektor peternakan, Perancis juga sangat luar biasa, di seluruh Perancis terdapat 4.4 juta sapi perah, setiap peternak rata-rata menghasilkan 219 ribu liter susu per tahun. Selain sapi perah, Perancis juga memiliki 4.2 juta sapi atau 23 sapi per peternak. Dengan demikian Perancis menghasilkan 25% dari daging sapi yang dihasilkan dari seluruh negara Eropa. Selain merupakan produsen daging sapi. Di sektor peternakan, Perancis merajai Eropa, dibuktikan dengan predikat sebagai produsen telur nomor satu di sektorproduksi telur, harga telur di Perancis sama dengan harga telur di Indonesia.
3)      Inggris
Para petani di Inggris memanfaatkan twitter untuk berbisnis dan melakukan promosi produk pertanian mereka. Petani di Inggris yang sudah cukup memahami fungsi Twitter pun mencoba memanfaatkkan sosial media tersebut untuk berbisnis. Petani yang menggunakan Twitter mengakui cara ini bisa meningkatkan keuntungannya. Twitter digunakan para petani untuk meminta saran maupun berbagi informasi terbaru seputar pertanian. Kecenderungan baru ini adalah bentuk kesiapan dan optimisme petani untuk berkompetisi bisnis produk tani di masa depan. Petani menganggap media sosial merupakan sarana yang efektif. Selain itu, twitter juga digunakan sebagai media untuk berhubungan dengan pelanggan media sosial,  mempublikasikan isu terbaru seputar pertanian, serta sebagai sarana untuk berhubungan langsung dengan birokrat sebagai pengambil kebijakan.
B.   Asia
1.    Jepang
Salah satu kebijakan Jepang terkait pertanian yang dirasakan manfaatnya hingga saat ini adalah Peraturan Nasional tentang Konsolidasi (Penyatuan) Lahan tahun 1961 (pasca perang dunia II). Kebijakan ini tersebut berlaku secara nasional dan wajib bagi seluruh petani di Jepang. Terpusatnya kepemilikan lahan yang besar pada satu lokasi, membuat produktivitas pertanian Jepang sangat tinggi. Hal ini sangat besar manfaatnya terutama karena pertanian hanya bisa dilakukan satu musim (Jepang memiliki 4 musim) yaitu pada musim panas. Namun, saat ini pemerintah Jepang hanya berfungsi sebagai pembuat peraturan dan mengeluarkan kebijakan. Berbagai aktivitas lapangan banyak diambil alih oleh Japan Agriculture Cooperative (JA Cooperative) atau sejenis koperasi pertanian di Indonesia. JA Cooperative awalnya merupakan lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang sejak awal 1900an, dan beranggotakan petani-petani Jepang dengan tujuan untuk membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan petani. Petani wajib menjadi anggota JA cooperative agar fungsi tersebut berhasil dijalankan. Saat ini JA Cooperative telah benar-benar bebas dari pemerintah dan merupakan lembaga swasta murni yang kepengurusannya terdiri dari para petani. Namun demikian, kerjasama dengan pemerintah semakin meningkat.
 Beberapa tugas JA Cooperative yang secara yakni:
a)    Memberikan nasehat dalam mengelola usaha tani, penguasaan teknologi, dan penyebaran informasi pertanian.
b)    Mengumpulkan, mengangkut, dan mendistribusikan serta menjual produk pertanian.
c)    Penyediaan sarana produksi.
d)    Mengatur pengolahan produk pertanian dan penyimpanan produk.
e)    Sebagai Bank, dan badan asuransi.
f)     Menyediakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat khususnya petani.
JA Cooperative memiliki jaringan kerjasama yang sangat besar dengan dengan pasar lokal khususnya supermarket, pasar internasional, dan pemerintah. JA Cooperative juga memiliki berbagai fasilitas pertanian yang tersebar di seluruh Jepang seperti Packaging center, Processing center, Pasar Saprodi, pasar penjualan langsung (direct sale market), supermarket, gudang, penggilingan beras, fasilitas pembuat pupuk organic, dan lain-lain. JA Cooperative memberikan jaminan semua produk petani terjual dengan harga diatas rata-rata sehingga hal ini memakmurkan petani. Pada prinsipnya terdapat tiga alternatif distribusi dan pemasaran produk yang ditawarkan JA Cooperative untuk para produser (petani), yaitu produk dibeli langsung oleh JA Cooperative dengan harga di atas harga pasar (khususnya produk tertentu yang dianggap vital), atau petani dapat mendistribusikan sendiri namun melalui petunjuk (advise) dari JA Cooperative (biasanya petani ingin mencari buyer yang lebih tinggi lagi dari JA Coop.), atau pilihan lain yakni petani dapat menitipkan produk mereka kepada JA Coop. untuk dijualkan oleh JA Coop. (biasanya perlu waktu agak lama dan hanya untuk produk-produk yang tidak terlalu penting). Produk petani yang sudah dibeli oleh JA Coop. juga aman dari segi financial, karena uang hasil penjualan langsung masuk ke rekening petani yang otomatis ada di JA Cooperative. Bank JA Cooperative juga menyediakan pelayanan pinjaman modal untuk pengembangan usaha pertanian. Setiap surplus dari hasil penjualan produk pertanian diarahkan pada investasi dan perluasan usaha pertanian. JA Cooperative juga mempunyai peran dalam memberikan pelayanan penting petani lainnya diantaranya penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian (termasuk peralatan mesin pertanian), dan memberikan asuransi produk pertanian. Pada saat produk petani di beli oleh JA Coop. (produk tertentu) pemerintah telah mensubsidi ± 50% lebih tinggi dari harga pasar, dan JA Coop. menjualnya kembali sama dengan harga pasar. Ini dilakukan ketika harga untuk produk yang sama dari luar harganya lebih murah. Subsidi tersebut datang dari industri Otomotif, elektronik, jasa, dan sumber pemasukan lainnya yang tersedia yang dapat mensubsidi silang pertanian. Selain memberikan subsidi pada produk tertentu yang dianggap vital (seperti gandum, sugar bit, jagung, kentang, dan lain-lain) pemerintah Jepang dan JA Cooperative juga mengeluarkan kebijakan agar pasar lokal memprioritaskan produk lokal. Supermarket-supermarket dipastikan untuk menyediakan outlet khusus bagi para petani agar dapat melakukan direct sale produk mereka (namun tentu saja kualitas sudah bukan menjadi halangan). Para petani dapat langsung mengatur semua aktivitas mulai dari penentuan harga (Bar Code), Labeling, dan Packaging. Hanya petugas kasir saja yang dilakukan oleh petugas khusus. Para petani akan mendapatkan informasi langsung tentang produk apa saja yang sudah laku atau produk mana yang permintaannya tinggi melalui SMS atau internet.  Meskipun lahan pertanian cuma menempati kurang dari 25% dari total areal Jepang, namun pemerintah Jepang sangat memperhatikan pengelolaannya.
Salah satu kawasan pertanian yang sekaligus menjadi tempat wisata pertanian di Jepang yakni, berada di daerah Nagano yang berjarak 5 jam perjalanan dari Tokyo. Lokasi agro-tourism yang ada di Nagano bernama Takayama Family Farm. Pemilik agro-tourism Takayama memperoleh pinjaman untuk pembangunan prasarana dan sarana pertanian Strawberry dengan bantuan JA (Koperasi Pertanian Jepang). Konsep yang ditawarkan oleh usaha pertanian berbasis keluarga tersebut adalah Fun with Agriculture. Program agro-tourism yang terdapat di Takayama Family Farm antara lain menanam dan memanen sayuran, memerah susu sapi, membuat mentega, membuat keju asap (smoked cheese), serta kegiatan lainnya. Kegiatan memerah susu sapi secara langsung menggunakan teknik yang sangat mudah yaitu dengan menggunakan empat jari secara perlahan dan kemudian susu dapat dihasilkan. Hasil olahan susu yang telah diperas kemudian diolah. Program khusus yang sangat menarik untuk diikuti dari keseluruhan program adalah membuat keju asap (Smoked Cheese) yang menggunakan keju sebagai bahan dasar.
Berbekal ilmu sistem bercocok tanam kuno tradisi leluhurnya, seorang petani di Jepang bernama Takao Furonop, mengolah enam hektar lahan pertaniannya tanpa pestisida. Salah satu tradisi lama para petani Jepang yakni mereka melibatkan  bebek dan puluhan burung-burung sebagai tenaga patroli hama. Unggas ini memakan serangga dan gulma tanpa mengusik tanaman. Mereka juga memastikan oksigenisasi air dan menyuburkan tanah dengan kotorannya. Alhasil, biaya produksi dapat ditekan dan meningkatkan hasil hampir sepertiga dibandingkan dengan tetangganya yang menggunakan pupuk kimia .
Jepang juga memiliki istilah untuk hasrat terhadap makanan lokal dan segar yakni  chisan, chishou, yang berarti, ‘produksi lokal dan konsumsi lokal’. Kecualian Hokkaido, pulau Jepang yang paling utara dan paling rural, sebagian besar pertanian di Jepang adalah operasi skala kecil yang dijalankan oleh beberapa anggota keluarga. Hasilnya tidak hanya pada kesegaran makanan lokal, namun juga dedikasi untuk terhadap produk. Anggur dan peach, diantara buah lain mereka lindungi dengan pelindung sewaktu masih tumbuh untuk melindungi mereka dari serangga dan gangguan lain. Tanah pun dipetakkan dengan baik, sehingga sayuran akan tumbuh dari dalam beberapa kaki. Bantuan dari rumah kaca membantu pasokan tanaman dari musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tangan. Petani Jepang memproduksi semangka kotak,  dari trik bonsai dengan membentuk semangka menjadi kubus sewaktu ia tumbuh, sehingga ia dapat dimasukkan kedalam kulkas. Selain itu, pusat pertanian juga mengundang anak-anak sekolah untuk menanam dan memanen, untuk meningkatkan minat mereka. Pertanian kadang menjadi bagian dari kurikulum sekolah. Pertanian lokal adalah lebih baik bagi kelestarian lingkungan, karena hanya memerlukan air dan pestisida lebih
sedikit.
Salah satu tempat wisata pertanian di Jepang yakni, Ichigogari. Pertanian strawberry terletak di 260 Yamanashishi Minami, Prefektur Yamanashi, sekitar 150 km ke arah barat dari kota Tokyo. Pertanian strawberry ini terletak di perbukitan dipinggir kota dengan 6 buah green house. Luas setiap green house 1000 m2. Green house dilengkapi dengan tangki penyimpan minyak tanah untuk bahan bakar mesin pemanasan green house, pengatur suhu ruangan, pengontrol tekanan air, pengatur penyiraman air-hara, penghangat tanah dan gas CO. Pengunjung diberikan penjelasan cara memetik strawberry dan mendapatkan layanan satu set plastik yang terdapat dua cekungan, satu berisi susu kental manis dan yang lain tempat sisa strowberry. Sisa potongan strawbery yang berwarna hijau dikumpulkan di cekungan sebelahnya. Sampah hijau dimasukkan tempat sampah yang bisa dijadikan pupuk, sedangkan tempat plastiknya dimasukkan ke tempat sampah plastik untuk didaur ulang.

1.    Taiwan
Sawah seluas satu hektar  hanya memerlukan waktu tiga jam dalam menanam padi dengan menggunakan mesin tanam padi Taiwan. Pola tanam tersebut dapat menghemat tenaga kerja, waktu, serta memperoleh hasil panen yang memuaskan. Sawah tersebut mampu menghasilkan 12 ton gabah per hektar. Menggunakan sistem pertanian Taiwan, bibit padi di semai di sebuah wadah pot persegi empat dengan ketinggian 2 cm. Media tanam menggunakan campuran tanah humus, batu bata merah yang telah dihaluskan dan sekam. Gunanya untuk menghemat tanah dan memberi pori-pori pernafasan bibit. Selanjutnya campuran padi dan pupuk disemaikan diatas media tanam. Hanya memerlukan waktu sembilan hari bibit-bibit padi sudah bisa di tanam di atas lahan sawah. Cara tanam dengan menggunakan mesin tanam ini hanya memerlukan waktu tiga jam per hektar. Menggunakan mesin tanam ini, selain lebih efisien waktu dan tenaga juga membuat tanaman rapi, karena secara otomatis mesin telah memisah-misah bibit dengan jumlah yang sama dan dalam garis yang sama pula. Menggunakan sistem ini akan memperpendek proses olah, tanam dan petik. Keunggulan lainnya karena proses pertanian Taiwan di dukung dengan mesin yang seluruh prosesnya tidak banyak menyerap tenaga manusia misalnya, terdapat dua ruang yang terdapat mesin pompainer (menjaga mutu bibit yang ditanam) yang salah satunya adalah ruang khusus untuk mencampur tanah gabah dan pupuk, serta satu ruang lagi sebagai tempat pencetakan bibit (mesin-mesin ini mampu menghasilkan produksi bibit sekitar 3000 dapot per jam).
Taiwan terletak di daerah subtropis dengan banyak sinar matahari, memiliki gunung dan bukit-bukit terjal seluas dua-pertiga pulau, sehingga hanya sekitar 830,000 hektar lahan yang cocok untuk pertanian. Lahan pertanian rata-rata seluas 1.1 hektar, sehingga sebagian besar sektor pertanian terdiri dari peternakan keluarga kecil. Namun, Taiwan mengembangkan pertanian dengan memperkenalkan teknologi maju dan peralatan modern. Produk pertanian Taiwan sangat beragam, sehingga output sangat tinggi. Pertanian menyumbang 1.5% dari PDB Taiwan, tetapi pangsa ekonomi meningkat hingga 11% jika termasuk industri sekunder dan tersier yang berhubungan dengan pertanian seperti pengolahan makanan dan rekreasi. Ekspor terbesar Taiwan adalah bunga dan ikan utama dengan pasar utama adalah Jepang, China, dan Hong Kong. Dua musim tanaman pada 1998, Taiwan panen 1.49 juta ton beras merah. Menurut Taiwan Provincial Department of Food (TPDF), ini lebih dari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Perkembangan pertanian di Taiwan memiliki pola yang unik. Pada awal-awal tahun, pemerintah melakukan reformasi tanah untuk memberikan “tanah untuk penggarap”, kemudian membuat penyesuaian kebijakan pertanian pada awalnya untuk memacu produktivitas yang lebih besar, dan kemudian untuk mengembangkan ekspor barang-barang pertanian mentah maupun hasil proses. Perkembangan ini pada gilirannya mengantarkan pada era pertumbuhan ekonomi yang pesat. Prinsip-prinsip utama dari “penyehatan, efisiensi, dan kesinambungan” membentuk tulang punggung dari kebijakan pertanian COA (Council of Agriculture). COA adalah pihak yang berwenang pada pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan dan urusan makanan di Taiwan. Lingkup tanggung jawabnya termasuk membimbing dan mengawasi kantor provinsi dan kota di wilayah ini. COA berada di bawah Executive of Yuan (lembaga eksekutif pemerintah Taiwan). Inovasilah yang mendorong kemajuan pertanian di Taiwan. Taiwan adalah pemimpin dalam bidang anggrek Phalaenopsis dan telah menjadi eksportir utama bunga-bunga indah berkat keunggulan kompetitif negeri ini di berbagai bidang seperti peternakan, bibit produksi, rumah kaca, kontrol lingkungan, dan transportasi maritim jarak jauh. COA juga telah mengembangkan lebih banyak varietas warna-warni ikan hias. Teknik kloning hewan ini setara dengan di negara-negara maju, dan sekarang sapi dan kambing juga telah bisa diklon di Taiwan. Selain itu, COA juga mendirikan layanan online baru yang memungkinkan petani untuk berkonsultasi dengan para pakar tentang masalah pertanian melalui internet. COA bekerja sama dengan lembaga penelitian dalam negeri untuk menetapkan 10 tim penelitian baru, hal tersebut dalam rangka mendapatkan terobosan penelitian ke pasar dan ke dalam proses produksi. COA mendorong agrobisnis untuk membangun ilmu pertanian dan teknologi taman, di mana mereka dapat membangun Taiwan sebagai pusat produksi bunga global juga untuk buah-buahan tropis, dan pemasok bibit ternak dan tanaman ke seluruh wilayah Asia Timur. Lebih dari 30 varietas baru beras dan banyak produk hortikultura yang berharga telah dikembangkan di Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, dan telah didirikan zona khusus sayur-sayuran, buah, dan bunga. Penggunaan dan pengelolaan sumber mata air adalah kunci utama dalam produksi pertanian. Taiwan telah mengembangkan sistem irigasi yang terbaik, dengan 70,000 kilometer kanal dan parit. COA bekerja untuk membentuk irigasi dan sistem pengaliran air lahan pertanian yang modern, dan mempromosikan teknik irigasi hemat air. Taiwan memiliki 302 asosiasi petani, 40 asosiasi nelayan dan 17 asosiasi irigasi yang menyediakan 2.3 juta petani dan nelayan dengan pelayanan yang luas seperti suplai produk material, produk transportasi, asuransi kesehatan petani, peminjaman uang, dll. Memperhatikan kesejahteraan anak-anak dan orang-orang tua di pertanian juga dilakukan oleh COA. Setiap petani yang sudah tua mendapatkan tunjangan hidup sebesar NT$6000 per bulan. Meningkatkan teknologi produksi dan meningkatkan standar hidup di pedesaan, COA mengadakan kursus pelatihan profesional, menyediakan pekerjaan pertanian, mengadakan bahan pelajaran online, dan membentuk sebuah situs untuk menjamin akses kesempatan belajar yang lebih luas. Selain itu, COA juga memanfaatkan sumber daya dari stasiun penelitian dan penyuluhan, asosiasi petani, sekolah pertanian, dan universitas-universitas untuk menyediakan pelajaran tambahan mengenai pertanian dan kerjasama penelitian.
2.    Korea Selatan
Pembangunan koperasi pertanian di Korea Selatan, benar-benar dimulai dari atas (top down approach) melalui pembentukan NACF (National Agricultural Cooperative Federation-1961) oleh pemerintah militer sebagai koperasi pertanian tingkat nasional yang kemudian baru dibentuk koperasi-koperasi pertanian tingkat primer. Pembentukan koperasi pertanian ini oleh pemerintah dipergunakan sebagai sarana pembangunan ekonomi di pedesaan. Struktur organisasi koperasi pertanian Korea yang sejak awal pendiriannya dikendalikan oleh pemerintah (termasuk Ketua NACF yang ditunjuk oleh Presiden Korea Selatan) berubah menjadi organisasi ekonomi yang demokratis, yang kepengurusan maupun kebijakan organisasi dan usahanya ditentukan dari bawah. Meskipun demikian pemerintah tetap memberikan dukungan kepada Koperasi pertanian Korea Selatan yang sejak awal hingga saat ini tetap setia sebagai koperasi pertanian dapat mengembangkan usaha pelayanan dalam berbagai bidang yakni produksi, pemasaran, distribusi serta jasa keuangan (perbankan dan asuransi), tanpa melupakan faktor pendukungnya berupa diklat dan media massa. Pada tahun 1993, dalam rangka peningkatan pengumpulan hasil produksi pertanian anggota, NACF telah membangun 181 titik pengumpulan hasil pertanian, 116 gudang berpendingin udara dan 30 pusat penyotiran buah. Pada saat itu juga didirikan kompleks pengolahan beras modern untuk pengeringan, penggilingan, pengepakan dan pengemasan hasil panen padi di beberapa daerah. Jumlah pasar swalayan (supermarket) juga meningkat tajam, dari 38 menjadi 217 buah, warung pemasaran langsung dari 38 menjadi 151 buah, pusat pengapalan hasil pertanian dari 2 menjadi 6 buah. Upaya untuk mengurangi produk-produk impor dari luar negeri, pada saat itu NACF membangun 9 pabrik pengolahan makanan. Pelayanan NACF kepada anggota petani tidak hanya membatasi pada pembangunan sarana dan prasarana di dalam negeri, tetapi juga melalui perdagangan international. NACF sebagai sarana perdagangan ekspor hasil pertanian anggota dan impor barang kebutuhan petani seperti mesin-mesin pertanian, obat-obatan dan sebagainya, pada tahun 1990 mendirikan Korea Agricultural Cooperative Trading Co, dan juga membuka perwakilan di New York, (Amerika Serikat) dan Fokuoka, (Jepang) sebagai pusat pembeliaan barang-barang kebutuhan petani (Agricultural Produc Shopping Center) untuk memasarkan hasil pertanian anggota dan sekaligus untuk melayani kebutuhan mereka melalui toko serba ada (Departement Store), pasar swalayan (Supermarket). Pusat jajan makanan (food Center) NACF mendirikan Korea Agricultural Cooperative Marketing Co, sementara untuk melayani pupuk kepada petani, NACF  memiliki saham sebanyak 70% pada Nawhal Chemical Cooporation, pabrik pupuk terbesar di Korea yang melayani 70% kebutuhan petani Korea. Usaha prosessing hasil pertanian dilakukan baik oleh NACF maupun oleh koperasi-koperasi primer anggotanya, yang jumlahnya 64 pabrik pengolahan hasil pertanian, yang antara lain menghasilkan bermacam-macam jus buah, minyak goreng, sayur mayur, saus, kacang, jamur, kimchi, dan sebagainya
yang banyak diantaranya di ekspor, termasuk ke Indonesia. Sebagai media suara petani dan media kebijakan bagi pengembangan
pertanian, sejak 1964 NACF menerbitkan Koran Petani (Farmer Newspaper), yang terbit 2 hari sekali dengan tiras sebanyak 300.000 eksemplar.
A.   Indonesia
Dilihat dari kondisi pasar, Indonesia lebih di dominasi oleh produk pertanian Impor seperti buah, beras, bahkan daging. Tantangan untuk Indonesia di era globalisasi sekarang ini masih sama dengan era sebelumnya, yaitu bagaimana mewujudkan pemerataan kesejahteraan bagi penduduk. Jumlah penduduk di Indonesia semakin lama semakin  meningkat, sayangnya sektor pertanian di Indonesia masih mengalami banyak permasalahan terutama dalam meningkatkan jumlah produksi pangan. Hal ini sebabkan karena semakin berkurangnya lahan yang dapat digunakan untuk bertani. Selain itu, perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang dan tingkat produktivitas pertanian per hektar juga relatif stagnan. Permasalahan pokok yang dihadapi oleh sektor pertanian adalah berupa akses modal atau investasi yang dimiliki oleh para petani. Masalah tersebut menyebabkan petani tidak mampu memanfaatkan berbagai sarana produksi unggul termasuk kemajuan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan
mereka.
Negara Indonesia yang dikenal kaya akan sumber daya alam namun sebagian besar masyarakatnya ada di bawah garis kemiskinan. Kelebihan lain selain sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dianugrahi dengan letak wilayah yang strategis dengan iklim tropis yang memungkinkan radiasi matahari diterima sepanjang tahun, suhu di Indonesia yang sangat optimal sangat baik bagi pertumbuhan tanaman. Hampir segala jenis tanaman yang ada di wilayah dunia lain dapat tumbuh di tanah Indonesia ini. Namun faktanya kondisi pertanian kita pada masa kini sangat terpuruk. Kini Indonesia menjadi negara perngimpor buah-buahan, ternak dan bahan pangan utama seperti beras, jagung, kedelai dan gula. Sungguh kondisi yang sangat ironis mengingat pada era tahun 1980-an negara kita menjadi negara pengekspor utama beras di wilayah asia.  Negara yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, hidup di pedesaaan dan merupakan golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Pada masa yang lalu ketika pertanian menjadi sentral pembangunan (leading sector), secara personal petani kita menjadi sejahtera dan dalam konteks negara, mampu mencapai swasembada beras pada tahun
1984. Faktor internal yang menjadi permasalahan di Indonesia antara lain:
1.    Permodalan, sebagian besar petani tidak memiliki modal yang besar untuk mengembangkan usaha taninya.
2.    Prasarana produksi, modal yang kurang menyebabkan petani tidak mampu membeli sarana produksi seperti benih, bibit, pupuk dan pembasmi hama.
3.    Keterampilan, sebagian besar petani masih jarang yang mendapat pendidikan yang layak, kebanyakan dari mereka tidak pernah duduk di bangku sekolah.
Sedangkan masalah pada faktor eksternal antara lain:
1.      Kebijakan pemerintah
a.      Kebijakan alih fungsi lahan, lahan pertanian semakin berkurung dengan semakin majunnya industri baik itu manufaktur, perumahan dan lain. Lahan pertanian yang subur menjadi sasaran utama bagi pebisnis bidang manufaktur dan perumahan.
b.      Keijakan finansial, belum adanya lembaga khusus permodalan yang menjadi penopang sektor pertanian, ada wacana untuk mendirikan bank pertanian yang menawarkan suku bunga 5-6% bagi petani namun hingga saat ini hanya masih menjadi sebuah wacana.
c.      Kelembagaan, kelembagaan di sektor pertanian telah banyak yang tidak aktif seperti HIPA, KUD, dan Kelompok Tani.
Kebutuhan pangan nasional terutama beras, sampai 2025 diperkirakan mencapai 58,6 juta ton atau 12,91 juta hektare ladang padi. Mencapai kebutuhan pangan itu, diterapkanlah teknologi hyperspectral hasil pengembangan BPPT  merupakan perangkat lunak hasil citra satelit dapat digunakan untuk memetakan produksi beras untuk skala nasional dalam rangka mencapai ketahanan pangan nasional. Teknologi ini, bukan hanya digunakan untuk memetakan potensi prediksi produksi di suatu lahan, namun juga dapat memetakan potensi padi dengan sangat rinci mulai dari tanam hingga panen, termasuk juga kerawanan akibat banjir, 
kekeringan atau hama.  Bahkan dalam jangka panjang teknologi ini dapat menekan impor pangan. Memang, saat ini teknologi hyperspectral memang baru diterapkan untuk melihat produktivitas padi. Teknologi hyperspectral remote sensing sudah mulai digunakan Kementerian Pertanian untuk berbagai hal. Terutama sebagai dasar dalam membuat kalender tanam terpadu. Remote sensing digunakan untuk mengetahui misalnya potensi kekeringan, potensi kerusakan padi saat musim panen. Teknologi ini dapat melihat kondisi lapangan baik itu masa tanam, masa pertumbuhan maupun masa panen termasuk kalau terjadi kerusakan karena penyakit, angin maupun banjir.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar