Jumat, 07 Juni 2013

PART. 2 BIOKIMIA PASCA PANEN - PENGENALAN SPEKTROFOTOMETER


A.  Spektrofotometer
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet (Cairns, 2009).
Spektofotometer banyak digunakan dalam penentuan konsentrasi suatu larutan. Secara umum spektrofotometer dibedakan menjadi empat macam, yaitu spektrofotometer ultraviolet, spektrofotometer sinar tampak, spektrofotometer infra merah dan spektrofotometer serapan atom. Spektrofotometer bekerja dengan cara mengukur banyaknya cahaya yang melewati suatu sampel yang akan diserap atau diteruskan (Keenan, 1992).
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Cahaya dimaksud dapat berupa cahaya visible, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom atau molekul namun yang lebih berperan adalah electron valensi. Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai radiasi elektromagnetik (Kautsar, 2010).
B.  Panjang Gelombang
Menurut Hikmah (2012), panjang gelombang yang biasa digunakan dalam spektrofotometer yaitu sebagia berikut :
Panjang Gelombang
·      400 – 435 nm  = Violet -  Hijau - Kuning
·      435 – 480 nm  = Biru - Kuning
·      480 – 490 nm  = Biru Hijau - Orange
·      490 – 500 nm  = Hijau biru - Merah
·      500 – 560 nm  = Hijau - Ungu
·      560 – 580 nm  = Hijau – Kuning –Violet
·      580 -  595 nm  = Kuning - Biru
·      595 -  650 nm  = Orange – Biru - Hijau

·      650 – 760 nm  = Merah – Hijau - Biru


A.  Prinsip Kerja Spektrofotometer
Prinsip kerja spektrofotomater berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Transmitan adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io) (Seran, 2011).
Prinsip kerja spektrofotometer berdasarkan Bahar (2007), sebagai berikut:
Sumber cahaya >>Monokromator>>Contoh sampel>>Detektor>>Piranti pembaca




A.  Kurva Standar
Metode pengujian kualitatif dan kuantitatif menggunakan spektrofotometer adalah penentuan jumlah komponen bahan dengan mengukur nilai absorbansinya, dalam mengukur nilai absorbansi digunakan larutan standar yang memiliki konsentrasi tertentu yang digunakan sebagai acuan (standar) sehingga didapatkan nilai absorbansinya yang akan dikonfersi menggunakan regresi linier sehingga data absorbansi larutan standar tersebut dapat dirangkai dalam suatu kurva yang disebut kurva standar. Kurva standar digunakan untuk menentukan konsentrasi sampel yang akan dianalisa jumlah komponennya yang terkandung didalam sampel. Kurva standar membandingkan antara konsentrasi sampel yang dilambangkan sebagai sumbu x sedangkan nilai absorbansi dilambangkan dengan sumbu y, kemudian dari data nilai absorbansi sampel yang telah diketahui ditarik garis horizontal ke arah garis linier sehingga terbentuk titik potongan antara absorbansi sampel dengan garis linier yang dianggap sebagai konsentrasi sampel  yang /
dianalisis (Bahar, 2007).
B.  Bovine Serum Albumin (BSA)
Bovine Serum Albumin (BSA) adalah protein referensi yang diterima secara universal untuk kuantisasi protein total. Standar albumin justru dirumuskan di 2mg/mL dalam natrium klorida 0,9% ultra murni (saline) solusi. Produk ini tersedia dalam tiga format paket yang nyaman: ampul kaca 1mL, 50 ml botol polypropylene, dan set lengkap berisi tujuh siap digunakan pengenceran (Anonim, 2013a).
Larutan Bovine Serum Albumin (BSA) merupakan larutan standar yang digunakan untuk menentukan kadar protein dengan metode Bradford (Keenan 1992). Tingkat ketelitian metode Bradford dalam menentukan kadar protein cukup tinggi karena koefisien penghentian dari kompleks albumin larutan standar BSA adalah konstan selama rentang konsentrasi
flip-1
( Stoscheck 1990).
C.  Persamaan Regresi
Fungsi regresi adalah fungsi yang diperoleh ketika mencari sebuah persamaan garis yang mendekati titik-titik yang berikan dan titik-titik tersebut biasanya tidak membentuk persamaan garis linear seperti biasanya. Salah satu contohnya yakni, titik biasanya memiliki kordinat X dan Y. Jika   memiliki beberapa titik di (2,5), (4,9), (3,7), (7,15), dan (5,11). Persamaan garis dari titik-titik tersebut adalah Y=2X+1 yang menyatakan bahwa fungsi garis Y=2X+1 akan melewati semua titik-titik tersebut di atas dan membentuk sebuah garis lurus linear. Jika titik-titik yang diberikan tidak teratur artinya, titik tersebut jika ditarik semua titik-titiknya tidak akan membentuk sebuah garis linear yang tepat melalui titik titik tersebut. Contoh titiknya seperti ini, (1,1), (2,2), (3,4), (5,6) dan (7,9). Jika  ingin menentukan persamaan garisnya, maka bisa menggunakan fungsi regresi untuk memperoleh hasilnya. Persamaan fungsi regresi, biasanya disederhanakan persamaannya manjadi Y=bX+a (Marga, 2009).
Rumus untuk mencari mencari nilai dari b menurut Marga (2009) yaitu:

Keterangan:
n                 = banyak data yang dimasukkan
∑(xi.yi)
        = jumlah semua bilangan hasil perkalian Xi dan Yi.
∑Xi.∑Yi
     = jumlah semua X dikalikan dengan jumlah semua Y.
∑(Xi2)
        = jumlah semua nilai X yang dikuadratkan
(∑Xi)2
         = kuadrat dari semua jumlah X
Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga dapat digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya korelasi antarvariabel. Analisis regresi mempelajari hubungan yang diperoleh dinyatakan dalam persamaan matematika yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel. Hubungan fungsional antara satu variabel prediktor dengan satu variabel kriterium disebut analisis regresi sederhana (tunggal), sedangkan hubungan fungsional yang lebih dari satu variabel disebut analisis regresi ganda. Analisis regresi lebih akurat dalam melakukan analisis korelasi, karena pada analisis itu kesulitan dalam menunjukkan slop (tingkat perubahan suatu variabel terhadap variabel lainnya dapat ditentukan). Dengan demikian maka melalui analisis regresi, peramalan nilai variabel terikat pada nilai variabel bebas lebih akurat pula (Amirullah, 2012).
D.  Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. NaOH digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Bersifat lembap cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan dan juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. NaOH tidaklarut dalam dietil eter dan pelarut non-polar
lainnya
(Anonim, 2012).
E.  Natrium Karbonat (Na2CO3)
Natrium karbonat (juga dikenal sebagai washing soda atau soda abu),(Na2CO3) adalah garam natrium dari asam karbonat. Paling umum sebagai heptahidrat kristal, yang mudah effloresces untuk membentuk bubuk putih, monohidrat tersebut.Natrium karbonat di dalam negeri, terkenal untuk penggunaan sehari-hari sebagai pelunak air. Hal ini dapat diekstraksi dari abu macam-macam tanaman. Hal ini secara sintetis diproduksi dalam jumlah besar dari garam dan kapur dalam proses yang dikenal sebagai proses solvay (Albi, 2012).
F.  Tembaga Sulfat (CuSO4)
Tembaga(II) sulfat, juga dikenal dengan cupri sulfat, adalah sebuah senyawa kimia dengan rumus molekul CuSO4. Senyawa garam ini eksis di bumi dengan kederajatan hidrasi yang berbeda-beda. Bentuk anhidratnya berbentuk bubuk hijau pucat atau abu-abu putih sedangkan bentuk pentahidratnya (CuSO4.5H2O), berwarna biru
terang (Anonim, 2013b).
Penetapan kadar protein dalam serum dengan metode Biuret adalah pengukuran serapan cahaya kompleks berwarna ungu dari protein yang bereaksi dengan pereaksi biuret dimana, yang membentuk kompleks adalah protein dengan ion Cu2+ yang terdapat dalam pereaksi biuret dalam suasana basa. Semakin tinggi intensitas cahaya yang diserap oleh alat maka semakin tinggi pula kandungan protein yang terdapat di dalam serum tersebut. Penetapan kadar albumin dapat dilakukan dengan dengan metode biuret dengan menggunakan spektrofotometer. Prinsip metode ini adalah pengukuran serapan cahaya kompleks berwarna ungu dari protein yang bereaksi dengan pereaksi biuret dimana, yang membentuk kompleks adalah protein dengan ion Cu2+ yang terdapat dalam pereaksi biuret dalam suasana basa. Semakin tinggi absorbansi yang diberikan, semakin tinggi pula kandungan albumin yang terdapat di dalam serum tersebut. Pereaksi biuret mengandung tiga macam reagen yaitu reagen yang pertama adalah CuSO4 dalam aquadest dimana reagen ini berfungsi sebagai penyedia ion Cu2+ yang nantinya akan membentuk kompleks dengan protein. Reagen yang kedua adalah K-Na-Tartrat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya reduksi pada Cu2+ sehingga tidak mengendap. Reagen yang ketiga adalah NaOH dimana fungsinya adalah membuat suasana basa. Suasana basa akan membantu pembentukan Cu(OH)2 yang nantinya akan menjadi Cu2+ dan 2OH-. Pada tabung dimasukkan Natrium sulfit 25% sebanyak 2 mL ini kemudian dimasukkan sampel plasma 0,2 mL dan 2 mL kemudian dikocok kuat. Penambahan natrium sulfit dan eter ini adalah berguna untuk memisahkan antara albumin dengan protein plasma lainnya seperti globulin, fibrinogen dan lain-lain. Selanjutnya didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan cairan, lapisan atas terdiri dari eter dan protein plasma lainnya. Sedangkan bagian bawah mengandung albumin sehingga lapisan bagian atas dibuang dan lapisan bagian bawah kemudian ditambahkan dengan pereaksi biuret dan dikocok (Thed, 2012).
G. Asam Sulfat (H2SO4)
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia. Kegunaan utama termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak. Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen pengering yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buahan kering. Reaksi hidrasi (pelarutan dalam air) dari asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat. Jika air ditambah kepada asam sulfat pekat, terjadi pendidihan. Senantiasa tambah asam kepada air dan bukan sebaliknya. Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan isi padu kedua cairan. Air kurang padu dibanding asam sulfat dan cenderung untuk terapung di atas
asam (Dunan, 2008).

Reaksi tersebut menurut Dunan (2008), membentuk ion hidronium:
H2SO4 + H2O → H3O++ HSO4-.
H.   Reagen Folin
Prinsip metode Folin-Ciocalteu adalah oksidasi gugus fenolik hidroksil. Pereaksi ini mengoksidasi fenolat (garam alkali), mereduksi asam heteropoli menjadi suatu kompleks molibdenum-tungsten (Mo-W). Fenolat hanya terdapat pada larutan basa, tetapi pereaksi Folin-Ciocalteu dan produknya tidak stabil pada kondisi basa. Selama reaksi belangsung, gugus fenolik-hidroksil bereaksi dengan pereaksi Folin-Ciocalteu, membentuk kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru dengan struktur yang belum diketahui dan dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Warna biru yang terbentuk akan semakin pekat setara dengan konsentrasi ion fenolat yang terbentuk, artinya semakin besar konsentrasi senyawa fenolik maka semakin banyak ion fenolat yang akan mereduksi asam heteropoli sehingga warna biru yang dihasilkan semakin pekat (Singleton dan Rossi, 1965).
I.      Aquadest
Aquadest digunakan sebagai pelarut. Karena aquadest mengandung airmurni. Hal ini menyebabkan aquadest lebih mudah larut (Filronset, 2012). Aquadest hanya berfungsi sebagai pelarut. Aquadest bukanlah reagen, dan aquadest memiliki pH netral, tidak asam serta tidak basa (Putri, 2012).


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Natrium Hidroksida. http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_hidroksida. Diakses tanggal 21 februari 2013. Makassar.

Anonim, 2013a. BSA (Biovin Serum Albumin). http://www.piercenet.com/browse.
cfm?fldID=02020108
. Diakses pada tanggal 19 Februari 2013, Makassar.

Anonim. 2013b. Tembaga (II) Sulfat. http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga%28II%29_sulfat. Diakses tanggal 20 Februari 2013. Makassar.

Albi, Muhammad Putra. 2012. Air Abu (Natrium Karbonat).     http://muhammadputraalbi.blogspot.com/2012/02/air-abu-natrium-karbonat-natrium.html. Diakses tanggal 21 februari 2013. Makassar.

Amirullah, Muhammad. 2012. Regresi Linier / Sedrhana,Persamaan Kuadrat sebagai regresi, Polinomial sebagai regresi ,Fungsi Eksponen sebagai regresi. http://blog.ub.ac.id/milanamir/2012/04/26/regresi-linier-sedrhanapersamaan-kuadrat-sebagai-regresipolinomial-sebagai-regresi-fungsi-eksponen-sebagai-regresi/. Diakses pada tanggal 20 Februari 2013.

Bahar, 2007. Kurva Standar Dalam Praktikum Absorpsi Fisika. Sekolah Menengah Analisa Kimia, Makassar.

Cairns D. 2009. Intisari Kimia Farmasi Edisi Kedua. Penerjemah : Puspita Rini. 

Dunan. 2008. Asam Sulfat (H2SO4). http://chemistryanalist.wordpress.com/2008/10/25/asam-sulfat-h2so4/.  Diakses tanggal 20 Februari 2013. Makassar.

Filronset, Marcellinus. 2012. Tinjauan Pustaka Media Kultur. http://www.scribd.com/doc/105696807/2-2. Diakses pada tanggal 11 November 2012. Makassar.

Hikmah, 2012. Panjang Gelombang.  http://hikmaharifblog.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 20 November 2012. Makassar.

Kautsar, Akhmad. 2010. Spektrofotometri dan Spektrofotometer UV-Vis. http://www.scribd.com/doc/25536927/spektrofotometri-spektrofotometer-UV-Vis.
Di akses  pada tanggal 19 Februari 2013, Makassar.

Keenan,W. Charles. 1992. Kimia Untuk Universitas Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Marga, Duken. 2009.  Fungsi Regresi Linear. http://duken.info/blog/2009/09/fungsi-regresi-linear/. Diakses pada tanggal 20 Februari 2013.

Putri, Beta Alfisyahri. 2012. Karbohidrat http://www.scribd.com/doc/88817827/KARBOHIDRAT. Dia akses pada tanggal 28 Oktober 2012. Makassar. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2012. Makassar.

Seran, Emel. 2011. Spektrofotometer. http://wanibesak.wordpress.com/2011/07/04/
pengertian-dasar-spektrofotometer-vis-uv-uv-vis/
. Diakses pada tanggal 19 November 2013. Makassar.

Singleton, V.L. and Rossi, J.A., 1965, Colorimetry of Total Phenolic with Phosphomolybdic-Phosphotungstic Acid Reagent, Am. J. Enol. Vitic, 16, 147.

Stoscheck, CM. 1990. Increased uniformity in the response of the Coomassie blue.

Thed. 2012. Uji Kadar Protein Serum Metode Biuret. http://smart-fresh.blogspot.com/2012/06/uji-kadar-total-protein-serum-metode.html. Diakses pada tanggal 22 Februari 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar