Jumat, 07 Juni 2013

PART. 4 BIOKIMIA PASCA PANEN - EKSTRAKSI PROTEIN


A.           Telur Ayam Ras
Telur merupakan bahan makanan yang hampir dikatakan mendekati sempurna, selain rasanya enak, sangat mudah dicerna dan mudah pengolahannya serta relatif murah dibanding sumber protein hewani lainnya. Satu butir telur ayam dengan berat 50 gram mengandung gizi yaitu energi 81 kkal, protein 6.4 gr, lemak 5.75 gram, karbohidrat 0.35 gram, kalsium 180 mg, vitamin A 309 SI (Hakim, 2010a).
Nilai gizi telur sangat lengkap, telur merupakan sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, sehingga dari tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam amino proteinnya sangat lengkap, sehingga protein telur (campuran putih dan kuning telur) seringkali dijadikan sebagai protein “referensi”. Telur kaya fosfor dan besi, tetapi kandungan kalsiumnya rendah. Keadaan sepeerti ini sama seperti yang dijumpai pada daging. Selain itu telur juga mengandung vitamin B kompleks, serta vitamin A dan D (dalam kuning telur). Telur sama sekali tidak mengandung vitaminC. Satu butir telur berukuran sedangakan memberikan energi sekitar 80 kilokalori (Sirait, 2003).

B.           Telur Itik
Telur itik merupakan salah satu sumber gizi yang baik. Walaupun kandungan lemak dan kolestrolnya lebih tinggi daripada telur ayam, mengonsumsi telur itik dalam jumlah normal, yaitu 1-2 butir per hari, akan memberikan sumbangan gizi yang sangat berarti bagi kesehatan tubuh.Kadar air pada telur itik lebih rendah dari telur ayam. Hal itu berarti telur itik lebih kental bila dibandingkan telur ayam. Kadar energi pada telur itik (189 kkal/100 g) lebih tinggi dibandingkan telur ayam
(162 kkal/100 g). Energi tersebut sebagian besar berasal dari kandungan lemak dan proteinnya. Protein telur itik terdiri atas ovalbumin (putih telur) dan ovavitelin (kuning telur). Protein telur itik dan telur ayam mengandung asam amino esensial yang sangat diperlukan tubuh. Fungsi protein yang utama adalah untuk pertumbuhan tubuh, penggantian sel yang rusak, serta pembentukan enzim dan hormon. Telur itik dan telur ayam sama-sama mengandung vitamin A. Vitamin A pada telur itik berperan penting dalam mengatur fungsi penglihatan dan menjaga kesehatan mata, membantu pertumbuhan dan meningkatkan system imunitas (kekebalan tubuh). Lemak pada telur itik terdiri atas trigliserida (lemak netral), fosfolipida (umumnya berupa lesitin), dan kolestrol. Kandungan kolestrol pada telur itik juga lebih besar daripada telur ayam. Trigliserida dan fosfolipida dapat menjadi sumber energi bagi tubuh, sedangkan koletrol berperan untuk pembentukan vitamin D, hormon seks, dan komponen penyusun otak. (Anonim,2011a).

C.           Protein
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomerasam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (Arsyad, 1997).
Protein putih telur terdiri atas protein serabut yang terdiri ovomucin dan protein globular yang terdiri dari ovalbumin, conalbumin, ovomucoid, lizosim, flavoprotein, ovoglobulin, ovoinhibitor, dan avidin.  Protein globular merupakan protein yang berbentuk bola.  Protein ini larut dalam larutan garam asam encer, juga lebih mudah berubah dibawah pengaruh suhu, konsentrasi garam, pelarut asam basa dibandingkan protein serabut.  Protein globular juga merupakan protein yang mudah terdenaturasi (Winarno, 1997).
Nilai  Haugh unit merupakan nilai yang mencerminkan keadaan albumen telur yang berguna untuk menentukan kualitas telur. Nilai Haugh unit ditentukan berdasarkan keadaan  putih telur, yaitu korelasi antara bobot telur dan tinggi  putih telur bagian putih telur menjadi lebih encer disebabkan hilangnya sebagian protein  ovomucin yang berfungsi sebagai pembentuk struktur putih telur. Nilai Haugh unit yang tinggi menunjukkan kualitas telur tersebut juga tinggi (Sudaryani ,2000).
Sifat fisikokimia setiap protein tidak sama, tergantung jumlah dan jenis asam aminonya. Bila dalam suatu larutan protein ditambahkan garam, daya larut protein akan berkurang, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Garam-garam logam berat dan asam-asam mineral kuat ternyata baik digunakan untuk mengendapkan protein. Apabila protein dipanaskan atau ditambah alkohol, maka protein akan menggumpal. Hal ini disebabkan alkohol menarik mantel air yang meliputi molekul-molekul protein. Selain itu penggumpalan juga dapat terjadi karena aktivitas enzim-enzim proteolitik.
Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektrik yaitu ph dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. Asam dan basa dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik. Sebuah tipe reaksi penggantian dobel terjadi sewaktu ion positif dan negatif di dalam garam berganti pasangan dengan ion positif dan negatif yang berasal dari asam atau basa yang
ditambahkan (Anna, 1994).
Struktur protein menurut Anonim (2012a) dapat dilihat sebagai hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat):
a.            Struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Frederick Sanger merupakan ilmuwan yang berjasa dengan temuan metode penentuan deret asam amino pada protein, dengan penggunaan beberapa enzim protease yang mengiris ikatan antara asam amino tertentu, menjadi fragmen peptida yang lebih pendek untuk dipisahkan lebih lanjut dengan bantuan kertas kromatografik. Urutan asam amino menentukan fungsi protein, pada tahun 1957, Vernon Ingram menemukan bahwa translokasi asam amino akan mengubah fungsi protein, dan lebih lanjut memicu mutasi genetik.
b.            Struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut:
·                    alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral;
·                    beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"), berupa
lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H);
·                     beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
·                     gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-gamma").
c.            Struktur tersier yang merupakan gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder. Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi secara fisik tanpa
ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil
(misalnya dimer, trimer, atau kuartomer) dan membentuk struktur kuartener.
d.            Contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzimRubisco dan insulin.
Manfaat protein bagi tubuh menurut Alisha (2011c) bagi tubuh kita sangatlah banyak, diantaranya yaitu:
1.            Sebagai enzim. Protein memiliki peranan yang besar untuk mempercepat reaksi biologis.
2.            Sebagai alat pengangkut dan penyimpan. Protein yang terkandung dalam hemoglobin dapat mengangkut oksigen dalam eritrosit. Protein yang terkandung dalam mioglobin dapat mengangkut oksigen dalam otot.
3.            Untuk Penunjang mekanis. Salah satu protein berbentuk serabut yang disebut kolagen memiliki fungsi untuk menjaga kekuatan dan daya tahan tulang dan kulit.
4.            Sebagai Pertahanan tubuh atau imunisasi Pertahanan tubuh. Protein ini biasa digunakan dalam bentuk antibodi.
5.            Sebagai Media perambatan impuls syaraf.
6.            Sebagai Pengendalian pertumbuhan
D.   Larutan
1.            Asam Asetat (CH3COOH)
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati(Anonim, 2012b).
Gugus asetil yang terdapat pada asam asetat merupakan gugus yang penting bagi biokimia pada hampir seluruh makhluk hidup, seperti gugus asetil yang berikat pada koenzim A menjadi senyawa yang disebut Asetil-KoA, merupakan enzim utama bagi metabolisme karbohidrat dan lemak. Namun demikian, asam asetat bebas memiliki konsentrasi yang kecil dalam sel, karena asam asetat bebas dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme pengaturan pH sel. Berbeda dengan asam karboksilat berantai panjang, asam asetat tidak ditemukan pada trigliserida dalam tubuh makhluk hidup. Sekalipun demikian, trigliserida buatan yang memiliki gugus asetat, triasetin (trigliserin asetat), adalah zat aditif yang umum pada makanan, dan juga digunakan dalam kosmetika dan obat-obatan.Asam asetat diproduksi dan diekskresikan oleh bakteri-bakteri tertentu, misalnya dari genus Acetobacter dan spesies Clostridium acetobutylicum. Bakteri-bakteri ini terdapat pada makanan, air, dan juga tanah, sehingga asam asetat secara alami diproduksi pada buah-buahan/makanan yang telah basi. Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa
kimia (Anonim, 2012b).
2.            Amonium Sulfat ((NH4)2SO4)
Amonium Sulfat [(NH4)­­2SO4] adalah senyawa kimia yang berwujud padat, berwarna putih, berbentuk kristal (pada T > 513°C), larut dalam air, tidak larut dalam alkohol dan memiliki titik leleh 235-280°C pada tekanan 1 atm. Ammonium Sulfat banyak dimanfaatkan sebagai pupuk nitrogen dan biasa disebut pupuk ZA (Zwuafel Ammonium), terutama pada tanaman industri dan perkebunan diantaranya tebu, tembakau, cengkeh, kopi, lada, kelapa sawit, dan teh. Selain sebagai pupuk, senyawa Amonium Sulfat juga digunakan dalam bidang industri seperti untuk pengolahan air, fermentasi, bahan tahan api dan penyamakan. Sebagai pupuk, Amonium Sulfat merupakan jenis pupuk anorganik tunggal yang terdiri dari unsur Sulfur (24% berat) dalam bentuk ion Sulfat dan unsur Nitrogen (21% berat) dalam bentuk ion ammonium (Anonim, 2011b).
Dalam biokimia, amonium sulfat curah hujan adalah metode umum untuk memurnikan protein dengan pengendapan selektif, sulfat Amonium sangat larut dalam air dan sehingga dapat membuat solusi yang sangat terkonsentrasi, yang dapat "keluar garam" protein, menyebabkan curah hujan pada konsentrasi tertentu. Ini menyediakan sarana yang nyaman dan sederhana untuk fraksinasi campuran protein yang kompleks. Sebagaibahan tambahan makanan, amonium sulfatdianggapumumnya diakui sebagai aman(GRAS) oleh USA Foodand Drug Administration, dandi Uni Eropaituditunjuk olehnomorEE517. Hal ini digunakansebagaipengatur keasamandalamtepungdan roti. Amonium sulfat digunakan dalam skala kecil dalam penyusunan garam amonium lainnya, terutama amonium persulfat (Anonim, 2011b).
Pengendapan pada protein yang dikarenakan penambahan ammonium sulfat pekat menyebabkan terjadinya dehidratasi protein (kehilangan air) sehingga protein yang mempunyai kelarutan yang rendah akan mengendap. Endapan ini akan larut kembali apabila ditambahkan air. Pengendapan ini bersifat reversible. Pada percobaan ini larutan protein telur dan susu masing – masing ditambahkan larutan ammonium sulfat menghasilkan endapan berwarna putih. Endapan berwarna putih terbentuk karena ammonium sulfat dapat menyebabkan dehidratasi air, sehingga kelarutannya berkurang. Kemudian endapan ini larut pada penambahan air. Berarti dalam protein telur dan susu mengandung gugus amino yang memiliki kelarutan yang rendah yang menyebabkannya mengendap dan endapan yang terbentuk bersifat reversible karena dapat dilarutkan kembali.
E.    Ekstraksi Protein
Albumin merupakan fraksi protein, sehingga proses pemisahannya dapat dilakukan menggunakan prinsip-psinsip pemisahan protein. Pemisahan protein acap kali dilakukan dengan menggunakan berbagai pelarut, elektrolit atau keduanya, untuk mengeluarkan fraksi protein yang berbeda menurut karakteristiknya. Pemisahan protein dari berbagai campuran yang terdiri dari  berbagai macam sifat asam-basa, ukuran dan bentuk protein dapat dilakukan dengan cara elektrofesa, kromatografi, pengendapan, dan perbedaan kelarutan (Anonim, 2010).
Pada putih telur, albumin akan berubah dari bening menjadi putih. hal ini terjadi akibat adanya denaturasi albumin telur yang dipengaruhi oleh faktor panas yang  dilakukan dengan perebusan, faktor asam basa yang dapat membentuk ion pada beberapa gugus sisi amino, faktor senyawa organik yang membentuk ikatan hidrogen dengan asam amino dan faktor logam berat yang dapat bereaksi dengan ikatan
sulfida (Candra Prabowo, 2007).
Prinsip dari masing-masing metode pemisahan fraksi protein menurut Anonim (2010) adalah sebagai berikut:
1.    Elektroforesa
Elektroforesa merupakan teknik pemisahan senyawa yang tergantung dari pergerakan molekul bermuatan. Jika suatu larutan campuran protein diletakkan di antara kedua elektroda, molekul yang bermuatan akan berpindah ke salah satu elektrode dengan kecepatan tergantung pada muatan bersihnya, dan tergantung pada medium penyangga yang digunakan. Kecepatan gerak albumin dalam elektroforesa adalah 6,0 dalam buffer berkekuatan ion 0,1 pH 8,6.
2.    Kromatografi
Kromatografi meliputi cara pemisahan bahan terlarut dengan memanfaatkan perbedaan kecepatan geraknya melalui medium berpori. Metode ini didasarkan pada perbedaan kelarutan dan sifat asam basa pada masing-masing fraksi protein. Ada tiga teknik kromatografi yang biasanya dipergunakan untuk pemisahan protein yaitu kromatografi partisi dan kromatografi penukar ion, dan kromatografi lapis tipis.
3.    Pengendapan protein sebagai garam
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu, seperti asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan ini menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah asam tungstat, fosfotungstat, dan metafosfat. Protein jugha dapat diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn dan Pb.
4.    Pengendapan protein dengan penambahan garam
Pengendapan protein dengan cara penambahan garam didasarkan pada pengaruh yang berbeda daripada penambahan garam tersebut pada kelarutan protein globuler. Pada umunya dengan meningkatnya kekuatan ion, kelarutan protein semakin besar, tetapi setelah mencapai titik tertentu kekuatannya justru akan semakin menurun. Pada kekuatan ion rendah gugus protein yang terionisasi dikelilingi oleh ion lawan sehingga terjadinya interaksi antar protein, dan akibatnya kelarutan protein akan menurun. Jenis garam netal yang biasa digunakan untuk pengendapan protein adalah magnesium klorida, magnesium sulfat, natrium sulfat, dan ammonium sulfat.
5.    Pengendapan pada titik isoelektik
Titik isoelektrik adalah pH pada saat protein memiliki kelarutan terendah dan mudah membentuk agregat dan mudah diendapkan. Berbagai protein globular mempunyai daya kelarutan yang berbeda di dalam air. Variable yang mempengaruhi kelarutan ini dalah pH, kekuatan ion, sifat  dielektrik pelarut dan temperature. Setiap protein mempunyai pH isoelektrik, dimana pada pH isoelekrik tersebut molekul protein mempunyai daya kelarutan yang minimum.. Perubahan pH akan mengubah ionisasi gugus fungsional protein, yang berarti pula mengubah muatan protein. Protein akan mengendap
pada titik isoelektiknya, yaitu titik yang menunjukkan muatan total protein sama dengan nol (0), sehingga interaksi antar protein menjadi maksimum.
6.    Pengedapan protein dengan pemanasan
Temperatur dalam batas-batas tertentu dapat menaikkan kelarutan protein. Pada umunya kelarutan protein naik pada suhu lebih tinggi
(0-40°C). pada suhu di atas 40°C kebanyakan protein mulai tidak mantap dan mulai terjadi denaturasi. Denaturasi dapat didefinisikan sebagai perubahan struktur sekunder, tersier, dan kuartener dari molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan peptide. Peristiwa denaturasi biasanya diikuti dengan koagulasi  (penggumpalan). Rentang suhu denaturasi dan koagulasi sebagian besar protein sekitas 55 sampai 75°C. suhu koagulasi albumin telur 56°C, albumin serum sapi 67°C, dan albumin susu sapi 72°C.
F.    Ekstraksi
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejumlah gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugus pengganggu ini diekstraksi secara selektif.. Teknik pengerjaan meliputi penambahan pelarut organik pada larutan air yang mengandung gugus yang bersangkutan. Dalam pemilihan pelarut organik agar kedua jenis pelarut (dalam hal ini pelarut organik dan air) tidak saling tercamupr satu sama lain. Selanjutnya proses pemisahan dilakukan dalam corong pisah dengan jalan pengocokan beberapa kali. Hal yang harus diperhatikan untuk memilih jenis pelarut yang sesuai menururt  Arsyad (2001) adalah sebagai berikut:
a.            Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang bersangkutan dan konstanta distribusi rendah untuk gugus pengotor lainnya.
b.            Kelarutan pelarut organik rendah dalam air
c.            Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air
d.            Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun
e.            Mudah melepas kembali gugus yang terlarut didalamnya untuk keperluan analisa lebih lanjut
Ekstraksi dapat dilakukan secara kontinu atau bertahap, ekstraksi bertahap cukup dilakukan dengan corong pisah. Campuran dua pelarut dimasukkan dengan corong pemisah, lapisan dengan berat jenis yang lebih ringan berada pada lapisan atas.Dengan jalan pengocokan proses ekstraksi berlangsung, mengingat bahwa proses ekstraksi merupakan proses kesetimbangan maka pemisahan salah satu lapisan pelarut dapat dilakukan setelah kedua jenis pelarut dalam keadaan diam. Lapisan yang ada dibagian bawah dikeluarkan dari corong dengan jalan membuka kran corong dan dijaga agar jangan sampai lapisan atas ikut mengalir keluar. Untuk tujuan kuantitatif, sebaiknya ekstraksi dilakukan lebih dari satu kali. Jika sebagai metode analisis digunakan metode spekttrofotometri, tidak perlu dilakukan pelepasan karena konsentrasi gugus yang bersangkutan dapat ditentukan langsung dalam lapisan organik. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk pelarut air maupun organik. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi menurut Arsyad (2001) adalah sebagai berikut:
1.         Tipe persiapan sampel
2.         Waktu ekstraksi
3.         Kuantitas pelarut
4.         Suhu pelarut

5.         Tipe pelarut

DAFTAR PUSTAKA.
Anonim,2010. Albumin. http://lordbroken.wordpress.com/2010/10/02/albumin/Diakses pada tanggal 5 Maret 2013, Makassar.

Anonim,2011aTelur Itikhttp://suksesdansehat.wordpress.com/2011/11/15/103. Diakses pada tanggal 5 Maret 2013, Makassar.

Anonim,2011b.Amonium Sulfat. http://irbmevonnovembri.blogspot.com/2011/08/kegunaan-ammonium-sulfat-nh42so4.html.. Diakses pada tanggal 5 Maret 2013, Makassar.

Anonim,2011c.Analisis Protein. http://mel-rizky.blogspot.com/2011/11/analisis-protein.html. Diakses pada tanggal 10 Maret 2013, Makassar.

Anonim, 2012a. Protein http://id.wikipedia.org/wiki/Protein. Diakses pada tanggal 5 Maret 2013, Makassar.

Anonim, 2012b.Asam Asetat. http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_Asetat. diakses pada tanggal 19 Oktober 2012, Makassar.

Anonim, 2013.Amonium Sulfat. Anonim, 2012b.. http://en.wikipedia.org/wiki/Ammonium_sulfate2013. diakses pada tanggal 19 Oktober 2012, Makassar.diakses pada tanggal 19 Oktober 2012, Makassar.

Alisha,  2011c. Protein http://www.kesehatan123.com/2418/protein/. Diakses pada tanggal 5 Maret 2013, Makassar.
Anna Poedjiadi, 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta
Arsyad, M. N. 1997. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Gramedia. Jakarta.

Candra, K. P., Prabowo, S., 2007. Penuntun Praktikum Biokimia. Program Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. Fakutas Pertanian. Universitas Mulawarman : Samarinda.

Hakim, Muhammad. 2010a. Cetak Protein Telur Lebih Unggul.
Universitas Indonesia : Jakarta.

Sirait, C. H. 2003. Telur dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor.
Winarno, F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar