Selasa, 09 Juli 2013

(2) BOOK REVIEW “Ketika Rasa Syukur Tak Pernah Habis Terucap”




RESENSI
Judul buku  : Ketika Rasa Syukur Tak Pernah Habis Terucap
Penulis  : Meta Mahendradatta
Penyunting  : Tuflikha Primi Putri
Dadi Permana
Tahun terbit  : 2009
Cetakan buku  : Cetakan 1
Penerbit  : Grafidia
Kota terbit  : Bandung
Nomor ISBN  : 978-602-00-0508-9

Well, akhirnya tamat juga niatan untuk baca buku autobiografi ini hehehe *Alhamdulillah. Kenapa pengen banget baca? Oke, the first reason caused the writer’s my fav. lecture, the second reason i getting courius . But okelah reader, saya akan mencoba me-review nya secara objektif.
Buku ini sejatinya menceritakan pengalaman hidup penulis yang terdiri dari beberapa kisah sejak beliau kecil hingga beliau memiliki empat orang anak. Baik pengalaman yang menyenangkan, menggelikan, ataupun penyesalan yang berakhir dengan sebuah kesadaran. Buku ini tidak sekedar menceritakan kisah hodup namun juga membimbing pembacanya untuk belajar mengikhlaskan sesuatu yang hilang, dan senantiasa berbaik sangka pada Allah karena insya Allah sesuatu yang hilang akan ada gantinya dengan yang lebih baik, dan Prof. Meta sudah membuktikannya. Seluruh kisah hidup beliau yang tertuang dalam buku ini juga menunjukkan betapa banyak hal dalam hidup ini yang dititipkan Allah kepada kita yang harusnya banyak disyukuri. Mengingat betapa penyayangnya Allah, serta melihat banyaknya orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Sehingga tidak salah jika saya mengatakan bahwa buku ini secara tersirat mengajarkan kita khususnya nih yang masih muda-muda untuk mengambil ibrah atau hikmah dari kisah hidup beliau agar lebih memaknai hidup yang dititipkan dengan penuh kesyukuran disertai semangat berbagi dan kepedulian yang tinggi kepada sesama. Of course dilandasi dengan ketulusan :’)
Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, seolah-olah beliau sedang menulis diary-nya. Mencakup ungkapan hatinya. Salah satu kisah yang menurut saya memiliki nilai plus-plus dan paling mengena diantara sekian banyak kisah adalah ketika beliau sedang hamil tua (1998) sementara beliau kesulitan melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal tersebut menyebabkan penulis akhirnya menggunakan jasa pembantu. Namun karena pembantu tersebut merupakan orang asing yang tiba-tiba datang menawarkan jasa bantu-bantu tanpa membawa tanda pengenal, tentu saja menimbulkan kecurigaan besar bagi suami penulis. But, ibu Meta mencoba untuk berprasangka baik karena saat itu kebetulan beliau sangat membutuhkan bantuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, hingga suatu hari yang tak terlupakan pun terjadi. Kala sang suami ingin makan siang lalu kebingungan mencari ricecooker kecilnya, ibu Meta pun tersadar kalo ricecooker-nya telah diboyong pergi oleh sang pembantu yang beberapa saat lalu meminta izin untuk membeli rokok dan belum juga kembali. Belum lagi keadaan kamar yang sudah acak-acakan serta setrika, dan beberapa benda lainnya yang juga telah lenyap dibawa pergi. Hal tersebut menyebabkan sang suami menghubungi sanak keluarga, seketika rumah beliau pun terasa sesak tentu dengan pembahasan yang sama, analisa kecurian. Hingga akhirnya, ibu Meta meminta agar masalahnya  tak usah diperpanjang, dan berkata “tadi sudah keluar bercak darah..”, Hal itu spontan menyebabkan kehebohan diantara sanak keluarga, ibu Meta pun dibawa ke rumah sakit, dan Alhamdulillah anak keduanya pun lahir.
Well, apa hikmah yang dapat diambil dari salah satu kisah hidup beliau?  Saya pribadi mencoba belajar lebih melapangkan hati untuk memaafkan kesalahan orang lain apalagi sosok yang mungkin dianggap pribadi yang tak mungkin menyakiti kita dan mengikhlaskan sesuatu yang sudah tidak disisi kita lagi. Like i said before, senantiasa husnudzhon kepada Allah. Insya Allah akan ada ganti yang lebih baik. Peristiwa kecurian yang seharian nyaris menguras banyak energy pikiran dan tenaga itu pun pada akhirnya seolah tak pernah terjadi dengan hadirnya karunia Allah yang lebih besar pada keluarga penulis yakni, lahirnya anak kedua. Subhanallah.. inilah mengapa  rasa syukur  tak pernah habis terucap. Itu baru satu kisah hidup ibu Meta, bagaimana lagi dengan kisah hidupku, hidupmu, dan hidup orang lain? Tentu jika direnungi lebih dalam, akan terasa betapa penyayangnya Allah, dan betapa banyak hal yang senantiasa mengiringi nafas hidup ini yang tentu saja patut disyukuri. Alhamdulillahhirrabbil’alamiin ^^v
Syukur menambah nikmat
Allah subhanahu wata'ala berfirman yang artinya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Husnudzhan kepada Allah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sourch dalil:
http://m.voa-islam.com//news/aqidah/2012/02/21/16624/hakikat-husnudzan-kepada-allah/

http://majelissayyidinamuhammad.wordpress.com/2010/03/20/bersyukurlah-nikmat-akan-bertambah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar