Senin, 08 Juli 2013

Dibalik Remangnya Arah itu...

Ku susuri jalanku, jalan yang ku pilih setelah sekian waktu yang kubutuhkan untuk memilih
Aku melaluinya bersama derap semangat yang kerap kali berfluktuasi seiring transisiku ke sesi hidup baru
Sejak awal kuniatkan, semua ini demi dan untuk Dia
Hingga akhirnya aku terperosok lebih dalam pada sebuah ikatan yang tak ingin aku lalui
Aku pikir selanjutnya aku akan bebas sepenuhnya setelah melewati serangkaian jalan panjang penuh liku selama masa-masa pengenalanku di bumi hijau ini, yang telah banyak dihiasi dengan kata “istighfar”, dan “alhamdulilllah”, telah banyak diwarnai dengan senyuman, amarah, serta tangisan
Apa lagi yang membuatku gagal untuk mundur? Kala itu aku merasa aku masih memiliki kawan seperjuangan yang tentu memiliki tujuan yang sama, “kita jalani untuk kita akhiri”
Tidak semudah itu..
Jelas tidak semudah itu,
Kata hati hari itu, nyatanya  bisa saja tak sejalan dengan kata hati hari ini
Pada akhirnya aku sendirian
Sendiri dengan prinsip yang entah aku tak percaya dengannya aku bisa bertahan hingga tahap akhir
Aku terikat pada sesuatu yang tak ingin ku lakukan
Tentu saja itu menyesakkan dada
Aku terdiam, dan kembali merenung
Menghindar, aku lelah menghindar
Berterus terang? Ahh.. sayangnya aku telah pernah mencobanya
Namun, dia punya 1001 alasan untuk membuatku bertahan dan merasa nyaman
Aku tak bisa bilang mereka buruk,, tidak sama sekali... mereka punya rasa kekeluargaan, aku sangat senang kala mereka berjuang untuk mewujudkan suatu kegiatan yang tentu saja menurutku memiliki nilai plus
Hanya saja........ aku tak merasakan “nyaman” dan “tenang” jika berada dalam kumpulan itu
Entahlah.. aku selalu gelisah
Ini berbanding terbalik dengan kehidupanku di lingkaran kecilku yang sama sekali, aku harus menghijabi diri dari segala aspek dalam pergaulanku dengan lawan jenis
Bukan menutup diri,namun ada batasannya
Kuyakini perintah Tuhan-ku tak pernah salah
Namun... setiap orang punya pandangan berbeda dalam menafsirkannya
Dan Merekapun mengamalkannya sesuai keyakinannnya
Lantas bagaimana? Aku hanya ingin menghindari kemungkinan terburuk, nyatanya ada beberapa hal yang tak ku senangi.
Aku hanya ingin terlepas tanpa tatapan sinis, tanpa kata-kata tajam, tanpa senyuman penuh benci
Lalu, kapan saat itu tiba?
Keremangan itu masih ada di pelupuk mata
Apakah aku harus bertahan? Menghindar? atau melaluinya setengah hati?
Ahh.. itu melelahkan
Harus segera kuputuskan
Segera..
Ya Rabb, hanya kepadamu kami meminta pertolongan
Tunjukilah kami jalan yang lurus, aamiin (Al fatihah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar