Minggu, 09 November 2014

Ingin ku ringankan bebanmu.. adakah cara yang tepat?




Langit baru saja menumpahkan limpahan keberkahannya
Bagi seluruh penduduk bumi dengan sejuta cerita kepenatannya
Ada jutaan umat
Ada jutaan cerita
Seiring turunnya hujan pertama di november ini
Kuhaturkan padamu kebimbangan yang tengah melanda fikiranku
Tentang janji yang mungkin disalahartikan
Tentang janji.. yang kau pegang hingga detik ini
Yang nyaris telah membuat kamu menitikkan air mata
Tentang persahabatan yang aku tak mau putus karena janji yang sulit aku artikan
Aku ingin membantu
Aku ingin meringankan beban yang mendera fikiranmu
Tapi sekali lagi aku tak ingin terikat
Dan dengan ini aku pastikan bahwa..
Walau doaku senantiasa mengiringi perjuangan mu
Namun.. langkah kakiku tak dapat kupastikan akan mengawalmu 100% hingga kau turun, dan kembali menikmati lega-nya tidur di malam hari
Yang dianggap keramat bagi sebagian orang
Sedih kala kau merasa berjalan sendirian
Kala kau merasa.. dirimu  bagai dijadikan tumbal  tanpa alasan yang jelas
Dan pada akhirnya kau merasa tak punya siapa-siapa,
Merasa dijatuhkan di lubang yang dalam.. gelap .. seorang diri
Aku ingin menggenggam sedikit bebanmu
Namun.. batinku hingga detik ini.. yah..! hingga tahun ketiga ini..
Tak cukup kuat untuk berdiri tegak dalam lingkaran keluarga ini
Entahlah..
Jiwaku seolah menolak untuk meletakkan  seutuhnya  suka duka di rumah ini
Tapi tolong jangan kau salah artikan
Sekali lagi jangan
Mungkin kau tanyakan kemana arti solidaritas yang selama ini selalu diagung-agungkan
Atau bahkan tingkahku bagai seorang pengkhianat dalam benakmu
Oh tidak..
Jangan sampai
Aku hargai setiap cinta yang telah diberikan
Aku syukuri untuk semua dekapan hangat yang telah menyelimuti diri
Terima kasih atas sapaan ramahmu
Atas segala uluran tangan mu wahai kakanda.. wahat saudara saudariku
Namun maafkan jiwa yang labil ini.. belum bisa memberi seutuhnya
Ada yang berbeda
Antara aku dan kamu
Sesuatu yang  aku yakin tak sepaham denganmu
Ahh.. aku sedih untuk membahasnya lagi..
Bahwa  walau aku tepat disampingmu..
aku tak bisa berpijak terlalu lama
Aku, kamu, dan kalian..
Setiap kita punya tempat atau situasi atau kondisi tertentu yang bisa membuat kita seolah berkata
“bismillah. Disinilah saya akan berproses” dan “inilah.. disinilah..”
Aku tak dapat merasakan seutuhnya.. hingga tahun ketiga.. hingga generasi baru berdatangan.. hingga para sarjana muda.. satu per satu pergi melanjutkan hidup dan perjuangannya
Berbeda denganmu..
Mungkin separuh bahkan hingga hampir seluruh jiwaku seolah berkata.. ini bukan yang tepat bagiku
Aku ingin menggenggam sebagian bebanmu
Mungkin dengan cara yang berbeda
Mungkin tak harus jalan bersama, walau ku tahu kau akan menganggapnya hanya sebuah bualan kosong tak nyata
Nyatakan padaku..
Ada kah yang bisa aku lakukan..?
Hingga setidaknya bisa sedikit mengobati luka hatimu
Yang sakit nya bahkan terlalu sakit untuk aku bayangkan
Adakah jalan yang bisa aku lalui?
Walau tak bisa seutuhnya menjamin keringnya tangisan di pelupuk matamu
Maafkan
Tolong maafkan
Kaki yang terlanjur melangkah namun terlambat menyadari
Lisan yang mungkin terlanjur berucap namun terlambat memahami
Maafkan saudarimu ini
Aku hanya ingin kau.. dan kalian tahu
Bahwa walau hampir seluruh jiwaku nyaris mati rasa di rumah ini
Namun, ada bagian lain  di hati ini yang selalu mendukungmu.. walau hanya sebatas doa.. walau tak bisa total untuk melangkah bersama
Ada bagian lain.. yang juga meneriakkan suaranya, “tolong jangan putuskan tali persaudaraan kita.. sekarang hingga di masa depan .. hingga akhir”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar