Senin, 09 Februari 2015

(EDISI TEMAN 3] Semangatmu Mengalihkan Duniaku



Siapa di dunia ini yang tak pernah merasakan kelamnya rasa “jatuh semangat” ..?
Merasa apatis dan tak bisa berbuat apa-apa
Merasa paling galau dimuka bumi dan mempublikasikannya di seluruh media sosial yang dimilikinya
Seolah dunia harus tahu kegalauan yang menyerangnya
Namun.. tidak semua jiwa yang pernah “jatuh semangat” akan berakhir kelu di sosial media
Ada beberapa orang yang bangkit kembali setelah jatuh
Jatuh lagi  bangkit lagi
Begitu seterusnya
Aku punya seorang teman yang bagiku cukup inspiratif
Ia terlahir sebagai anak perempuan ketiga, yang kedua kakaknya menjadi acuan semangat yang besar baginya
Anak tertua seorang dokter dan anak kedua seorang calon mahasiswa pascasarjana kesehatan masyarakat
Dulunya.. dia  mungkin tertekan.. merasa paling tidak mampu karena tak dapat lolos snmptn ujian tulis, tapi melalui jalur POSK .. sekali lagi.. mungkin
Di tahun kedua kuliah dia  nyambi ikut bimbingan belajar, lalu ikut tes snpmtn kembali dan lulus. Namun lulus d pilihan kedua tak cukup membahagiakan bagi nya yang begitu memimpikan lulus d pilihan pertama… Fisioteraphy-UNHAS
Ia tak jarang menyalahkan dirinya.. terkadang berpikir mengapa ia berbeda dari kakak-kakaknya
Minder.. Merasa yang paling tak pintar dibanding kedua kakaknya..
Hari terus berlalu
Dan
Dia.. memantapkan hatinya untuk melanjutkan kuliah, dan tidak mengambil kursi di jurusan yang baru saja dilulusinya
Dia yang kukenal dulu terus berubah seiring berjalannya waktu
Dia menjadi pribadi yang lebih bersemangat..
Kuliah semester 2 sambil nyambi bimbingan belajar dengan harapan besar dapat lulus snmptn pilihan pertama, nyatanya membuat dia sedikit tidak fokus dengan perkuliahan semester 2
Jadinya salah satu mata kuliah pun harus d ulang
namun.. sepertinya hal itu juga yang menggenjot semangatnya, semangat untuk mengejar ketertinggalannya.
Dan alhasil dia yang ku kenal hari ini menjadi pribadi yang berbeda
Selalu ceria.. meski pun mungkin saja ada kesedihan yang coba di dasar hatinya
Berusaha  keras mengerjakan tugas dengan hasil pemikiran sendiri, disaat orang lain mungkin memilih untuk menyalin tugas
Berusaha keras untuk menyelesaikan tugas sesegera mungkin, disaat orang lain mungkin memilih mengerjakan tugas di akhir atau bahkan melewati batas waktu
Aku yakin sekali dia sedih karena kelulusan snpmtn ny tak sesuai yang diharapkannya. Namun semangat perbaikannya itu sungguh besar. Dia tak berlarut-larut dengan takdir yang diraihnya. Ia telah berusaha dan ia pun telah berdoa. Aku yakin ini yang terbaik dari Tuhan untukNya
Sampai suatu ketika kalimat optimisme lahir dari bibirnya. Kurang lebih seperti ini..
“sadar tidak, bidang ilmu kami bertiga (red: dia, dan kedua kakak perempuannya) itu saling berhubungan. Kakak pertama dokter yang mengobati pasien. Kakak kedua calon ahli gizi yang tau seluk beluk kadar makanan yang baik untuk dikonsumsi. Semestara aku calon teknokrat pangan yang akan tahu banyak seluk beluk teknologi pangan”
Um.. kurang lebih seperti itu
Wah.. I’m impressed
Akhirnya semangat nya nyaris kembali utuh
Hingga hari ini aku melihat dia selalu berupaya memberikan yang terbaik. Mulai dari perkuliahan, hingga amanah di himpunan hehehe..
Mungkin semangat belajar nya yang tinggi itu berasal dari orang tua
Mungkin juga kakak-kakaknya
Bisa saja
Apapun itu aku belajar banyak darinya soal MOVE UP setelah jatuh..
Darinya aku belajar.. mengatur waktu sedikit demi sedikit
Darinya aku belajar…
Kita bisa saja “jatuh semangat”
Tapi jangan sampai “patah semangat” karena kita masih bisa “membangkitkan semangat”
Kerja kerasnya itu tak jarang membuatnya menjadi yang terbaik dalam mengerjakan tugas. Sang dosen tak jarang memuji hasil tugasnya. Ahh.. lagi-lagi aku belajar bahwa, jika kita sungguh-sungguh insha Allah kita juga  bisa memberi yang terbaik, Man Jadda wa Jadda
Namun ketekunannya itu terkadang membuatnya kadang harus “makan hati”. Dulu pas pertengahan masa perkuliahan.. tak jarang mata sinis maupun kata tak enak didengar sampai kepadanya dari mereka yang mungkin.. tak mampu untuk tekun seperti dirinya.. kata-kata itu misalnya,  “solkar” . lalu.. pantaskah seseorang disebut solkar kala dia mengerjakan dan mengumpulkan tugas diawal waktu? Aku pikir itu hanyalah perkataan orang-orang yang tak mau sedikit lebih rajin.. sedikit lebih optimis.. sedikit lebih berusaha.. sedikit.. lebih menyukai dosennya
So, just GO AHEAD dan seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya, datangi mereka dan ajari mereka mengerjakan tugas mungkin dapat menjadi salah satu alternatif : )
Syukurnya temanku ini tak begitu ambil pusing.. senantiasa sabar dan tak menjadikan hal-hal tersebut sesuatu yang bisa menurunkan semangat belajarnya. Mungkin.. ia selalu terkenang orang tuanya, selalu ingin memberikan yang terbaik bagi keduanya.. dan jadilah ia seseorang yang tekun. Terkait trouble diatas, hingga hari ini aku bahkan yakin hubungannya dengan mereka.. menjadi jauh lebih baik. Mungkin benar memang bahwa waktu telah mendewasakan kita.
Dibalik ketekunannya.. ia adalah sosok yang sangat peduli kepada teman-temannya, ramah, kocak, dan suka menolong..  meskipun untuk hal-hal kecil misal.. menemani ke WC, menemani ke kantin, menemani nge print tugas yang jaraknya itu gak jauuuuuh dari ruang kelas kuliah. Dan sekali lagi aku tak menemukannya mengeluh untuk hal itu, meski sering kulihat keringat berjatuhan di dahinya.. meski sering ku dengar nafasnya yang terengah-engah..  semoga saja keikhlasan senantiasa mengiringi kebaikannya, biar itu tak sia-sia.. biar tak ada keluhan meski sebatas bisikan. Biar menjadi penerang di negeri akhirat dan Tuhan yang membalas semua ketulusannya.. aamiin.
Selain itu.. mungkin kekocakan atau kebanyolannya serta kehangatannya yang membuatnya dirindukan oleh kita-kita hahaha..
Dengan semua kebaikan hatinya.. aku yakin setiap orang punya kekurangan dan kelemahan. Mungkin saja apa yang aku paparkan ini nyatanya tak seperti yang dia rasakan.. bagaimanapun aku hanya membagi semangat positif yang aku dapat dari pribadi nya.
Dan
Well back to main topic,
Ku akui terkadang kala saya terjatuh, dia yang usianya setahun lebih muda tak jarang memberi nasihat-nasihat manis yang menyentuh. Dia memberi semangat “ayo kiki, kamu pasti bisa! tetap berusaha.. tetap berdoa”. Kata-kata itu memang singkat dan mungkin “biasa”. Kata-kata itu sering sekali terdengar bagi mereka yang ingin menyemangati seseorang, atau bahkan sering kita dapati di sinetron-sinetron Indonesia. Namun kata-kata itu jika direnungi.. jika dicatat dalam hati.. jika disimpan dimemori.. jika di pajang di dinding kamar sendiri, selalu dipandangi.. tentunya akan memberi kekuatan yang besar.. kekuatan ekstra.. kekuatan yang luar biasa..
Ayo kamu pasti bisa!  Seolah memberi tanda bahwa kita harus semangat. Harus bangkit dari kesedihan yang melanda. Sebelum kesedihan itu jauh-jauh masuk ke relung jiwa.. alangkah baiknya jika kita terus menyatakan “Insha Allah aku pasti bisa!”
Tetap berusaha, seolah memberi tanda bahwa “saya harus lebih berusaha, jika saya sudah berusaha 99 kali lalu gagal dan tak mencoba lagi, maka bisa saja di usaha yang ke 100 kali baru aku akan berhasil. who knows?  Lalu mengapa aku harus menyerah jika masih ada harapan?
Tetap berdoa,  kata-kata itu membuat kita kembali ingat jika kita lupa. Membuat kita terus mengingat agar tidak lupa. Sekalipun kita sudah berusaha keras, namun apalah artinya jika kita tidak berdoa.. seseorang yang tidak berdoa adalah orang yang sombong. Mengapa? Karena dia mengandalkan kekuatan dirinya saja. Padahal.. siapakah yang Maha Besar? Siapakah yang Maha Kuat di alam semesta ini? Allah bahkan meminta kita untuk senantiasa berdoa kepadaNya?
Dengan berdoa, kita akan dekat terus kepadaNya.. terus mengingatNya.. terus  berharap padaNya.. itu tak mengapa.. bergantung kepada Allah adalah suatu kepastian.. karena.. diri kita terlalu lemah bahkan untuk melindungi diri dari hawa nafsu sendiri. Terus mengingatNya juga merupakan salah satu cara agar kita tidak stress. Stress adalah tanda jauh dari-Nya. mengapa? Aku berpikir bahwa.. seseorang seolah tak mampu berpikir dengan jernih.. mungkin hati perlu sedikit di rehab. Dengan alunan ayat suci.. maupun sujud dengan air mata yang membasahi pipi. Bukankah dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang?
Firman Allah dalam QS:13:28
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteran dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”
kepada Allah aku ucapkan terima kasih atas dirinya, salah satu kado yang selalu menjadi kado berharga hingga hampir empat tahun terakhir
kepadanya.. aku ucapkan terima kasih terus mengulang kata-kata itu .. kala aku terjatuh
terima kasih pula menjadi bahu yang mampu menopang sedikit beban yang kala itu terasa amat berat..
terima kasih mau mendengar kan
semoga mimpi-mimpimu kelak dpat menjad nyata,, Love U.. Lillah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar