Jumat, 27 Maret 2015

Ada Kamu, Sedetik yang Lalu..





Sedetik yang lalu.. aku bagai kembali ke masa lalu
Mengingat kamu dan seluruh kekonyolan yang terjadi
Kala kita muda dahulu
Saat kata “cinta” begitu mudahnya terucap
Kala hati tak dapat berbohong
Kala hati tak mampu dikendalikan
Rasa itu datang di sedetik yang lalu
Itu dahulu…
Berapa banyak waktu berlalu
Meski segalanya berubah
Namun cerita dahulu tak dapat berubah
sebagai kepingan cerita untuk diingat, untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran berharga
Ku akui cintaku membuncah
Wajahku merona kala kamu ada di depan mata
Namun itu dahulu
Kini cintaku bahkan begitu membuncah lagi
Bukan denganmu, bukan.. bukan lagi
Namun dengan-Nya
yang mendewasakanku lewat cinta-Nya yang tak pernah surut
yang mencintaiku kala yang lain berpaling
yang mendengarkanku kala yang lain sulit memahami
yang cintaNya mampu mengobati hati yang pilu,
mata yang tak pernah kering atas butiran-butiran kekecewaan
dan hati yang kerap kali terpuruk
Wahai Sang Pencinta, Yang Maha Pengasih
Aku yakin ada ruang hati yang tersisa
Namun kini, cukup Engkau satu-satunya cinta
Lalu nabi
Lalu ibu.. lalu ayah
Lalu ukhti.. lalu akhi..
Tetap seperti itu, hingga pemiliknya datang.. saat waktunya tiba
Namun..
Kala sesuatu tak terduga terjadi di depan mata
Izinkanku menyelami makna pepatah
Selamat datang rasa, tenanglah engkau di dalam hati yang terjaga”.

NB: Wahai Sang Pemilik Mawar, semoga suatu saat  hidayahNya jatuh kepadamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar