Jumat, 27 Maret 2015

Mimpi di Depan Dahi...





Aku menanti hari itu
Kala senyuman ibunda terkembang dengan lepas
Kala  mata bahagia ayah tak mampu lagi ku pandangi dengan seksama,
yang terlihat bahagia..
seperti menutup kedua matanya,
layaknya orang korea

Hari itu
Detik-detik ketika salah satu pencapaian hidup berhasil aku raih
Mungkin dengan pakaian terbaik
Suasana hati terbaik
Dan menerima segenap cinta dari seluruh orang yang mengasihi
Dan kini aku menuju ke detik itu, wisuda

Tapi jalannya memang sungguh berliku
Dan sungguh aku tak ingin mengeluh
Meski lidahku ingin sekali
Dan sungguh aku tak ingin menangis
Meski mataku  kadang nyaris tak dapat lagi melihat dengan seksama
Ku dapati diriku sedang memulai perjuangan
Merenungi mengapa ini dan itu bisa terjadi
Kala butir butir persoalan menuntut untuk segera diselesaikan
Betapa sejuta kekurangan diri baru tersadari
Dan aku harus berlari untuk belajar lebih giat lagi

Sekali lagi kudapati diriku sedang berjuang
Demi mimpi yang bergantung disini, di depan dahi
Seolah mengikuti setiap arah pandanganku, ke manapun ku memandang
Demi tumpukan harapan yang masih tersusun rapi di pundak kecilku ini
Seolah terus  meminta ku berjuang agar ia segera menghilang

Kala terjatuh aku harus memilih untuk berdiri kembali
Entah sendirian atau harus dengan uluran tangan para teman sejati
Karena kusadari tak ada pilihan lain
Selain berjuang, dan mendekat pada Ilahi
Sumber kekuatan untuk setiap kegundahan hati
Sekarang, esok, hingga wisuda nanti



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar