Sabtu, 19 September 2015

A: “Pengen Wisuda”. B: Kamu serius?


 

Perjalananmu hampir mencapai babak baru. Menuju perbatasan yang menjadi impian bagi setiap orang. Terkhusus bagi mereka yang punya peta hidup yang jelas, tentu akan sangat bersemangat menuju perbatasan itu. Ya! Perbatasan yang akan menggiring mu menuju perjalanan yang baru, dengan orang-orang baru, suasana baru, entah sesuai peta hidupmu atau kau akan memilih jalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Perbatasan menuju babak baru yang menjadi mimpi setiap penghuni kampus di semester terakhir.

Detik ini tak pernah berhenti hingga Sang Pemilik waktu menghendakinya untuk berhenti. Itu artinya detik demi detik pasti akan membawa mereka yang panjang umur, mencapai perbatasan itu. Lambat ataupun cepat langkahnya. 

Tapi.. bagaimana caranya menuju perbatasan itu, jika hanya bermodalkan “mau” saja? Tak ada aksi nyata, tak terlihat usaha yang berarti. Itu mustahil. Tuhan pun berfirman, bahwasanya Dia tak akan mengubah keadaanmu kalau kamu sendiri tak berusaha untuk berubah (petikan Quransurah Ar-Rad ayat 11). Tak mungkin berharap waktu mendatangkan keajaiban. Tak mungkin berharap berdoa sepanjang siang dan malam akan terkabulkan. Tak mungkin sungguh tak mungkin jika hanya modal “mau” saja.

Kita ingin menuju perjalanan yang baru, ingin melewati batas  wilayah yang telah kita huni kurang lebih empat tahun. Lantas bagaimana menuju kesana? Jika perbekalan tak ada.. jika kendaraan tidak ada. Seperti itulah kurang lebih analogy seorang mahasiswa yang mendamba gelar sarjana. Sungguh beruntung mereka yang mempersiapkan bekal dengan belajar sungguh-sungguh di akhir perjuangan panjangnya, mereka yang punya rangkaian aksi nyata penuh komitmen ingin diwujudkan dengan penuh kesungguhan, yang  disertai butiran kata dan harap yang tiada henti kepada Rabbnya.

Namun bagaimana dengan calon sarjana yang sangat mudah terpuruk bahkan oleh revisi pembimbing yang dirasanya mungkin kurang konsisten atau berbelit-belit; calon sarjana yang mentalnya mudah jatuh dan berujung pada serangkaian kalimat penuh keluhan di social media; calon sarjana yang merasa waktu tidak begitu berharga untuk dimanfaatkan mengerjakan revisi dari pembimbing; calon sarjana yang mau sarjana.. namun realitanya seperti ogah-ogahan menuju wisuda. Hm… ini bukan bualan. Ini nyata, mereka ada.




Adapun mereka yang terus terjatuh dan senantiasa mencoba bangkit serta optimis, semoga Tuhan memudahkan perjuangannya. Aamiin. 





Ayo bangun. Ingat kembali ketika kita berjuang mati–matian bersaing dengan ribuan lulusan putih abu-abu, yang ingin menghuni ruang belajar yang telah kita huni selama kurang lebih empat  tahun terakhir.  Ingat kembali perjuangan menuju tempat bimbel demi menemukan cara jitu menaklukkan soal SNMPTN. Ingat kembali ketika orang tua harus merogoh uang berlebih, ketika kita harus melalui jalur non subsidi untuk melanjutkan pendidikan. Ingat kembali perjuangan dari rumah menuju kampus yang menguras  tenaga dan banyak biaya (jika jarak rumah kamu jauh). Bukankah semuanya itu ada pengorbanan? Uang.waktu.tenaga.. semuanya kita korbankan bukan? Sekarang, garis finish itu ada di depan mata. Sedikit lagi.. sedikit lagi kita akan sampai kesana..  tak maukah kita berkorban sedikit lagi untuk membayar perjuangan empat tahun lalu? untuk membuat  kita  menghargai kerja keras kita dahulu.. untuk mengukir senyum diwajah kedua orang tua, bahwa satu lagi tanggung jawab telah berhasil kita tunaikan.

Selama kamu masih punya Allah, haram hukumnya untuk berputus asa. Semakin galau hati dan jiwa, maka semakin perlu kita kembali kepada Allah. Why? Karena Allah-lah yang paling ngerti diri kita, bukankah Dia dzat yang telah menciptakan kita? : )
Tentu sudah pasti memahami segala kekurangan dan kelemahan kita. Dan Allah tak akan memberi ujian di luar batas kemampuan kita (petikan Quransurah al-Baqarah, ayat terakhir).

Hari ini kita masih diberi nafas, itu artinya kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.. memperbaiki segala macam kelalaian dan kesalahan dihari kemarin. Ya! Mari kita lakukan hari ini, mari kita mengumpulkan semangat dan komitmen untuk menyelesaikan skripsi ini. Karena esok belum tentu milik kita. Terkadang  seseorang memilih untuk melakukannya besok, padahal hari ini dia sangat mampu untuk menyelesaikan revisi dari dosen pembimbing. Justru lebih memilih untuk berselancar di beragam socmed, atau melakukan serangkaian aktivitas refreshing yang nampaknya terlalu berlebihan. Hingga ketika hari esok tiba, segala yang kita rencanakan belum tentu menjadi kenyataan. Keinginan untuk merampungkan revisi dosen, bisa jadi terhalang oleh beberapa hal. Misalnya tiba-tiba orang tua butuh bantuan, dosen minta bantuan, dan lain-lain. Alhasil.. semakin tertundalah revisi skripsi karena kebiasaan prokrastinasi.


 



Mari senantiasa memohon kekuatan dari Allah, meminta  doa dan semangat dari orang tua serta teman-teman yang selalu bersemangat, dan senantiasa mengingat betapa banyak anak Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di kampus ternama.. dan kita menjadi salah satu nama yang beruntung untuk mengecap manisnya bangku kuliah. Ayo buktikan.. bahwa  kita memang benar-benar  pantas, lewat kesungguhan kita menuju garis finish.. menuju perbatasan di kehidupan baru. Ingat.. kita (aku dan kamu) harus bergegas untuk menyelesaikan studi, karena bangsa ini membutuhkan sumbangsih kita untuk Indonesia  yang lebih baik di masa mendatang. Kamu pasti bisa.. bisa bisa bisa bisa, insya Allah  bisa.

STOP
rapuh
galau
sedih berkepanjangan
menunda-nunda
cemberut
berpikir negatif

Hey anak muda!
Waktu kita terlalu berharga untuk meratapi penelitian ataupun revisi skripsi yang tak kunjung berakhir.. kita harus bergerak menuju mimpi-mimpi kita, menuju tujuan kita.. menuju kehidupan yang baru. Insya Allah kita bisa kok! Kamu nggak berjuang sendirian, ada aku.. ada jutaan mahasiswa tingkat akhir lainnya yang terus berjuang dan mencoba membiasakan untuk tidak mengeluh serta putus asa. Dan yang terpenting bahwa, kamu punya Allah yang setia mendengarkanmu 24/7. So nggak ada alasan lagi buat berlama-lama dalam keterpurukan.
Ayo calon pemimpin masa depan Indonesia
Ayo bangkit.. kamu, aku, kita insya Allah bisa..
Ayo teruskan perjuangan menuju perbatasan, menuju wisuda, serta kehidupan yang sebenarnya setelahnya. Bismillah.. (again)  : )


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar