Selasa, 08 September 2015

Muslimah Kok Anarkis?


“Kiraaaaaaan, kalo pinjam buku-buku catatan orang tuh dikembaliinnya tepat waktu  dong! Gak peka amat sih kalo yang punya buku juga lagi butuh. Kamu tau nggak kalo aku tuh sudah telat kerjain tugas-tugas dari Pak Mahmud, Malah kena ceramah gratis lagi tadi pagi. Belum lagi tugas ketikan modul dari bu Iffah, dan Pak Arif juga belum kelar. Kamu tega banget ya ran?” kata Anisa dengan nada yang  cukup tinggi hingga nyaris membuat kiran kaget.
“Ma.. Ma.. Maaf Anis, maaaf sekali saya benar-benar lupa kembalikan.. maaf sekali, saya sungguh menyesal.. plis.. maafin aku.. ” ungkap Kiran tertunduk lesu, penuh rasa bersalah
“Alahhhhh banyak alasan kamu… Makanya kalo udah janji, diingat dong! Catat tuh besar-besar di handphone kamu. Percuma juga tuh smartphone dianggurin kerjanya, dibeli mahal-mahal pula! Ahh. Sudah-sudah..aku muak liat kamu!” kata Anis dengan raut wajah penuh amarah mengambil tasnya dengan gerakan cepat meninggalkan Kiran yang memandangnya menghilang, dibalik pintu yang terpantul begitu keras, hingga membuat sapu dan kotak sampah di sudut ruangan terjatuh begitu saja.


Setiap moment, kita seringkali diperhadapkan dengan berbagai jenis karakter manusia. Tak jarang pula kita menemukan sifat asli seseorang ketika ia menjadi sangat bahagia, merasa sangat sedih, bahkan ketika tak mampu menahan amarahnya. Pemandangan seperti percakapan di atas mungkin tidak asing bagi sebagian orang. Ketika berada di posisi kiran, pasti bakalan terkejut melihat sahabatnya yang selama ini baik-baik saja.. tiba-tiba mulai berkata-kata kasar tidak seperti biasanya.  Dan  dalam hati pun tak jarang kita merasa takjub, ketika saudari kita akan memberi respon yang tak terduga pada momen tertentu yang menghampirinya.
Tentu saja hal tersebut berlaku untuk muslimah baik ia seorang aktivis dakwah, maupun  muslimah yang masih proses belajar untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kata “muslimah” ? Bisa jadi muslimah merupakan sosok yang terbalut oleh hijabnya yang panjang, bertutur kata yang lembut dan santun, serta wajah yang selalu tersenyum. Tak lupa juga ibadahnya yang diusahakannya selalu tepat waktu, serta akhlak indahnya yang merasuk qalbu. Tak kurang dari itu bukan?
Lantas apa jadinya ketika secara tidak sengaja kita mendapat sahabat muslimah kita yang bertutur kata kasar? atau ketika marah, butuh waktu berhari-hari untuk memaafkan dan menyambung kembali tali silaturrahim? Muslimah juga manusia biasa, wajar ia menjadi sangat marah ketika ada sesuatu yang menyesakkan dada. Namun jika ini menjadi habit  , wajarkah?
Hal-hal anarkis sangat banyak terjadi di lingkungan kita hampir diberbagai moment. Kita mungkin pernah mendapati saudari kita yang tiba-tiba berkata-kata kasar baik melalui tatap muka bahkan lewat beragam socmed, tiba-tiba melempar atau mengambil barang dengan kasar, tak mau bertemu, menunjukkan pandangan penuh kebencian, menolak bantuan kala diberi bantuan, marah berkepanjangan hingga silaturrahmi pun terhenti. Wana’udzubillah.. apakah seperti ini muslimah dambaan umat?
Muslimah yang anarkis tentu banyak yang tak suka, banyak pula yang tak ingin berdekatan dengannya. Apalagi sangat sulit bagi orang lain untuk menerima pesan yang kita sampaikan, jika mereka akrab dengan habit buruk kita. Bukankah kita diminta untuk beramal makruf nahi mungkar? Tentu akan mudah menyampaikan kebaikan jika perkataan selaras dengan perbuatan.
Belajar mengendalikan rasa benci, mengendalikan amarah,  belajar memaafkan. Tentu tak mudah mengubah kebiasaan jika tak ada niat, kemauan, yang terbukti lewat proses belajar yang berkelanjutan setiap harinya. Berkata-kata kasar, mudah marah, dan sulit memaafkan, akan memberikan rasa sesal yang besar jika ketiganya nyaris dilakukan. Bukti penyesalan nyata anda diawali dengan ucapan istighfar. Dan menanyakan pada diri sendiri, “mengapa aku bisa berkata sekasar itu? Mengapa aku bisa semarah itu?”, yang pada akhirnya rasa sesal pun menyelimuti karena tak mampu melawan godaan syaithan pengusik hati. Rasa menyesal merupakan satu langkah maju, karena menjadi tanda kalau kita sadar bahwa kita salah.
Merenung
 Merenung merupakan langkah berikutnya yang perlu kita lakukan, ketika tanpa sadar kita terjatuh lagi kepada perkara yang kurang disukai Allah. Dengan merenung, kita mampu berpikir ulang kronologi kejadian penyebab emosi menghampiri kita dan penyebab ketika kita mungkin begitu sulit memaafkan orang lain. Dan pantaslah ayat-ayat al-Qur’an menjadi tempat refleksi, tentang sikap yang seharusnya kita lakukan untuk menangani rasa benci dan marah. Mengapa al-Qur’an? Karena darinya, Allah secara langsung memberikan jawaban atas kegundahan yang menghampiri kita. Kita meminta petunjuk atas kata-kata kasar dan sikap emosi kita yang berlebihan, maka tengoklah kembali quran surah Ali Imran ayat 159 berikut:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”
Semua terjadi atas izin Allah, maka sembari kita belajar berlemah lembut tak lupa pula memohon  kepada Allah untuk diberi kekuatan dan rahmat untuk dimudahkan dan dikuatkan untuk memperbaiki diri. Karena jika tidak, ayat diatas telah memaparkan bahwa pribadi yang kasar akan dijauhi dari orang-orang disekitarnya. Maukah kita seperti demikian? Tentu  tidak bukan?


Kita meminta petunjuk atas kesabaran yang begitu sulit, maka tengoklah kembali hadist Rasulullah berikut:
Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”. HR al-Bukhari (no.5763) dan Muslim (no.2609)

Ya! Sabar, sabar, sabar.. terkadang beberapa orang menyatakan bahwa sabar ada batasnya. Namun yakinlah muslimah, bahwa ketika kita marah.. maka disaat itulah kita tidak sabar. Maka bersabar, menjadi pelajaran yang tiada batas waktunya..  sepanjang usia, hingga menutup mata.

Kita meminta petunjuk atas sikap kita yang begitu sulit memaafkan, maka tengoklah kembali surah an-nuur ayat 22 berikut:
Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Ketika kita sulit memaafkan, maka ingat kembali dosa-dosa kita yang sungguh tak dapat dihitung lagi. Bukankah Allah tetap memberi kita oksigen gratis untuk bernapas hari ini? Memberi kita makan? Menjamin keamanan kita hingga tiba di tempat kerja? Menjaga kita diwaktu tidur? Sungguh nikmat Allah begitu banyak, Allah begitu baik…... tak cabut apapun setelah beragam dosa yang mungkin telah dan sering kita lakukan, Masyaa’ Allah. Kita ingin Allah mengampuni dosa-dosa kita, maka begitu eloknya jika kita pun belajar memafkan kesalahan orang lain. Yah! Belajar dan belajar memaafkan.

Berikut hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentang salah satu keutamaan orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain, masuk syurga..
“Jika hari kiamat tiba, terdengarlah suara panggilan “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusia? “ Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan oran lain untuk masuk syurga” (HR, Adh-Dhahak,  dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu).

Tengok pula kelapangan hati Rasulullah untuk bersabar dan memaafkan orang-orang yang selalu mendzaliminya. Mungkin salah satu hal yang membuat kita sulit memaafkan adalah kata-kata saudari kita yang seringkali membuat tersinggung. Namun bagaimana dengan Rasulullah? Beliau dicemooh, diludahi, dilempari dengan kotoran setiap hari oleh mereka yang membenci kebenaran yang diembannya. Namun, ia tak pernah membalas dengan keburukan dan malah memaafkan mereka. Dan karena kemuliaan akhlak beliau pula, begitu banyak dari mereka yang selalu mendzalimi malah berbalik memilih masuk Islam. Tak ingin kah kita belajar dari pribadi Rasulullah yang mulia? Maka pantaslah beliau menjadi idola dan tauladan kita.

Benar adanya bahwa terasa ada yang kurang tepat ketika seorang muslimah memiliki sifat-sifat negatif yang telah dipaparkan sebelumnya, bahkan tanpa sadar telah menjadi kebiasaannya. Muslimah adalah bagian dari Islam. Islam adalah agama yang penuh kelembutan, cinta, dan kasih sayang yang meliputi seluruh penduduk langit dan bumi. Dan sebagai seorang agent of muslim, muslimah harus belajar menjadi cerminan Islam yang baik bagi siapapun yang melihatnya, yang semata-mata dilakukannya lillahi Ta’ala. Mengapa? Agar nilai-nilai islam dapat mudah dan cepat tersebar, serta berita negatif tentang Islam yang anarkis dapat mudah meredup, ingat kembali bahwa.. kita tak hanya berdakwah dengan lisan tapi juga dengan perbuatan, karena ada pribadi tertentu yang justru lebih mudah tersentuh dengan akhlak yang memukau. Keduanya bukan hal yang mudah, kecuali sejak dini ada kemauan untuk belajar membiasakan.

Tutur kasar, mudah marah dan sulit memaafkan memang wajar menghampiri kita, namun bukankah ketiganya dapat menjadi ladang pahala ketika kita memilih bersabar dan berlapang dada untuk memaafkan? Kembali kepada Allah menjadi solusinya, melakukan apa yang disukai-Nya wahai muslimah perindu syurga. Selain itu kita tak akan kuat jika bersendirian, maka mulai sekarang mari mulai berteman dengan saudari-saudari yang dapat menasehati kala kita terjatuh, dapat menguatkan, dan sama-sama menjadi partner untuk menjadi muslimah yang lebih baik setiap hari. Insya Allah kamu pasti bisa.. Selamat mencoba muslimah, untuk menebar pesona pribadimu yang shalihah wahai Sang agent of Islam. Bukan Muslimah Sang anarkis from Islam.
Maraji’ dalil:





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar