Selasa, 01 Maret 2016

Merenungi Luka Berbalutkan Senyuman Teduh, Semoga Cepat Sembuh...


 Diawal Desember lalu saya menemukan info open recruitment volunteer yang diunggah oleh salah satu dosen wanita saya di social media. Komunitas tersebut bergerak dibidang sosial, terkhusus pada serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan topik “kanker” dan “wanita’’. Baru baca rasanya langsung tertarik.  Dua tahun ini memang saya lagi gencar-gencarnya cari informasi lowongan buat jadi volunteer berbagai kegiatan. Keikutsertaanku menjadi seorang volunteer sejak mahasiswa baru hingga saat ini, mungkin masih bisa hitung jari. Well.. di sudut hati saya, ada rasa menyesal.. mengapa hal ini tidak gencar saya lakukan begitu terdaftar sebagai mahasiswa S-1? Tentu jika diakumulasikan.. temanku akan semakin banyak, begitu-pun wawasan dan pola pikirku. Dulu saya mengakui.. betapa gaptek nya saya akan hal ini v_V. Beruntung ada beberapa organisasi yang mampu menyelamatkan ku dari pribadi yang fakir pergaulan dan kemampuan softskill. Dan sekarang, meskipun sudah amat sangat terlambat, saya tak ingin menyerah. Mencari celah, untuk berkontribusi.. meski hanya dalam bentuk yang kecil.


Wah saya jadi curhat yah hehee.. Well.. Saya  pun akhirnya memutuskan mendaftar sebagai salah satu volunteer pada komunitas peduli kanker pada wanita ini. Diminggu keempat Desember 2015, Alhamdulillah saya mengikuti kegiatan perdana komunitas ini. Kegiatannya bertajuk Cancer Woman Charity yang dirangkaikan dengan dialog cancer dan yoga. Saya menghadiri acara tersebut, dan mencoba mengenali para wanita kuat yang lebih dahulu menjadi bagian dari komunitas ini. Ketika dialog cancer berlangsung, ada seorang peserta yang turut membagikan kisahnya. Dia adalah seorang ibu yang tengah berjuang untuk sembuh dari kanker getah bening yang saat ini dideritanya. Ternyata beliau sudah berkali-kali menjalani operasi, tepatnya diarea lehernya. Hal ini juga membuatnya sulit berbicara, suaranya terdengar parau. Ia mengemukakan betapa semangatnya mampu berkobar lagi, terlebih setelah bergabung dengan komunitas ini. Nyatanya komunitas ini bukan hanya menjadi tempat berkumpul mereka yang sehat saja, tapi juga cukup banyak yang penderita kanker serta mantan penderita yang turut bergabung. 

 Think Survive
Kisah sang ibu cukup membuat saya merinding, pasti tak mudah baginya untuk memasuki ruang operasi berkali-kali serta menyadari bekas jahitan yang tidak sedikit dilehernya. Namun melihatnya hadir hari ini, berbagi kisah, serta semangat lewat seutas senyum, rasanya membuat ku percaya  bahwa beliau pasti lah seorang yang kuat dan tak kenal menyerah. Semangatnya untuk sembuh nyaris menghipnotis kami, untuk kuat dengan sakit atau ujian lainnya  yang tengah mendera. Ibu.. aku akan belajar menjadi wanita yang kuat seperti ibu.
Dan diluar dari dialog yang inspiratif ini, sejujurnya saya berniat izin pamit ketika sesi yoga akan dimulai. But.. dosen tercinta (yang dulu mengenalkanku pada komunitas ini), menyarankanku untuk tinggal sedikit lebih lama untuk melihat sesi yoga. Wah.. saya merasa tidak enak hati. Beliau sudah menyiapkan matras untuk saya, dan pada hari itu saya justru tidak membawa celana buat yoga. Akhirnya saya yang tadinya cuman diam ngeliat instructor bercerita soal yoga, perlahan mulai mengikuti gerakan si ibu instructor. Ya.. dengan kondisi saya yang hanya bermodalkan rok dan jilbab besar, gerakan ku agak kaku dan terbatas mengikuti beberapa gerakan saja. Wow.. ternyata ini yah yang namanya yoga. Sebenarnya saya benar-benar takut sih ikut yoga, soalnya pernah dengar pak ustadz berkata kalo bisa jadi media kesurupan. Saya tak begitu mengikuti ceramah pak ustadz tersebut (sayangnya). Saya pun dibuat hati-hati jadinya. Pengalaman pertama ikut yoga cukup mengesankan. Apalagi buat saya yang hampir 4 bulan kemarin kerjaannya kebanyakan cuman stay depan laptop, ditemani stumpuk kertas revisi skripsi dan laporan praktikum para junior. Cukup mampu meregangkan sendi-sendi yang sungguh teramat kaku. Ffiuhhh… saya suka saya suka tapi kalo keingat kata-kata pak ustadz, saya mungkin bakalan coba buat ikut peregangan badan yang umum-umum saja hehehe
Itu adalah kegiatan pertama yang aku jalani bersama komunitas peduli kanker ini. Kegiatan berikutnya adalah kunjungan rumah sakit kepada para pasien wanita yang tengah mengidap kanker. Kunjungan ini berlangsung pada bulan Januari 2016. Siang itu cuaca Makassar amat teramat cerah. Tapi tak menghentikan langkah kecil ku menuju rumah sakit Ibnu Sina.  Aku memasuki pintu utama, dan bertemu dengan banyak orang dengan air muka yang beragam. Tentunya didominasi oleh raut wajah orang-orang yang tengah melawan pedihnya sakit yang tengah mendera. Ahh.. Ya Rabb. Betapa bersyukurnya hari ini masih bisa berjalan kesana-kemari. Mereka menyadarkanku kembali akan pentingnya 5 perkara sebelum 5 perkara. Sehat sebelum sakit. Lapang sebelum sempit. Kaya sebelum miskin. Muda sebelum tua. Hidup sebelum mati.
Mengamati lantai pertama rumah sakit nyaris bikin aku lupa dengan tujuan awalku. Aku pun menuju lantai 5 bertemanikan beberapa pasien dan dokter, didalam sebuah lift. Tak lama pintu nya terbuka dan aku menemukan bu Nita,  sang ketua komunitas ini yang tengah duduk serius sembari memegang handphone-nya yang tak pernah diam. Ketika melihat wajahnya.. sekali lagi aku dibuat terpukau olehnya. Dia adalah juga seorang pengidap kanker, yang melakoni pekerjaannya sebagai seorang dosen dan sangat aktif kesana kemari untuk mengampanyekan peduli kanker. Melihatnya saja.. seolah tak percaya kalau beliau adalah pengidap kanker. Aku menyapanya, dan kami pun mulai menyusul para relawan yang terlebih dahulu sudah berada di kamar pasien cancer.
Ada satu pasien yang cukup menarik perhatianku. Aku tak ingat lagi namanya. Beliau seorang wanita paruh baya, dan badannya berisi. Beliau tengah menjalani perawatan untuk breast cancer yang tengah dideranya. Ternyata ini bukan perawatannya yang pertama kalinya. Beliau juga sudah pernah menjalani perawatan beberapa tahun silam. Kini, dia baru saja menjalani operasi atas kanker yang menderanya. Dan saya semakin terkejut, ternyata di usianya yang tak lagi muda.. beliau belum berumah tangga. Saya semakin terhipnotis mendengar ceritanya, betapa beliau menjalani kehidupannya sendiri di sebuah kabupaten yang jauh dari Makassar. Beliau seorang yang pekerja keras dan sangat amat bertanggung jawab. Pernah dia berniat untuk resign, namun atasan beliau sangat menyukai kinerjanya.. maka niatnya pun jadi tertunda. Beliau berkata.. bahwa beliau sangatlah menikmati hidupnya yang penuh kerja keras itu. Hingga akhirnya beliau tidak menyadari bahwa dirinya telah berada dibatas “lelah”, yang masih terus dipacu untuk terus bekerja. Hingga mengabaikan, bahwa “saya lelah dan saya butuh istirahat”, “saya lelah dan saya ingin bahagia”. Singkat cerita seperti itu.. entah  mengapa aku tak mengingat cikal bakal sadarnya beliau akan gejala cancer yang menderanya, beliau pun mulai menjalani penngobatan demi pengobatan. Menjalani hidup sebagai seorang yang tak lagi sehat seutuhnya, tak membuat beliau kabur begitu saja dengan pekerjaan yang telah dinikmati dan  menemaninya selama bertahun-tahun. Beliau tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab, tetap semangat. Meskipun mungkin ia terkadang terlalu memaksakan diri, dan lupa bahagia.
Hingga hari ia Rabb menghendaki pertemuanku dengan beliau. Dengan kondisinya yang butuh banyak istirahat, yang butuh banyak perhatian, dan butuh banyak injeksi dukungan semangat. Bu Nita dan ibu-ibu lainnya pun, terus menyemangati beliau untuk tidak putus asa dari rahmat dan kuasa Allah. Terus mendoakan, memintanya untuk menjadi bahagia untuk setiap hal yang tengah dijalaninya, berani untuk “rehat kan jiwa dan raga” ketika rasa penat dan lelah menghadang, dan terus berpikiran positif. Setelah berbincang agak lama, kami pun pamit dan hatiku cukup tersentuh akan pelajaran hidup yang telah diberikan melalui hidup yang telah dijalaninya. Sekuntum senyuman penuh  keyakinan kuat, mengiringi langkah kami meninggalkan kamar beliau. Semoga beliau senantiasa dalam dekapan Allah, dalam naungan kasih sayang-Nya, selalu bahagia, dan diangkat penyakitnya. Aamiin.
Kami pun bergegas menuju pasien berikutnya. Kali ini pasien berada di rumah sakit yang berbeda, namun jaraknya tidak  begitu jauh. Rumah sakit Awal Bross, kami pun tiba di salah satu kamar pasien setelah perjalanan selama kurang dari 5 menit. Dan seorang ibu muda dengan senyuman meneduhkan tengah menyambut kedatangan kami. Namun siapa yang menyadari bahwa, dibalik senyuman ibu berinisial “M” ini.. ada penyakit yang mungkin telah merenggut senyumnya dikala malam sepi menjelang. Dia juga adalah salah satu penderita breast cancer. Besok pagi adalah jadwal operasi beliau. Ditemani sang ibu, beliau mencoba tegar menjalani takdir yang Allah gariskan padanya. Beliau tetap ceria.. beliau tetap semangat.. beliau tetap optimis dapat sembuh. . seperti tidak sedang sakit. Whoa.. wahai Rabb yang menakdirkanku menemui para orang-orang kuat ini, betapa bersyukurnya dapat menjadi bagian yang senyum dan lisannya telah menorah secercah harapan bagi mereka. Semoga dosanya diampunkan, operasinya berjalan lancar, diberi kesembuhan, dan kesehatan yang semakin mendekatkan kepada-Nya. Aamiin.
Kami pun melaju ke kamar berikutnya. Kamar 108. Dan betapa terkejutnya ketika aku melihat wajah pasien berikutnya. Dia adalah gadis yang aku temui di Cancer Woman Charity Desember lalu. Dia adalah seorang gadis kuat yang baru saja menjalani operasi akan penyakit Breast Cancer yang dideranya. Betapa tidak, dia bersama seorang adik laki-lakinya telah ditinggalkan kedua orang tuanya sejak lama. Usianya beberapa tahun lebih tua dibandingkan aku. Dia menjalani operasinya yang lalu pun sendirian. Beruntung sang paman sudah dapat menemaninya saat ini. Whoa.. so strong. Aku saja.. ketika divonis dan diminta operasi empat tahun lalu oleh seorang dokter bedah, sungguh tidak berani. Pada akhirnya memutuskan untuk memulai hidup sehat saja.. dan tidak kembali lagi ke pak dokter bedah. V_v saya benar-benar belum punya keberanian. Adapun sang kakak ini.. sama sekali tak punya keraguan untuk memutuskan dibedah diruang operasi. Kondisinya hari ini tidak seperti orang sakit. Dan lagi-lagi… Senyum merekah itu menghiasi kamar rumah sakit siang itu.
Sesaat aku merenung.  Terharu dan tersentuh dengan perjuangan mereka untuk sembuh. Ini baru empat cerita loh, gimana jadinya kalo ada 50 cerita?  I absolutely will be more surprised :’’) Pertemuan hari ini begitu bermakna, dan membuatku bercermin dengan kondisiku saat ini. Aku juga punya sakit, meskipun tidak separah mereka. Aku juga punya masalah, meskipun tidak sekompleks mereka. Aku punya cerita sedih,begitupun mereka.. tapi mereka tak pernah mengeluh. Rasanya diri ini malu sekali. Cobaan setiap orang memang berbeda-beda. Sesuai dengan kadar kesanggupannya. 


Namun diri ini tetap begitu terpacu menjadi wanita yang lebih kuat lagi, atas segala persoalan yang tengah datang menghadang. Membuatku ingin selalu bersyukur. Betapa nikmat sehat, menjadi begitu teramat berharga oleh orang-orang yang terbaring di rumah sakit. Betapa nikmat waktu lapang menjadi begitu disesali, ketika tak mampu dipergunakan untuk mengisinya banyak kebaikan. Nikmat sehat dan waktu lapang. Ya. Setiap pribadi menjadi sangat merugi jika  keduanya tak mampu dimaksimalkan untuk mengumpulkan banyak pundi-pundi kebaikan. Terima kasih Allah… terima kasih para sahabat.. membuat batinku tersadar, untuk lebih menghargai nikmat yang Allah berikan secara gratis tanpa syarat. Serta membuatku memompa semangat untuk bangkit dari keterpurukan, karena ternyata.. banyak orang diluar sana yang memilih untuk bangkit, ketika kesedihan telah nyaris membuatnya meratapi takdir. Memilih optimis, ketika harapan hanya 1% saja. Mencoba kembali tersenyum, untuk semua  kesedihan yang telah merebut bahagianya. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..
4 Februari lalu, komunitas ini mengadakan lagi kunjungan di rumah sakit Wahidin Sudirohusodo. Sekaligus memperingati World Cancer Day. Pukul 07.30 a.m, para relawan berjejer di depan pintu masuk rumah sakit sambil memegang kertas yang lumayan besar yang isinya kurang lebih kayak gini, “Cancer, Think Survive.. We Can, I Can”.  Kami pun disambut pandangan penuh tanya, dari setiap orang yang akan memasuki rumah sakit ini. Bukan hanya pasien, calon pasien, dokter coass, bahkan dokter beneran pun awalnya kebingungan melihat segerombolan orang berseragam putih berjejer menyambut mereka. Hingga akhirnya ketika langkah mereka semakin dekat, kebingungan mereka pun sirna dari penjelasan kami serta selebaran pamphlet yang kami bagikan. Mereka pun tersenyum, apalagi bagi para calon pasien.. rasanya kami telah berhasil menyuntikkan vitamin bahagia untuk mengawali harinya pagi ini :’’D  dituntun oleh dokter Umi Mangesti, kami diajak berkeliling rumah sakit untuk menebar semangat dan brosur “Cancer, Think Survive.. We Can, I Can” kepada setiap pasien.
Selanjutnya kami berada didepan poli bedah, kami berdiri di depan puluhan pasien yang tengah menunggu giliran untuk diperiksa. Dihadapan mereka, kami mencoba memberi semangat.. memberi harapan.. menyorakkan yel yel “Kita Bisa, Saya Bisa”,  dan juga membagikan pamphlet. Selanjutnya kami bergegas  menuju kamar pasien kanker, dan perjalanan kami berakhir di PCC (Private Care Center) R.S Wahidin Sudirohusodo.
Kegiatanku bersama para wanita-wanita hebat ini sungguh aku syukuri. Bukan hanya semangat kepedulian yang mereka tularkan, namun juga semangat untuk menjalani hidup dengan penuh kesyukuran, kesabaran, dan senyuman bahagia. Ayo bangkit dari setiap keterpurukan, karena kamu tidak berjuang sendirian. 



Allah selalu bersama kita, dan banyak wanita diluar sana yang juga berjuang dengan kisah hidupnya yang mungkin jauh lebih rumit. Biarlah ada orang yang mengeluh dan meratapi kisahnya, tapi kamu,kita...Jangan. Ayo Bangkit dan teriakkan “We Can, I Can”.

Dan 25 Februari yang lalu.. betapa rasa sedih menyeruak dari dalam dada. Ibu “M” yang Januari lalu kami kunjungi di rumah sakit Awal Bross, telah berpulang kepada Allah. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Masih ku ingat senyuman ramah ibu.. yang menyapa kedatangan kami ketika tiba di kamar rawat inapnya. Semoga amal ibadah ibu diterima disisi Allah. Semoga kesabarannya menghadapi ujian atas penyakitnya, dapat meninggikan derajatnya disisi Allah. Aamiin.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagiku, dan juga bagimu pembaca yang baik hatinya. Semoga kita selalu menjaga kesehatan, mensyukuri dan ridho dengan segala takdir yang Allah gariskan, mengurangi mengeluh dan senantiasa berprasangka baik kepada-Nya, serta senantiasa mengingat kematian. Bahwa.. kematian bisa datang kapan saja. Menyerang manusia dengan tidak memandang usia, tanpa bisa ditunda.  Semoga kita senantiasa dekat kepada-Nya, senantiasa termasuk golongan orang-orang yang mampu naik kelas dari ujian yang tengah mendera, senantiasa tidak disilaukan oleh dunia dan bersemangat untuk mengumpukan pundi-pundi kebaikan untuk kehidupan di keabadian kelak, akhirat.. aamiin :’) tetap semangat kawan. Saling menasehati ya :’)
 sourch of pic


#ODOP_project


8 komentar:

  1. keren mbk ceritanya...apalagi ada sedikit ayat-ayat Al-Qur'an buat terus mengingat Tuhan.

    BalasHapus
  2. Subhanallah..
    Terimakasih uda mengingatkan kami,terutama saya pribadi untuk selalu mensyukuri nikmat sehat..

    BalasHapus
  3. keren, saya merinding ... mengingatkan saya yang masih ndablek (mokong, malas, nakal) beribadah

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas heru nggak sendirian kok.. yuk.. sama-sama berjuang untuk istiqamah dlm kebaikan.. yeay!

      Hapus
  4. Aku tersentuh mbak. Sungguh beruntung kita sehat sblm saket. Mksh atas tulisnnya y mbk👍

    BalasHapus
  5. Masyaallah, subhanallah.. nikmat mna lagi yg engkau dustakan??

    BalasHapus