Selasa, 22 Maret 2016

Aduhai.. Indahnya Dunia...

Hal yang paling menenangkan bagi seorang muslim adalah menyertakan Allah dalam setiap langkahnya. Sehingga ketika ia mendapati dirinya terjatuh, ia tidak akan terpuruk begitu lama. Ketika ia mendapati dirinya bahagia, lantas ia tak akan berlebihan menyikapinya. Dunia ini menawarkan begitu banyak persoalan, serta godaan yang begitu mempesona. Syaithan pun menjadikan dunia menjadi begitu indah dalam pandangan manusia, tingkatan yang mungkin paling berbahaya adalah.. ketika anak cucu adam telah menjadikan dunia sebagai tujuan, padahal ada akhirat kelak yang menjadi keabadian.
Beberapa kejadian yang dapat mewakili misalnya kala adzan berkumandang, mendahulukan mengerjakan laporan  dan mengakhirkan waktu shalat; Ketika raga ini begitu tersibukkan dengan pelbagai aktivitas duniawi, bahkan membaca setengah halaman alqur’an pun tak sempat lagi; mengestimasi beberapa rencana hidup untuk beberapa tahun kedepan dengan penuh antusias, sementara untuk persiapan untuk kehidupan akhirat antusiasnya Beda. Memposisikan dunia dalam hati, juga senantiasa menjadi pelajaran berharga pribadi bagi saya. Sebab, kita tidak boleh terlalu condong kepada akhirat dan kita juga tidak boleh terlalu condong kepada dunia. Hal yang terbaik adalah mampu bersikap pertengahan. Jadi ingat materi Zuhud :’) ya.. saya pun masih belajar kawan. Sering terjatuh, dan beruntung cahaya-Nya masih tersisa dihati.. sehingga aku pun berusaha untuk kembali kepada-Nya, meski harus tertatih-tatih:’)


Negeri akhirat adalah negeri keabadian. Begitu kata kakak, yang sore tadi membawakan tausiyah di surau fakultasku. Aku seperti diingatkan kembali bahwa hidup di dunia ini dapat dianalogikan seperti saat kita berteduh dibawah pohon, dan nantinya kita akan melanjutkan perjalanan. Aku pun pernah mendengar tausiyah serupa, sang ustadzah kala itu mengatakan bahwa.. hidup di dunia itu bagaikan seperti seorang musafir yang sedang beristirahat sejenak.
Jika direnungi kembali, yang mereka katakan memang benar ya kawan. Dunia abad 21 hari ini benar-benar sangat memukau dari berbagai segi. Teknologinya pun canggih, Makananpun beraneka ragam jenisnya, rumah pun beragam variasinya, begitu seterusnya.. membuat beberapa pribadi terkadang terfokus untuk menekuni atau turut serta meminati hal tersebut, tanpa sadar bahwa dunia nyaris melalaikan.. atau mencuri waktunya yang berharga, dengan menukarnya dengan kesenangan atau kepuasan sesaat. Salah satu contohnya adalah ber-gadget ria. Dimanapun, kapanpun, pasti gak jarang kita menemui pribadi yang tidak ber-gadget ria dengan seriusnya ^_^ well..  menurut aku sih itu gak salah. Sapa tau pas kita ngeliat dia, itu kali pertama-nya dia menyisihkan waktu untuk berselancar di socmed-nya. Atau bisa jadi juga dia lagi fokus chat sama dosen, lagi fokus ngerjain tugas, dan beragam hal penting lainnya. Tentu saja itu gak salah dan kita gak bisa langsung kasi negative judge. Hal yang keliru dari fenomena tersebut adalah.. menghabiskan waktu tanpa porsi yang jelas, hanya untuk memandangi timeline socmed atau memantau profile seseorang. Menurut aku sih ga papa, yang penting kita bisa atur waktu. Kan ga lucu kalau socmednya makan waktu 4 jam, trus waktu buat ngaji nya gak ada : ) Pasti malu banget kan sama yang Maha Melihat ? :”) Yap. Khofiyaa pernah kok ngerasain itu. Dan saat itu saya pun menyadari bahwa yang berlebihan itu ga baik. Tetiba pergelangan tangan jadi nyeri, pikiran jadi menerawang “wah nyeselnya tadi terlalu lama main socmed.. 2 jam itu kan bisa aku pake buat ngerjain ini itu.. >,<” . Contoh lainnya adalah makan berlebihan yang bikin kita gak konsen belajar gegara ngantuk. Tertawa berlebihan, yang terkadang bikin kita jadi lupa hafalan. Dan jadilah si Syaithan tertawa kegirangan, karena berhasil mengelabui pikiran kita dengan ksenangan semata.. dan jadi rugi pula lah pribadi yang waktunya sebagian besar habis untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat untuknya. Sedih. Jadi ingat petikan surat Al-Ashr dalam Qur’anul Kareem, yang jadi lagu hitsnya grup nasyid Raihan berjudul “Demi Masa”.
Beberapa contoh-contoh kejadian tersebut mungkin pernah kalian alami. Terutama mereka yang mungkin masih berkutat dengan aktivitas perkuliahan. Disini khofiyaa pengen share, bahwa hal tersebut sebenarnya bisa kita kendalikan dengan belajar memprioritaskan segala aktivitas kita. Pasti  selalu ada waktu, buat apa yang kamu prioritaskan. Well.. itu satu kalimat penggugah semangat yang entah aku lupa ngutip dari siapa (forgive me). Mungkin awal-awalnya gak bakalan langsung berubah jadi sosok yang sangat konsisten dengan waktu, namun setidaknya kita mampu belajar meminimalisir hilangnya kegiatan yang manfaatnya kurang buat kita. Selain itu.. bikin skala prioritas juga bakal membuat pribadi yang peka dengan perbaikan untuk mulai merenung, sebenarnya kegiatan ini bikin aku dekat nggak sama Allah? Allah ridho nggak sama kegiatan ini? Dari semua kegiatan ini .. ada tidak yang bernilai ibadah, yang bisa mencuri perhatian Allah?  Segalanya diawal mungkin terasa sulit, namun mari bersama-sama menjadi lebih baik setiap harinya. Allah juga nggak menuntut kita langsung berbuat besar untuk mencuri perhatiannya, dalam sebuah pemaparan hadist.. aku pernah dengar bahwa Allah menyukai amalan yang sedikit namun continu.
Berikut petikan hadist tersebut yang dilansir dari muslim.or.id
 Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [5]
Sahabatku yang kucintai karena Allah, aku.. kamu.. mungkin orang-orang yang Allah takdirkan dengan seabrek kegiatan. Semoga kegiatan tersebut senantiasa diniatkan karena ibadah, senantiasa bikin kita ingat sama Allah, bikin pahala kita nambah, bikin kita jadi lebih baik tanpa bikin kita melalaikan beberapa kewajiban dan sunnah-sunnah yang dimuliakan :’) Insya Allah degan melibatkan Allah disetiap tarikan nafas, kita nggak akan pernah merasa gundah gulana :’))
Karena jika dibandingkan dengan akhirat, dunia ini betul-betul gak ada harganya. Semoga kelak diakhirat kita termasuk mereka yang datang dengan amalan kebaikan yang banyak, aamiin :’) karena neraka benar-benar begitu menakutkan, sekalipun hanya membayangkan contoh kecilnya saja seperti.. ketika jari tangan tersentuh panci yang berisi air mendidih. Semoga cahaya Allah senantiasa menaungi kita, semoga senantiasa istiqamah .. kamu nggak sendiriian kok, ada aku yang juga belajar menjadi lebih baik, jangan segan mengingatkan yaa. Tetap semangat  ^^




[5] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.


#ODOPBatch2
#Harike17_week4

3 komentar:

  1. Dan kita berlalu untuk menggapai kebahagiaan yang tak semu, jangan tertipu,. Karena dunia hanyalah persinggahan, bukan untuk abadi..
    Like mba..siip

    BalasHapus
  2. Seketika dibuat #Merenung... Tentang hakikat manusia diciptakan:')ternyata begitu banyak urusan dunia yh membuat kita lalai T_T

    BalasHapus