Jumat, 18 Maret 2016

Cibiran, Pujian, Berpaling dari Topeng Kelam


Kemana perginya jiwa yang lapang
Yang mudah memaafkan, mudah melupakan
Yang tak mudah terbawa arus sadisnya perkataan orang
Berceloteh penuh antusias, baik didepan apalagi dibelakang
Mencoba apatis meski pikiran kadang menerawang
Mencoba mengalihkan, dengan rangkaian anekdot  hingga puisi usang
Sungguh rugi akal dan masa
Memikirkan air muka dan hasil ceriwis mereka
Tiada membawa guna, masa habis dilahap gundah gulana
Tak perlu mencoba berlakon setengah mati menyenangkan hatinya
Cukup jadi pribadi apa adanya
Tak mudah goyah, meski sepoi-sepoi cibiran senantiasa mengudara
Meski menusuk hati, melukai raga
Apalah arti sempurna kala topeng dijadikan perisai
Apalah arti senyuman handai taulan, kala jiwa terbebani
Mengemis puji , menanti simpati
Setiap hari, tiada henti
Tolong hentikan wajah sayu sempurna, tanpa dosa
Jalani indahnya hari, sebebas-bebasnya tanpa takut lecet yang menjadi tertawaan mereka
Menerima kekurangan, Memaksimalkan  segenap karunia-Nya
Sebab ketulusan hati akan terpancar memukau banyak jiwa
Usah memaksa diri menjadi  sempurnanya wanita
Ketulusan mereka yang mencinta takkan sirna, meski melihat cacatmu kapan saja
Dan cemoohan takkan usai, meski kau coba pahamkan dengan jutaan kata
Rajut cita berbenah senantiasa, tanpa sang mulut berbisa yang jadi alasan utama
Sebab kekurangan berjalan beriringan, bersanding dengan kelebihan
Usah peduli, usah kau pikirkan
Jalani harimu bebas, tanpa beban,
tanpa terhasut dengan tumpukan cemoohan mereka yang kau sebut kawan

#ODOPBatch2
#Harike15_Week3



6 komentar:

  1. Mantab ...
    Bagus bgt kata-katanya

    BalasHapus
  2. wahh,, Kerenn mbak^^

    Intinya anjing menggonggong kafilah berlalu yaa mbak, hehe

    BalasHapus
  3. Ocehan orang anggap saja sebagai bumbu kehidupan

    BalasHapus
  4. Ocehan orang anggap saja sebagai bumbu kehidupan

    BalasHapus