Kamis, 03 Maret 2016

Hatiku Tak Pernah Ku Kunci, Ummi...


January 2016.
Ketika kamu beranjak dewasa, kamu akan akrab dengan sejuta topik yang tak pernah bosan dibicarakan oleh siapapun saat itu. Ya! Apalagi kalau bukan “cinta”. Dulu.. sebelum aku mengenal lebih jauh Sang Maha Cinta, aku pernah melabuhkan cinta pada waktu yang tidak tepat. Lambat laun aku baru menyadari bahwa.. ini bukan waktu yang tepat. Aku mengakhirinya begitu saja dengan seseorang yang baik hatinya huhu.. I knew he gotta be upset in the past:’) Dan saat mengawali perjalanan cinta untuk lebih mengenal-Nya melalui tarbiyah, aku bersyukur.. bahwa keputusan saat itu sungguh sangat tepat.
Saat ini aku berbeda dengan diriku yang dulu. Pada aspek penampilan saja, sudah sangat berubah 360 derajat dari diriku ketika zaman SD dan SMP dulu. Bukan wanita yang rambutnya bebas dikibaskan pada siapapun, tapi muslimah yang melindunginya untuk orang yang berhak untuk itu. Bukan lagi sosok yang akrab bahkan rela berbaur lama-lama dengan kaum adam. Bukan lagi sosok yang mengoleksi beragam celana jeans. :’)
Semua perubahan ini.. tidak terjadi begitu saja. Tapi upaya untuk menjemput hidayah, atas kehendak-Nya. Dan sungguh hadiah tak terkira kala diri ini mampu meraih taufikNya. Namun ukhti.. ketahuilah bahwa cobaan terbesar setelah hijrah cinta-mu dimulai adalah… Istiqamah. Aku yakin.. setiap mereka yang mencoba untuk memutar haluan hidupnya untuk menjadi lebih baik, pasti akan senantiasa dihampiri godaan untuk kembali ke lubang kegelapan nya yang kelam. Namun begitulah sejatinya kebaikan.. dan begitulah sejatinya orang beriman. Ujian dari-Nya yang akan membuktikan seberapa besar cinta dan ketaqwaan kita kepada-Nya.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”(QS: Al’ ‘Ankabut [29]: 2)
Salah satu hal yang kerap kali menggoda iman para muslimah yang memasuki usia dewasanya adalah, “perasaan yang disalahartikan”. Kebanyakan ibu-ibu disekitarku berkata bahwa, wanita itu.. gampang sekali terbawa perasaan. Digombal.. dirayu.. dipuji sedikit saja sama lelaki, pasti sudah kepikiran.. terbayang-bayang ini dan itu.. padahal bukan tidak mungkin kalo lelaki itu cuman basa-basi, iseng, atau sekedar menyapa. Emang betul begitu ukhti..? hehehe.. Realita disekelilingku menunjukkan bahwa itu benar adanya, bahkan diri ini pun nyaris kena penyakit ini.. Tapi Alhamdulillah selamat juga.
Kemauan untuk jatuh cinta disaat yang tepat dengan orang yang tepat, tentu menjadi impian setiap muslimah yang senantiasa memperbaiki dirinya. Jatuh cinta dengan dia, yang mampu menjadi imam bagi diri kita dan anak-anak kelak.. bukan hanya didunia tapi hingga diakhirat. Jatuh cinta dengan dia, pribadi yang juga senantiasa taat dan memperbaiki dirinya. Jatuh cinta dengan dia, karena dia pun sangat mencintai-Nya. Ya. Cinta yang halal. Insyaa Allah ya ukhti hehe
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. 51: 49)
Maka demi cita-cita yang indah itu, tak sedikit muslimah yang memilih untuk menjaga hatinya. Menjaga dalam penantian  hingga kata “halal” sudah sah dimata agama dan negara. Memilih untuk menundukkan nafsunya yang banyak dilabuhkan oleh sebagian orang dengan istilah “pacaran”. Namun terkadang keistiqamahan ini sering disalahartikan oleh kerabat terdekat bahkan keluarga sekalipun. Muslimah yang menjaga hati tentu tidak sembarangan berjabat tangan, chatting, atau berduaan dengan lelaki yang asing baginya (bukan mahromnya). Namun hal ini.. bagi orang awwam justru dianggap “membatasi pergaulan” alias “mengisolasikan diri”. Padahal tidak loh, kita tetap berteman dengan banyak orang , tapi dalam koridor yang telah ditetapkan oleh Allah dan telah diajarkan oleh Rasulullah. Dan tentunya.. semua itu dilakukan dalam rangka menjaga diri dari “penyakit yang disalahartikan” alias baper. Saat kita baper.. disitulah syaithan dan pasukannya siap membuat kita yang tadinya cuman baper, malah kronis menjadi galau. Waduh… Karena aturan ini berasal dari Allah, maka bukankah sudah pasti dibuat demi kebaikan kita sebagai muslimah? : )  
Percaya deh sama Allah.. ^^
But..bagaimana dengan anggapan “mengisolasikan diri”? bahkan ketika anggapan itu sampai pada kalimat, “jangan kunci hatimu”. Huft.. jika di renungkan kembali.. sebenarnya diri ini tidak pernah mengunci hati.. kadang rasa itu muncul pada sosok yang dalam kaca mata kita adalah sosok yang menawan. Tapi.. karena rasa cinta dan takut kita yang segitu besarnya kepada Allah, maka kita memilih untuk menjinakkan perasaan agar tak melebar kemana-mana.
Lantas bagaimana kalo yang ngomong “jangan kunci hatimu” adalah ibu kita sendiri? Sebenarnya diri ini tidak pernah mengunci hati… tapi mencoba untuk istiqamah meski mungkin harus jatuh bangun kala menemui cinta yang waktunya tidak tepat. Ini lebih tepatnya bukan mengunci hati, tapi menjaga hati. Ya. Menjaga untuk dia.. Senantiasa terbuka untuk dia.. yang mencoba berani  untuk datangi wali, dia.. yang kelak menjadi kekasih halal kita (Aamiin). Tentu kita juga nggak mau kan.. berpasangan kelak dengan lelaki yang sering main perasan? :’)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….” (QS: An-Nuur [24]: 26)
Ibu…
Ibu berkata begitu.. mungkin.. beliau belum memahami apa yang sedang kita istiqamahkan, apa yang sedang kita perjuangkan, dan alasan mengapa kita memperjuangkannya :’) Mungkin diluar sana.. dalam kaca mata ibu, toh ada juga wanita berjilbab yang pacaran..  toh ada juga wanita berjilbab yang gaul sana sini dengan banyak kaum lelaki.. dengan dalih yang dilontarkannya, “kami hanya teman biasa” atau “saya bisa menjaga hati”. Namun.. siapakah yang bisa menjamin hati dapat terjaga, jika pandangan saja sulit untuk dijaga? Bukankah mata jendela pertama yang bisa bikin perasaan galau merana untuk sesuatu yang ingin dimiliki.. tapi belum bisa dimiliki…? Ada.. ada wanita yang memilih demikian, tapi kita jangan.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”    (Al-Israa’ [17]: 32)
Dan.. inilah tugas kita untuk memberi pengertian kepada ibu tercinta.. tentu dengan cara yang bijak, tidak terkesan menggurui, dan diwaktu yang tepat. Dan satu hal yang tak boleh terlupa adalah.. senantiasa memohon kepada Allah untuk dimudahkan lisan ini untuk berbicara.. agar diistiqamahkan menjadi anak sholihah.. agar hati ibu dapat luluh.. :’)
Semoga kita tidak patah semangat.. semoga Allah kelak mempertemukan dengan kekasih terbaik yang dipilihkan oleh-Nya. Entah bagaimana alurnya.. dan kapan waktunya. Tak ada yang dapat menebaknya. Tugas kita hanya berusaha menjalankan perintahNya, menyebar kebaikan yang lebih dulu menyentuh hati-hati kita kepada mereka saudara seiman yang kita sayangi. Ya.. mereka yang mungkin masih belum memahami. Tentu dengan cara terbaik.. lemah lembut, dan penuh kasih sayang :’)
Ibu…
Aku tahu karena ku ingin istiqamah.. engkau jadi cemas jadinya
Aku tau karena putri kecilmu.. khawatirmu semakin menggelora
Ibu bilang
“Aku tertutup..
Aku tak punya teman lelaki dekat..
Aku tak punya daya tarik..
Sebab hatiku ku kunci erat”
Tapi sungguh ibu.. tidak demikian
Hijabku yang labuh bukan untuk membuatnya menghindar
Jemariku yang tak mampu menjabat bukan untuk membuatnya lari
dengan kedongkolannya
Tapi ibu..
Aku yakin akan janji Tuhan yang Maha Mencinta
Yang menyiapkan pasangan terhebat untuk wanita yang menjaga hati dan matanya
Yang memilih sendiri kala mampu untuk bergandengan
Yang memilih bersabar tuk menahan kala senyuman lebar mampu untuk disunggingkan
Yang memilih menundukkan mata kala mampu untuk menatap lama
Ibu..
Jangan salahkan pilihanku
Jangan letih doakan anakmu
Jangan khawatir akan ketetapan Rabbku
Ibu..
Sungguh jangan berkata begitu..
Sungguh kekhawatiranmu juga jadi cemasku
ketetapanNya begitu indah..
izinkan aku menunggu sosok yang indah
sembari memantaskan diri untuk dia yang diridhoi-Nya
yang menghampiri tanpa butuh alur yang lama
Ibu.. aku mencintaiMu seperti malam yang membutuhkan  rembulan
Namun ibu.. malam tak akan berjumpa dengan rembulan
Jika Sang Pemilik langit tidak berkehendak demikian
Maka Izinkan aku..
Kini melabuhkan cinta terbesarku untuk Ilahi
Agar kelak ku berjumpa dengan sosok yang juga mencintai Ilahi
Diwaktu yang Dia ridhoi


 #ODOP
#4thdays

3 komentar:

  1. Semngat terus istiqamahx mbak...
    Awas jangan baper ya... He...

    Salam Odop
    ***
    Abdur-rahiem.blogspot.com

    BalasHapus
  2. hahaha.. iya lah mas ^^ semangattt buat terus istiqamah.. smangat juga buat ODOP y yeah !
    salam kenal

    BalasHapus
  3. Perasaan saya gimana-gimana bacanya. :')

    Saya sering mendengar pernyataan bahwa persahabatan tanpa rasa kepada lawan jenis itu mustahil.

    Jadi, sebelum terjebak, memang baiknya menjaga diri.

    Salam istiqomah!^^

    BalasHapus