Sabtu, 12 Maret 2016

Senyum Pahit, dibalik Laporan Penuh Revisi

Flown to November 2015
Ini bukan pertama kali.. kupandangi senyuman kecut  yang tak ku tahu kapan surutnya
Senyuman yang dibumbui kerlingan mata berbinar, meski ku tahu ada lelah yang menyelinap dibaliknya
Setumpuk laporan praktikum menghadangku diawal pekan, dan masih menghadangku diakhir pekan
Bukan.. ini bukan pertama kalinya aku berkutat dengan setumpuk laporan praktikum
Tahun laluku pun masih sama.. masih berkutat menyelami kembali beberapa materi kuliah yang sempat terlupa, bertanya sana sini kepada dosen.. demi memberi solusi akan setumpuk persoalan yang tak mampu aku pecahkan.


Dahulu aku pernah berada diposisi “orang” yang menjalani praktikum dan mengerjakan laporan praktikum
Kini.. waktu menggiringku menjadi salah satu orang yang terlibat dalam menyusun agenda praktikum dan “memeriksa laporan praktikum”
Melalui lisan seorang dosen-teman-senior, diriku hanyalah pribadi yang Tuhan takdirkan untuk ditempa lebih kuat lagi melalui sebuah praktikum
Meng-handle sebuah praktikum bukan hal yang mudah.. belum lagi jika peserta praktikum susah diatur. Ada juga tipikal praktikan yang boro-boro mau revisi, kerja laporan pun susahnya setengah mati. Hmm.. mesti sEtrong everytime hehe...
Kami diberi amanah untuk melakukan yang terbaik selama bulan praktikum berlangsung
Termasuk.. menangani laporan praktikum setiap praktikan.
Laporan praktikum praktikan sangat diharapkan dapat direvisi sesering mungkin, meski terkadang kadar ke”rajin”an setiap junior tak bisa disamakan.. dan waktu luang si pemeriksa laporan (red: asisten lab) tak bisa diprediksi.

 S.pic

Revisi.. revisi.. revisii..
AKu yakin.. Beberapa praktikan pasti muak dengan revisi yang tak henti-hentinya mencapai kata “FIXED!” atau “ACC-“ . Tak mencapai kedua kata tersebut, itu artinya masih ada kesalahan yang harus diperbaiki dalam laporan tersebut. Sering kudapati.. keluhan karena laporan tak kunjung bebas dari kata revisi; mendapati senyum kecut mereka; mendapati mereka berkorban waktu menunggu para asisten lab selesai berkutat dari kegiatannya.. demi menanti laporan yang telah direvisi, meski boleh jadi.. laporan tersebut belum disentuh sama sekali oleh asisten lab. Sejujurnya aku benci dengan orang yang mengeluh. hmmm
Seolah… tak ada  lagi cahaya positif dalam hatinya.. seolah kegelapan menghadang mereka tiba-tiba, dan menghitamkan pintu hati dan pikirannya dari sebuah mindset ajaib  yakni, “keep positif thinking”
Jika kalian adalah seorang praktikan ,maka selamat berjuang.
Mereka yang kau pandangi saat ini sebagai asisten lab, dulunya pernah berjuang seperti yang kau lakukan hari ini bahkan mungkin lebih keras dari perjuangan yang kau keluhkan hari ini.
Semangat memang harus selalu dikobarkan..
Karena boleh jadi, ada praktikan tertentu yang memilih untuk menyerah di tengah jalan.. atau mungkin menyerah dengan manisnya godaan menunda-nunda.. manisnya kata “malas”, dan copy paste laporan teman menjadi pelarian.
SO BAD!
Mengerjakan laporan praktikum bukan hanya menuntut kamu untuk memahami teori yang mendasari hasil praktikum yang telah diperoleh, bukan pula sekedar menuntutmu berlelah-lelah didepan laptop mencari alasan dari hasil praktikum yang menyimpang dari teori yang ada
Mengerjakan laporan praktikum, secara tidak langsung melatih ..
#1 Kejujuran
Mengerjakan kebaikan tidaklah sama dengan melakukan hal buruk... Pasti ada saja ujiannya. Maka beruntunglah kepada mereka yang tangguh. Meski terbersit ingin untuk menyerah, tapi mereka memilih untuk bersabar. Meski terbersit ingin untuk menyontek, tapi mereka memilih untuk percaya diri.. Mereka yakin kalo Tuhan tak pernah lalai atas satu dosa kecilpun, termasuk menyontek. So.. kalo sejak dini kita sudah belajar jujur sama diri sendiri, gimana kalo sudah jadi orang besar kelak? : )
#2 Kerja keras
Terkadang beberapa dari kita sempat berpikir. Mengapa revisi laporan si A rasanya seperti tiada beban, masih sering nongol di TL bbm dan ig. Beda bangeeett sama posisiku yang dari hari ke hari rasanya mata tak pernah berpaling dari Microsoft word. Hey stop it! Itu adalah tanda jenuh. It’s mean you need a break. Tapi jangan kelamaan, itu akan bikin kamu lalai. Break sejenak dibutuhkan buat memacu semangat kamu untuk bekerja lebih keras menghadapi revisi yang tak kunjung usai. Jangan biarkan takdir orang lain membuatmu rapuh. Bukankah kamu patut bersyukur..? itu artinya Tuhan memberi kesempatan bagimu untuk membaca lebih banyak lagi. Bekerja keraslah maka hasil yang akan kau tuai tak akan mengecewakan.
#3 Pantang menyerah
Kerapkali sudah mengunjungi dan membaca beberapa artikel baik lokal hingga internasional. Tapi artikel yang tepat untuk menegaskan alasanku, kok belum dapat2 yah? Jika kamu sedang merasakan ini.. maka aku bilang teruslah membaca dan jangan menyerah. Saat ini mungkin sudah ada 20 artikel terkait yang sudah kau tamatkan. Tapi.. boleh jadi jawaban yang kamu tunggu ada di artikel ke 21 kan ? Wah.. kalo kamu menyerah di artikel ke-20, sungguh sayang. Maka jangan putus asa. Terus pupuk semangatmu, hingga nanti. Kebiasaan yang baik tentu akan terbawa hingga kita dewasa.
#4 Kuat meng-analisis masalah
Jika kamu orang yang sering kena revisi berulang kali, maka jangan sedih. Hal ini akan melatih otak kamu untuk kuat menganalisa suatu permasalahan, biar tak mudah tumpul. Siapapun secara manusiawi tak suka revisi yang berkepanjangan. Tapi jika itu terjadi, teruslah berbaik sangka kepada-Nya. Bukankah ini bagian dari skenario-Nya? kita hanya butuh memainkan peran dengan maksimal. Pertama-tama sebelum memulai pencarian diberbagai artikel, kita terlebih dahulu harus memahami akar persoalan dari hasil praktikum. Misalnya mengapa asam lemak bebas minyak curah lebih tinggi dibanding minyak komersil..?  jangan sampai kita hanya menyalin kalimat tersebut ke kotak pencarian search engine. Nah… untuk lebih memantapkan pengetahuan, kita wajib memahami apa itu asam lemak bebas, mekanisme terbentuknya, proses pembuatan minyak curah dan minyak sawit, serta metode pengujiannya. Berdasarkan hal tersebut, kita nantinya akan mudah menyimpulkan penyebab dari tingginya asam lemak bebas pada minyak curah (analogy). Jika sejak dini kita terbiasa untuk menganalisa suatu permasalahan, maka nanti saat SKRIPSI sudah didepan mata, tak perlu kaget dan galau gegara belum menemukan jawaban atas masalah dari tabel hasil yang diperoleh. Tentu karena faktor terbiasa, dengan sendirinya kita akan mulai berkonsentrasi memahami akar persoalan dari hal yang terkecil hingga hal kompleks yang diduga berkontribusi terhadap hasil data penelitian yang kita peroleh.
#5 Senantiasa keep in touch dengan Allah
Manusia memang harus bekerja keras, harus semangat, dan harus bersungguh-sungguh untuk mengubah takdirnya (yang tadi tak paham lalu mencari tahu (belajar-membaca)). Namun apalah arti semua itu jika tak memohon kekuatan dan kemudahan kepada-Nya? Allah adalah sumber kekuatan.. maka mintalah kepada yang Maha Kuat. Allah adalah pemilik hati.. maka mintalah agar hati asisten lab dilapangkan untuk melancarkan revisi #eh. Jangan sampai revisi laporan membuat shalat kita terlalalaikan.. jadwal mengaji pun ditinggalkan. Bukankah dengan adanya setumpuk laporan, kita justru semakin dekat kepada-Nya? Maka disinilah kerap kali sebagian orang merasa galau… merasa kosong. Jawabannya satu.. dunia menyesakkan dadanya, jauh dari Tuhan-Nya. Maka sesibuk apapun tetaplah mencari cara untuk selalu dekat kepada-Nya. Kebiasaan ini tentu bakal menempa kita untuk menjadi muslim anti galau
#6 Atur waktu
Aku pernah menerima materi pengkaderan tentang tipikal mahasiswa.. Ada yang hedon, ada yang akademisi, dan ada yang aktivis. Kamu ada di tipe mana? Hehehe.. kalo aku .. aku malah berharap bisa punya ketiganya ^_^ tapi mesti ditambah tuh.. ada yang agamis ^_^

 Sc.pict
Tak dipungkiri bahwa setiap orang itu berbeda. Ada yang memang rutinitasnya hanya kampus dan kos. Ada juga yang kesibukan organisasi tanpa sadar membuat perkuliahannya jadi di-ANAK TIRI-kan, tapi ada juga yang sukses mengelola semuanya. Tentu ini yang jadi idaman setiap orang. Hingga detik ini pun.. aku masih jadi orang yang belajar mengatur waktu. Bukan hal yang mudah kecuali mau mencoba. Organisasi memang penting guys, sangattt pentingg malah. Tapi jangan lupakan tanggung jawab kepada orang tua yakni.. kuliah. Mau mengembangkan diri? Boleh silahkan.. tapi jangan biarkan kuliah dan laporan praktikum jadi terbengkalai… pasti bisa membayangkan, bagaimana wajah kedua orang tua kan kalo tahu kita gak total sama tanggung jawab yang mereka berikan? Maka teruslah mencoba.. dan jangan menyerah.. kita mahasiswa maka kita belajar segalanya. Termasuk belajar mengatur dan menaklukkan waktu. Kita pasti bisa!
#7 Kesabaran
Sabar memang satu hal yang mutlak dilakukan setiap orang. Hehe.. well saya gak mau bicara banyak soal sabar, biar ungkapan “ngomong-emang-gampang” gak sampai terucapkan dari lubuk hati kalian. Buat yang sedang jenuh dengan revisi laporan.. buat kalian yang kacauu menghadapi waktu 24 jam yang terasa begitu singkat, tetaplah bersabar dalam kebaikan yang tengah kalian perjuangkan. Kamu punya Allah.. innallaha ma’asshabirin, Allah melihat kamu sedang berjuang. Kamu tak sendirian.. tetaplah semangat hingga hasil memuaskan berhasil kau raih dengan usahamu sendiri :’)
#8 Replika dari penulisan tugas akhir di semester akhir kelak
Bagi mereka yang baru saja menyelesaikan SKRIPSI, bisa jadi mengerjakan laporan praktikum sungguh tak ada apa-apanya dibanding apa yang baru saja mereka selesaikan. Maka jangan merasa seolah “diri ini yang paling besar cobaannya.. dan membiarkan semua orang tahu betapa –tersiksanya dirimu-, melalui akun socmed yang kau miliki”. Mengeluh dan menyerah adalah dua hal yang sering menyerang mahasiswa, tapi aku yakin kamu pasti bisa menghadapinya. Revisi laporan lab/praktikum yang kini dilakukan, bisa dianalogikan sebagai SKRIPSI yang kelak akan kita susun. Asisten lab yang kini memberi revisi bisa dianalogikan sebagai dosen pembimbing. Sang pemberi revisi juga bukan orang yang sempurna.. bukan  orang yang tahu semuanya.. mereka juga ‘lupa’ jika tak rajin membaca.  Maka.. kebal-lah akan sifat beberapa pemberi revisi: yang terkesan kurang teliti.. misal, ada “part of lab report” yang hari ini tidak dikomentari.. ehh next meeting malah dipermasalahkan. Ingat bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang juga berusaha memberikan yang terbaik. Bisa jadi kesibukan dan faktor x membuatnya menjadi kurang maksimal memberi perbaikan dalam waktu yang sangat singkat, apalagi dalam 1x asistensi= seorang asisten mesti menangani lebih dari 5 orang sekaligus. Hal yang terpenting adalah… menganggap kejadian tersebut sebagai suatu hal positif yang senantiasa membuat kita harus ber-husnudzhan kepada Allah.. juga kepada pemberi revisi. #1 Bisa jadi kalo kemarin bab ini direvisi, aku tak sempat memperbaikinya dan asistensi lagi hari ini #2 Kalo bapak/kakak/ibu tidak mengoreksinya sekarang, boleh jadi saya bakalan jadi K.O saat persentasi laporan nanti. Serta beragam alasan lainnya yang membuatmu mampu bertahan, bersemangat, dan ber-positif thinking, serta ber-pindah dari area Galau-mu. Jika Tuhan masih memberi kesempatan untuk memperbaiki, maka mengapa memilih mengeluh? : ) Profesionalisme mereka (red: para asisten) memang senantiasa dituntut MODE ON. Jika mereka pernah kau dapati kurang maksimal, maka ketahuilah sesungguhnya mereka senantiasa berjuang untuk menebus kekurangannya, untuk mampu maksimal menangani laporan praktikum para praktikannya.
#9 Percaya diri
 Sc.pic
Hm.. dua kata ini begitu penting. Kata kunci dari uraian yang saya bagikan kali ini. Kesimpulan yang melingkupi semuanya hehehehehe.. Ingat! Bahwa hingga terjatuh dititik terbawah pun.. jangan sampai membuat kita menyimpang dari jalan yang lurus. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Allah tak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Petikan ayat terakhir di surah Al-Baqarah tersebut, layaknya menjadi satu motivasi yang membuat kita tetap semangat dan percaya diri bahwa kalo orang lain bisa mengapa saya tidak? Kita mungkin butuh membaca berulang kali untuk menemukan sebuah jawaban, yang bagi beberapa orang membaca satu kali pun sudah cukup. Jangan bersedih serta menyalahkan diri dan keadaaan, pikirkanlah bahwa bisa jadi.. mungkin dengan cara demikian Allah menyelamatkan kita dari bad habit yakni, menyontek. Percaya akan kemampuan diri.. bahwa tanpa menyontek pun kita pasti bisa… bisa, bisa, insyaa Allah bisa.

Well… ini cuman sedikit hal yang ingin saya bagikan.. bahwa betapa keluh kesah mengerjakan laporan yang dianggap sudah teramat berat, boleh jadi tak ada apa-apanya bagi teman seperjuangan kita yang tengah menuntut ilmu di pulau Jawa.. Tentu persaingan menjadi sangat ketat mengingat kampus-kampus terbaik kebanyakan ada di pulau Jawa.
Sahabatku.. adikku..
Mana senyum manismu? Mana mata berbinar penuh percaya diri? Apa semangatmu hanya sampai disini..? tak mengapa jika peluh berjatuhan.. tak mengapa jika butiran air mata sempat menetes. Anda sedang berjuang untuk mencerdaskan diri.. untuk kebaikan diri anda sendiri..untuk bangsa ini kelak.. bukan untuk sang pemberi revisi, bukan sama sekali. Maka apa lagi yang anda keluhkan? Perkuat hubungan dengan-Nya, dan teruskan perjuangan. You’re smarther than you think..(winnie the pooh) Insya Allah kamu pasti bisa ^_^

#ODOPBatch2

#NebusPosting_Hari9_pekankedua

5 komentar: