Kamis, 14 April 2016

Jakarta: sederet rayuan dan pelajaran

Jakarta menawarkan segudang pilihan tempat bagi seseorang yang berniat untuk berbelanja.
Di jakarta pusat, kamu akan menemui banyak Mall yang letaknya tidak begitu berjauhan dengan formasi gedung yang masya Allah luasnya. Hal ini membuat seorang pendatang menjadi bingung, ingin berbelanja kemana? Begitu banyak pilihan. Tentu seorang pendatang yang niat belanja baju nih, pasti maunya dapat banyak baju dengan harga yang tidak begitu mahal. Loh, emang ada yah tempat kaya gitu di ibu kota?
Tentu saja ada ^^v. Kebanyakan orang pasti bakal merekomendasikan kawasan Tanah abang menjadi tempat untuk berbelanja kebutuhan sandang. Kata mereka sih harganya murah-murah. Well.. anggapan tersebut emang bener geng. Bahkan aku stay di Tangerang pun, si Ibu tetap merekomendasikan tabang buat jadi destinasti belanja murah meriah. Kata Paman I, pendatang yang masuk tabang tuh bagaikan bebek yang masuk comberan. Hahahaha… semua muanya pengen aja dibeli saking murahnya.
Aku meninggalkan rumah bersama Ibu (panggilanku untuk istri paman I) menuju tabang sekitar pukul 9 a.m. Mula-mula kami menumpangi  angkot, kemudian berpindah pada bus ber-AC dengan tarif 8K/kepala. Tapi bisa juga memilih menaiki bus yang tidak ber-AC, kalo nggak salah tarifnya kisaran 5-6K/kepala. Bus tersebut akan mengantarkan kami ke kawasan Slipi. Ternyata jam 9 pagi sudah sangat padat untuk area Jakarta deket-deket Tangerang yah x_X . Beruntung bus yang aku tumpangi tidak melalui jalan raya yang kena macet. Setelah tiba di kawasan Slipi, nyambung lagi naik angkot jurusan Tanah Abang. Dan finally sampai juga kami di kawasan Tanah Abang.
kemacetan di kaki sang pencakar langit
Aku tidak menghabiskan waktu begitu lama di tabang. Aku hanya sempat berbelanja beberapa pakaian untuk kedua adik ku (Alhamdulillah dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau :). Selanjutnya kami mencoba berpindah ke gedung Metro (masih deket kawasan Tanah Abang). Buat kamu yang mau belanja grosiran, Metro adalah tempat yang direkomendasikan. Kalo beli eceran, baiknya beli di Tanah abang saja. Di Metro tersedia banyaaaaaaak sekali jenis pakaian: gamis, hijab, rok, etc, dengan harga yang murah meriah. Dan meskipun harganya murah, kualitas nya tidak murahan. Harga tak lebih dari 100K, aku sudah bisa memperoleh 1 gamis dengan bahan tebal tidak menerawang. Tentunya seseorang tidak akan ragu dong buat beli grosiran, dengan kualitas seperti itu?  Berbelanja di kawasan Tanah abang kamu ga perlu takut kepanasan, soalnya ada AC-nya sih ^_^ Nah kalo sudah kayak gini, seseorang yang gak bisa mengendalikan diri bakal menyerupai bebek masuk comberan :’) huhuhu.. semoga kita terjaga dari perilaku berlebih-lebihan dalam berpakaian, khususnya muslimah.. hehe.. Ga papa kita asyik berbelanja, mungkin emang fitrah nya ya wanita selalu ingin terlihat cantik. Asal jangan lupa satu hal, kecantikan hakiki dimata Allah adalah ketaatan. Semoga cantik lahiriah senantiasa sejalan dengan kecantikan batiniah :)
Aku mencari baju batik buat bapak ku. Namun tidak ada yang menarik hatiku disini (Metro) hehe. Finally ibu pun membawaku melaju menuju Thamrin city, sebuah gedung elit (business dan perbelanjaan) yang menjulang tinggi hingga lantai 6. Hanya butuh naik 1x angkot dalam waktu kurang lebih 5 menit, untuk tiba di Thamrin city. Well.. kami memulai perjalanan di lantai 5 mall ini. Aku pun disuguhi pemandangan yang sama dengan yang ada di kawasan Tanah abang. Meski ku akui pada beberapa jenis pakaian seperti gamis harian dan rok payung, variasi jauh lebih banyak
di kawasan Tanah Abang. Selain itu kalau ditilik dari segi harga, beberapa jenis pakaian jauh lebih mahal *mungkin beda sekitar 30K* dibandingkan dengan pakaian yang sama persis di Tanah Abang. Tenang saja.. meskipun harganya terasa agak tinggi, kamu tetap bisa menawar kok. Tapi ada juga pakaian yang harganya emang jauh lebih tinggi dengan kualitas yang memang bagus. Salah satu contohnya adalah gamis pesta, harganya ada yang sampai mencapai lebih 600K loh.
Adapun untuk batik, lantai 1 dan lantai D mall ini bisa dikatakan pusatnya batik. Aku menjumpai beragam pilihan batik dari kualitas yang biasa saja hingga kualitas yang jauh lebih baik bahkan yang sangat baik, tentu dengan harga yang beragam mulai dari 100K, sekitar 130K hingga lebih 500K. Itupun harga masih bisa nego loh, apalagi kalau beli banyak hehehehe…. Pokoknya yang mau nyari batik, aku rekomendasiin lantai dasar Thamrin city deh buat shopping. Tetap ingat untuk mengontrol nafsu belanja yaa gengs hehehe
Gak terasa waktu mulai mencapai sore.. pegal juga ini betis. Kami bergegas pulang meninggalkan kawasan Thamrin city, dengan melalui jalur balik pada jalan yang kami lalui saat meninggalkan rumah. Saat keluar dari mall, hawa-hawa kemacetan rupanya telah menderaku. Beruntung saat itu belum terlalu sore, jadinya kemacetan tidak terlalu parah. Setelah tiba di Slipi, aku dan ibu menyebrangi jalan besar Jakarta untuk menunggui bus yang akan mengantarkan kami kembali ke Tangerang. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk menunggu bus kami. Finally yang dinanti datang juga.. Alhamdulillah saat itu kondisi bus nggak penuh, jadinya aku dan ibu dapat kursi buat duduk. Saat aku sudah mengambil posisi pw ku. Aku lalu melihat bahwa di dalam bus ini sudah ada dua anak kecil dan seorang bapak tua bertongkat, yang tengah berdiri. Sepertinya mereka akan mulai beraksi sebentar lagi. Saat bus mulai melaju, kedua anak kira-kira berusia SD kelas VI mulai melantunkan beberapa lagu. Satu anak bernyanyi sambil memainkan gitar mini, sedangkan anak yang satunya menyusuri lorong kecil bus dari baris depan hingga baris belakang, sambil menyodorkan amplop kecil. Aha! Aku tau maksudnya, mungkin ini yang namanya ngamen di dalam bus. Sesaat setelah  mereka bernyanyi dan mengumpulkan amplop kami  (entah berisi uang atau tidak) kembali, kakek tua pun mulai beraksi. Kakek ini kelihatannya sudah berusia sangat lanjut, ia bertongkat dan mulai bercerita tentang sejarah Indonesia. Setelah menyapa para penumpang bus, Mula-mula ia bercerita tentang sejarah Indonesia dengan bahasa Inggris. Setelah mengucapkan beberapa kalimat, ia lalu menerjemahkan apa yang tadi dikatakannya dalam bahasa Indonesia.  Hal tersebut berulang, begitu seterusnya. Beliau menceritakannya dengan lengkap, dan penuh semangat yang menggebu-gebu mulai dari R.A Kartini hingga Budi Utomo, aku menduga ia seorang vetran :’ ( dan kalau ini benar.. aku sungguh miris melihat nasib pejuang negeriku ini. Tapi aku bangga padanya.. meskipun sudah renta, ia masih menyebarkan sejarah bangsa ini kepada generasi muda.. meskipun dengan cara seperti ini. : ) Mungkin ia bercerita sekitar 30 menit. Setelah itu, ia mengeluarkan pembungkus snack dari saku celananya. Nampaknya kemasan snack tersebut sudah sering digunakan, terlihat dari bentuknya yang sudah dihiasi tumpukan lipatan-lipatan. Dengan bahasa sopan, beliau bermaksud memohon seikhlasnya kepada para penumpang untuk menyisihkan infak seikhlasnya. Masyaa Allah.. mungkin ini cara beliau untuk bertahan hidup. Semoga Allah senantiasa menjaganya, melancarkan rezekinya, dan membahagiakannya hingga kelak berjumpa dengan-Nya, Aamiin.
Adik pengamen dan kakek renta tadi hanyalah dua contoh nyata yang aku deskripsikan. Ketika bus berhenti di area kebon jeruk, seorang bapak menaiki bus dan menawarkan lampu LED kepada para penumpang. Ada juga penjual kanebo beragam warna, dan penjual asongan. Semuanya berlalu lalang dengan suara nyaring, menyusuri lorong sempit bus yang ku tumpangi. “.. seperti ini ya rasanya naik bus” gumamku dalam hati.
Ini adalah sebagian kecil pemandangan nyata yang sempat membasahi sudut-sudut mata. Menyadarkan mereka yang mudah tersentuh hatinya, bahwa hidup kita jauh lebih beruntung dari mereka. Mereka adalah pelajaran nyata yang langsung Tuhan berikan, di depan kedua mata kita. Bahwa untuk bersyukur akan perkara dunia, kita harus senantiasa melihat orang-orang dibawah kita. Hal ini juga pernah disabdakan oleh Rasul yang mulia, 

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Lihatkah siapa yang berada dibawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Sebab yang demikian lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah Ta'ala atas kalian". (Muttafaq Alaihi).

Pemandangan yang mengajarkan untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar, untuk mau berbagi kepada makhluk Allah.. para saudara kita, yang kondisinya tidak senyaman kita. :”) Maha suci Allah.. yang menghendaki hati-hati kita, untuk tidak mati akan beragam pelajaran yang terjadi disekitar kita. Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah, untuk mampu melakukan dan menyebar banyak kebaikan serta rahmat dibumi-Nya, Aamiin. Tetap semangat yah kawan-kawanku :’)
Berbicara soal Mall, Tangerang juga punya destinasi seperti Lippo Karawaci ataupun Summarecon Mal Serpong (SMS). SMS merupakan destinasi yang terbilang baru. Saat pertama kali menginjakkan kaki disana, kamu akan disuguhi oleh pohon-pohon rindang. Hm.. sepertinya mall ini berbasis taman deh. Belum lagi  pemandangan taman ikan mas yang cukup besar, pengurus SMS-yang bertugas mengizinkan para pengunjung untuk memberi makan ikan tersebut pada jam-jam tertentu. Saat melaju masuk lebih jauh, kamu akan disuguhi beragam tempat makan.. ini masih di luar mal loh. Kamu akan menemukan banyaaaaak tempat makan yang berjejer, mulai yang didesain tradisional hingga modern. Dan di tengah-tengahnya kamu akan menjumpai panggung live music (hanya ada saat malam hari). Sekali lagi ini baru di luar mal :) kebayang kan gimana luasnya mal ini? Hehehe.. sayangnya aku gak sempat keliling didalamnya. Aku hanya sempat berjalan-jalan di lantai satu. Melihat beberapa barang yang sempat sale ^^ hm.. bagaimanapun singkatnya, ini sudah membuka lagi wawasan ku tentang  Tangerang, Indonesia : )
Gak butuh waktu lebih dari sejam, kami bergegas meninggalkan SMS for having lunch dan prepare ke Halim Perdanakusuma. Seminggu rasanya kurang lama untuk meng-eksplor kota besar ini. Tapi aku harus pulang, karena begitu banyak agenda yang harus aku selesaikan. Dan cerita seminggu ini pun membuatku untuk senantiasa bersyukur, bahwa bukan hanya bahagia yang tertoreh tapi ada hikmah yang Allah selipkan disetiap tawa bahagia.

Jakarta tidak selalu menyajikan senyuman yang sama pada setiap wajah
Aku tertegun pada bocah belia yang berjuang ditengah teriknya hari
Serta lelaki renta yang masih harus berjuang dengan kedua kakinya
Demi sesuap nasi saja untuk hari ini, atau bahkan mungkin untuk sanak keluarganya
Pemandangan yang begitu ramai dibalik ratusan bangunan megah
Semoga kami dapat berjuang menjadi sebaik-baiknya calon penerus bangsa
Agar rona sayu mereka, dapat terganti dengan senyuman bahagia tanpa air mata lelah

#ODOPBatch2
#Tulisanke25_Pekanke7_bulanke2
#nebus_utang

2 komentar:

  1. Seruu cerita perjalanannya, memberikan banyak pelajaran ya

    BalasHapus