Jumat, 15 April 2016

Ketika Lidah Bertolak dari Kebiasaannya


Well Readers… aku harap kamu belum bosan untuk  menerima segelintir hikmah dari kisahku dengan setting yang sama yaa ‘tuk pekan ini ^^ Masih tentang setting cerita yang sama hehe.. Berada di pulau Jawa khususnya di ibu kota, mau tidak mau akan membuatmu terbiasa dengan logat bicara mereka yang khas. Itu… seperti yang seringkali kita lihat pada sinetron beribu episode di layar kaca.
Hal ini juga menimpaku, anak Sulawesi yang memulai awal pekannya di Ibu kota. Artikel tambahan dalam pengucapan sehari-hariku di Makassar seperti –mi, -ji, -ki, harus aku hilangkan atau paling tidak diminimalkan untuk beberapa waktu. Mendadak harus berbicara ala-ala pemain sinetron, kala bertemu teman yang berasal dari area Jawa, bertemu penjual, bertemu office girl, bertemu driver gojek, bertemu pemilik warung, dan lain-lain. Kalo tidak, kamu akan mendapati kening mereka mulai berkerut karena kebingungan. Ahh.. betapa Indonesia begitu kaya. Ini baru dialek Makassar, belum dari daerah lainnya ^^ Maha Suci Allah yang menciptakan beragam ratusan cara berkomunikasi di negeriku tercinta, Indonesia:’)
Sejujurnya saya agak kurang paham juga. Beberapa finalis seperti tidak percaya bahwa saya asli Sulawesi. Mereka merasa.. cara dan nada bicaraku seperti menepis kenyataan yang ada TT__TT Dan pada akhirnya mereka pun membuat guyonan, dengan menyebutku putri “Solowesi” not “Sulawesi” wkwkwk…. Beberapa orang pada awalnya mungkin akan merasa sulit. Namun mindset untuk terus mencoba akan membuat keadaan yang dirasa sulit pada akhirnya terasa biasa saja, dan realita pun  membuktikan bahwa “kita bisa”. Pada awal-awal belajar dialek ibu kota, tak jarang aku mengucapkan kalimat yang justru ditertawakan banyak orang. Mungkin penempatan kata yang merubah arti, yang bagi mereka itu sesuatu yang tidak pas. Minder? Hm.. iya sedikit. Tapi aku gak mau kalo minder justru bikin aku gak bisa berteman dengan banyak orang karena terkendala bahasa, seperti bayi kecil yang sedang belajar berjalan, pada akhirnya ia mampu berjalan meskipun harus terjatuh berkali-kali. Begitupun aku.. lidah yang tadinya terbata-bata, pada akhirnya malah ga bisa di-rem buat berhenti bicara :’) Mungkin mindset ini juga yang membuatku mampu untuk bertahan dengan kondisi lidah yang bertolak dari kebiasaannya selama seminggu terakhir hehe... Bertemu orang baru dengan latar yang berbeda, memberikan kita dua pilihan. Pilihannya adalah akan terus melakukan interaksi, atau memilih diam dan berkata dalam hati, “Oke. Saya tidak bisa meneruskan percakapan ini”. Padahal akan banyak hal yang diperoleh ketika kita mau mencoba berinteraksi, sekalian mempelajari tutur kata mereka. ^^ Mereka dengan senang hati pun membuka diri untuk mengetahui logat kita ^^. Apalagi ketika lawan bicara kita adalah orang-orang hebat, kita bisa mengais banyak ilmu dari mereka. Ini pun yang tekadang menggugah kita untuk belajar bahasa Inggris, salah satu tujuannya yakni agar bisa menimba ilmu di luar negeri.. tempat para cendekia hebat berkumpul di satu tempat.
Hampir seminggu berada di kota orang, lidah ini nampaknya sudah terbiasa. Terbiasa untuk menerima cerita dari mereka para orang-orang hebat, serta adik-adik yang dengan izin Allah.. akhirnya dapat ku sentuh hatinya. Kemauan untuk berkompromi sedikit, terkadang membuat kita berada di lingkaran kebaikan yang tidak pernah kita duga. Saya ingin berbagi satu pelajaran berharga yakni, ketika aku mencoba berinteraksi dengan seorang adik berusia 17 tahun, yang sangat kental logat Sunda-nya. Dia begitu kebingungan dengan dialek daerah asalku. Pada akhirnya aku mengalah, dan mencoba menggunakan logat ibu kota untuk berbicara dengan-nya.. setiap hari. Kadang-kadang dia juga bertanya-tanya tentang dialek Makassar, dan aku dengan senang hati mengajarkannya. Lewat percakapan, akhirnya persahabatan dapat diciptakan.
Maha Suci Allah.. yang meridhoi, yang mengizinkan, yang menghendaki ku berbagi kebaikan dengan orang lain (semoga Allah menjaga saya dari Riya’).  Dia adalah wanita yang baru saja lulus dari bangku sekolah, darinya aku mendengar latar belakang hidupnya yang membuat aku bersyukur akan hidupku saat ini. Bahwa terkadang untuk dapat hidup normal dan nyaman, seseorang justru harus melalui banyak perjuangan :’) Sempat mengenyam pendidikan di pesantren, si adik membuatku nyambung ketika membahas persoalan agama dengannya. Kami berbagi.. berbagi cerita dan bertukar pendapat, salah satu topik yang kami bicarakan adalah tentang Hijab; fungsi hijab, siapa saja yang dapat melihat rambut atau aurat seorang wanita; dan bagaimana Allah memuliakan wanita dengan hijabnya. Aku menyadari bahwa dirinya masih berada pada gejolak labil-fluktuasi sikap, mungkin masih mencari jati diri. Tapi aku bersyukur… hingga akhirnya,, mungkin melalui percakapan itu.. Allah mengetuk hatinya untuk mulai belajar memakai hijab. Terkadang ia bertanya tentang beberapa model hijab (lumrah wanita ingin terlihat indah :’) Aku pun mengambil kesempatan untuk mengajarkannya beberapa model hijab namun tetap menutup dada (khimar). Melihatnya, seperti melihat diriku dimasa lalu.. keadaan ku hari ini tidak lepas dari campur tangan Allah melalui lisan para saudari seiman yang peduli. Dulunya aku sangat akrab dengan kain segi empat nan transparan, mungkin tidak mengapa untuk mengajarkannya sedikit demi sedikit.. hingga suatu hari nanti, dia akan mengenakan jilbab yang sebenarnya :’) Pada saat-saat terakhir sebelum aku meninggalkan pulau ini, aku melihatnya memakai hijabnya walau sekedar untuk bercengkrama dengan wanita-wanita komplek. Masyaa Allah.. tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah berkehendak, semoga saudari kita ini.. senantiasa diistiqamahkan Allah untuk mengenakan hijab nya aamiin.
dreamstime.com
Tak dapat dibayangkan jika kita lebih memilih menutup diri, kehidupan ini terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Allah menyajikan beragam pelajaran disekitar kita, jika kita mau mengambil pelajaran. Semoga kita senantiasa seperti kucing kelaparan, dalam belajar. Kucing kelaparan begitu peka dan tak pernah mau melewatkan area yang menjadi targetnya, meskipun harus dipukuli sapu lidi-sendal-etc =_+ *waduh kasian banget si kucing garong*. Dengan penuh kegigihan, si kucing akan terus mengincar ikan sasarannya meskipun harus memelas tiada henti kepada sang pemilik mangsa. Begitupun kebaikan, semoga kita menjadi pribadi yang peka untuk terus mengais hikmah lewat sejuta peristiwa yang Allah tawarkan didepan mata. Senantiasa merasa ada yang kurang, jikalau melewatkan satu hari tanpa belajar apa-apa untuk diperbaiki dihari berikutnya. Banyak sekali pelajaran dari setiap kejadian seperti: kemacetan, ga lulus seleksi lomba, bertemu pengemis, mengalah kepada yang tua, bersikap kepada yang lebih muda, etc. Sudahkah menemukan pelajaranmu hari ini kawan? Yuk, meminimalisir buruk sangka, menggiringnya menjadi pikiran positif dalam ranah wajarnya, dan mengubahnya menjadi satu pelajaran berharga untuk direnungi hari ini.

Semoga hati-hati kita senantiasa dimudahkan Allah untuk mengambil pelajaran dan senantiasa memperbaiki diri setiap waktu ^^ Antusias mempelajari budaya orang lain menunjukkan bahwa diri ini terbuka dan mudah untuk beradaptasi. Semoga ini tidak menumbuhkan arogansi, tapi melahirkan kebaikan untuk dibagi dengan banyak orang banyak, yang juga berimbas pada diri sendiri. ^^

#ODOPBatch2
#Tulisanke27_Pekanke7_bulanke2
#tugas_analogi2_
*really short analogy's caption . teman2 pada nemu nggak? ^^

5 komentar:

  1. Aku mb. Brrkumpul setiap hari sama orang b#t## Dan p*d**g. Tapi masih tetap nggak ngerti

    BalasHapus
  2. g papa mbak.. enjoy the process aja hehehehe...aku juga gitu sih jhehe ^^ yg penting komunikasi dan silaturrahmi ttap jalan :)

    BalasHapus
  3. aku lama tinggal di sunda, logat jawaku kim ilang

    BalasHapus
  4. aku lama tinggal di sunda, logat jawaku kim ilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah.. lingkungan memberikan perubahan pada hidup mbak lisa :) kalo logat sunda nya gimana mbak? :)

      Hapus