Selasa, 06 September 2016

Kapal Ferry Sewol, Pengingat Kematian yang Tak terdeteksi Akal

23thof May 2016



Baru-baru ini saya sering berselancar di youtube. Hingga akhirnya “satu video”, membuatku mengingat kembali kejadian tragis yang terjadi di Korea selatan, dua tahun silam. Pada tanggal 16 April 2014, Kapal feri Sewol yang mengangkut lebih dari 300 penumpang, tenggelam saat perjalanannya menuju pulau Jeju. Setahu saya.. lebih dari setengah jumlah penumpang yang menjadi korban, dan didominasi oleh siswa sekolah menengah atas. Aku hanya ingat itu. Dan entah mengapa… hal ini membuatku ingin mencari tahu lebih jauh tentang kecelakaan kapal feri Sewol.

dokumentasi ketika badan sewol hampir tenggelam seluruhnya T.T
(japantimes.co.jp)

Aku membaca banyak artikel, dan menonton beberapa video terkait. Dari sejumlah video yang aku tonton, aku menonton satu video berdurasi kurang lebih 20 menit. Video itu direkam oleh siswa yang menjadi korban kapal. Selama  20 menit itu… mereka masih bertahan di dorm mereka masing-masing. Ada yang sempat bercanda seolah kondisi mereka mirip insiden kecelakaan kapal Titanic, ada yang mengambil foto, dan membuat video untuk orang tua mereka. Namun diawal 20 menit itu.. mereka tidak menyadari bahwa kondisi mereka akan menjadi begitu membahayakan. Padahal saat itu, kapal telah menabrak karang. Salah satu alasan mereka bertahan di kamar masing-masing adalah.. karena awak kapal menyampaikan via speaker, “don’t move.. tetap berada di tempatmu”. Mereka pun tak punya pilihan selain mendengarkan instruksi. Para siswa baru menyadari kejanggalan kapal disaat-saat terakhir dalam kisaran waktu 20 menit itu, dan bergegas menyelamatkan diri berbekal kekompakan mereka satu sama lain. Parahnya lagi… sang kapten dan beberapa awak kapal bahkan menyelamatkan dirinya sendiri, dengan cara melompat dari kapal menuju kapal penyelamat. Banyak warga yang menganggap tindakan ini, sangat mementingkan diri sendiri dibandingkan keselamatan ratusan penumpangnya. Siapa yang menduga.. itu adalah moment terakhir para siswa berkomunikasi dengan keluarga mereka. Bahkan 2 tahun pasca tenggelam, masih ada beberapa siswa yang belum ditemukan.. kapal nya pun belum juga diangkut ke daratan disebabkan bobotnya yang begitu besar. Aku lalu berpikir, kalau saja awak kapal segera mengambil tindakan kala menyadari kapal menabrak karang… bukan tidak mungkin, akan banyak penumpang yang akan selamat. Namun… bagaimanapun ini adalah ketetapan Allah, rasanya keliru jika kita berandai-andai :’’ Hal yang pasti, bahwa kejadian ini melahirkan begitu banyak pelajaran bukan hanya bagi warga Korea, namun juga warga dunia.

orang tua korban yang tak henti berdoa
(latimes.com)

Hatiku seolah ikut meresapi kepedihan yang dirasakan ratusan orang tua siswa, yang buah hatinya menjadi korban kecelakaan kapal ini. Kapal yang tenggelam dipagi hari, kala mentari menyinari bumi. Aku menyaksikan tangisan mereka, melihat raut wajah yang begitu terpukul. Ya.. mereka tertunduk, berharap bertemu kembali anak mereka. Mereka mengumpulkan asa di pelabuhan Jindo.. lokasi yang sangat dekat dari pulau Jeju, tujuan studi wisata para korban.

pita kuning dan perahu kuning menjadi tanda duka warga korea
(says.com)

Mataku lalu tertuju pada beberapa artikel yang mampu membuat mataku berkaca-kaca, “Pesan mengharukan korban kapal Sewol”. Oh God.. pada artikel tersebut, aku membaca ungkapan salah satu pesan seorang siswa kepada ibunya. Kurang lebih isi pesan tersebut seperti ini, “Ibu mungkin aku tak bisa mengungkapkan langsung. Aku cinta padamu”. Ga tau kenapa, dengan membaca dan mengkroscek kembali kejadian ini.. justru bikin aku berpikir tentang kematian. Kematian.. yang tidak diketahui kapan datangnya, dimana tempatnya, dan dalam moment seperti apa. Sontak aku berpikir.. apa jadinya jika takdir membuatku lebih dahulu kembali kepada-Nya, dibandingkan orang-orang yang aku cintai. Sebab kematian tidak mengenal usia. Hal ini sontak membuatku banjir air mata, membuatku memikirkan.. hal-hal apa saja yang telah kulakukan.. yang kiranya dapat menaikkan jumlah kebaikanku dihadapan-Nya, yang kiranya membuat-Nya ridho aku kembali dalam keadaan yang baik. Aku pun tak lepas memikirkan, bagaimana kondisi keluarga dekatku.. jika aku berpulang lebih dahulu? Ahh.. tangisku makin deras saja. Aku bahkan belum pernah bilang cinta kepada ibu dan bapak secara langsung, meskipun ku sadari didasar hatiku.. aku begitu mencintai mereka.

Hatiku yang tergerakkan untuk membaca lebih jauh tentang kecelakaan kapal ferry Sewol, tentunya dalam pengetahuan-Nya, dengan izin-Nya. Lantas bertanya.. mengapa Allah ridhoi aku menjelajahi lebih jauh kecelakaan ini dari satu video ke video lainnya..? dari satu artikel ke artikel lainnya? 

Semua ini menjadi moment yang menyadarkanku kembali.. untuk lebih banyak menabur cinta kepada orang-orang terdekat, lalu kepada mereka yang dianggap “terdekat” diluar sana. Sebab waktu masih dalam genggaman, sebab usia masih dikehendaki-Nya.. untuk kiranya berguna mengais pahala  lewat kebajikan yang senantiasa mengalir kepada kedua orang tua di rumah.


Kematian memang hal yang paling dekat kepada manusia, sebagai pengingat akan timing-nya yang begitu rahasia. Agar kita bisa was-was, senantiasa berusaha menyibukkan diri dengan kebaikan.. agar kelak bertemu dengan malaikat maut dalam keadaan baik dan menghadap Allah dalam keadaan dipenuhi rahmat-Nya, aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar